Deddy Huang
Deddy Huang Blogger. Traveller. Freelancer.

I am a traveller, storyteller and blogger who loves different cultures and heritage. I love to share about all the magnificent and beautiful destinations in the world. Visit my travel blog at https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

Berbelanja ke "Tanah Abangnya" Palembang

9 Juni 2018   14:14 Diperbarui: 10 Juni 2018   22:20 2725 9 6
Berbelanja ke "Tanah Abangnya" Palembang
Pasar 16 ilir Palembang (sumber : akuliburan.com)

Bunyi klakson seolah tidak mau saling mengalah, disusul kemudian teriakan khas suara penjual dari sisi kiri dan kanan terus memanggil orang-orang yang melintas di depan mereka. Bagi pejalan kaki, dituntut untuk tetap waspada karena ruas jalan juga berbagi dengan kendaraan lain. Namun, ketika kalian sudah menginjakkan kaki ke kawasan pasar tradisional 16 ilir di Palembang dijamin kalian akan ketagihan. 

"Masuk lah kak, cari apo kak.. mampir sini. Lihat-lihat dulu boleh!"

"Tigo sepuluh tigo sepuluh, ayuk mampir nah tigo sepuluh celano dalem."

"Manis.. jeruk manis.. ado mangga ado jeruk manis yuk. Idak manis balikin lagi. Tapi aku udah balik."

Berbagai macam nada teriakan khas penjual di kawasan pasar tradisional yang sudah ada sejak saya lahir ini memang unik. Panas terik seolah sudah kebal di kulit mereka. Kadang handuk kecil menjadi penutup kepala mereka dari sengatan matahari di kala siang.

Pasar 16 Ilir Palembang

Suasana padat di pasar 16 ilir
Suasana padat di pasar 16 ilir
Apabila saya sedang suntuk dan ingin mencari suasana baru, biasanya saya akan naik angkot atau ojek online untuk pergi ke kawasan Pasar 16 ilir. Kawasan ini berlokasi persis di pinggir Sungai Musi. Sebagai bangunan bersejarah, pasar 16 ilir tetap bertahan hingga sekarang sebagai salah satu tujuan wisata belanja bagi masyarakat Sumatra Selatan.

Bukan hanya wisatawan saja yang datang berbelanja ke pasar 16 ilir, melainkan orang-orang daerah luar Palembang biasanya akan datang ke sini untuk membeli barang grosir. Pasar 16 ilir memang dikenal sebagai "Tanah Abang" sebab sebagian penjual memang mengambil barang dari Tanah Abang, kemudian dijual kembali untuk orang-orang daerah Palembang.

Keberadaannya sudah ada sejak tahun 1821 silam saat Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang Darussalam kemudian menjadikan kawasan perekonomian di kawasan ini dulunya. Maka, bagi kalian yang ingin pelesiran melihat sisa bangunan kolonial lama bisa melipir melihat bangunan pertokoan di sepanjang tepian Sungai Tengkuruk, sungai yang bermuara ke Sungai Musi.

Bangunan pasar terdiri dari 4 lantai, lantai dasar tempat menjual berbagai perhiasan, suvenir dan kain. Lantai kedua menjual bebagai produk fashion grosir mulai dari pakaian anak anak remaja dan pakain sekolah. 

Lantai ketiga juga menjual grosir produk fashion seperti tas, sepatu, dompet aneka jilbab. Dan terakhir lantai keempat digunakan untuk menjual barang fashion bekas (BJ) atau burukan Jambi. Selain itu, di luar pasar juga sudah dipenuhi oleh para penjual kelontongan dan kebutuhan sehari hari seperti ikan dan sayuran. Salah satu ikon kota Palembang ini menjadi pasar terbesar dan teramai pertama setelah Pasar Cinde yang sekarang sudah tinggal kenangan karena dihancurkan.

Jantung ekonomi Kota Palembang

Para penjual pakaian di pasar 16 ilir
Para penjual pakaian di pasar 16 ilir
Aroma kemacetan dan keramaian sudah bisa dirasakan setiap hari mulai dari jam 07.00 pagi hingga pukul 16.00. Menjelang Ramadhan, volume penjualan bisa meningkat dan kadang para penjual bisa melayani sampai pukul 21.00 malam. 

Dua hari lalu, salah satu teman saya dari Pendopo ke Palembang hanya untuk berbelanja pesanan tetangganya. Teman saya ini biasanya akan memborong grosiran perabotan rumah tangga yang menjadi barang kreditan di kampung. 

Kualitas barang yang dijual di Pasar 16 ilir sesuai harga. Dari harga paling murah berkisar Rp 50.000 hingga jutaan tergantung kalian mau barang yang asli atau KW. Dan hal terpenting saat kita berbelanja di pasar tradisional adalah seni tawar menawar yang masih bisa kalian jumpai. 

Pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli akan lebih hidup ketika ada harga yang sesuai untuk kita tawar. Maka dari itu, saya termasuk orang yang senang berkunjung ke pasar. Selain bisa mendapatkan barang dengan harga murah, saya juga bisa mengenal karakter warga lokal. Seru!

Tips berbelanja seru di Pasar 16 Ilir

Tips berbelanja di Pasar 16 ilir Palembang (sumber : sripoku.com)
Tips berbelanja di Pasar 16 ilir Palembang (sumber : sripoku.com)

Saya ingin membagikan beberapa tips apabila kalian hendak berbelanja di Pasar 16 ilir ini. Ada rasa puas saat bisa mendapat barang bagus dengan harga miring. Apalagi bagi kalian yang baru mendapat THR pastinya ingin mendapatkan banyak barang dengan harga yang ramah di kantong. Tips berikut ini boleh kalian terapkan ya! 

1. Tegas dengan uang yang kalian bawa 
Waktu itu saya cuma bawa Rp 200.000 hanya ingin mencari tas dan sepatu, namun ketika saya sudah mengelilingi area gedung pasar ternyata saya tergoda untuk membeli kaos seharga Rp 25.000 yang membuat budget belanja saya bertambah. Sewaktu kalian akan ke Pasar 16 ilir pastikan kalian sudah memiliki daftar belanja yang akan dibeli, kemudian uang tunai secukupnya. Walau para penjual sekarang sudah canggih, mereka juga memiliki mesin EDC tapi jika barang yang akan dibeli bukanlah prioritas harap menahan godaan ya!

2. Pelajari skill menawar tapi tidak Afgan*
Jangan datang ke Pasar 16 ilir kalau belum ada kemampuan tawar menawar. Tawar menawar semacam seni yang bisa dilakukan secara otodidak dan menjadi kemampuan dasar bagi kalian yang senang berbelanja.

Namun kalian tidak boleh menawar secara Afgan sebab para penjual di pasar 16 ilir juga tidak mudah dirayu. Trik-trik menawar seperti pura-pura pergi supaya bisa dipanggil kembali barangkali cara lama dan mereka sudah paham. Lalu, cara terbaik adalah datang paling pagi kemudian tawar barang mereka dengan harga wajar. Biasanya mereka akan memberikan harga bersahabat, sebab bagi mereka pengunjung pertama di pagi hari adalah penglaris. "Penglaris dek, beli lah..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2