Deddy Huang
Deddy Huang Blogger. Traveller. Freelancer.

I am a traveller, storyteller and blogger who loves different cultures and heritage. I love to share about all the magnificent and beautiful destinations in the world. Visit my travel blog at https://www.deddyhuang.com

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Artikel Utama

Sebagai Nonmuslim, Bolehkah Saya Ikut Rindu Ramadan?

15 Mei 2018   23:07 Diperbarui: 17 Mei 2018   22:47 6319 59 49
Sebagai Nonmuslim, Bolehkah Saya Ikut Rindu Ramadan?
Ramadan Kareem (sumber : pixabay.com)

Suara azan bukan hal asing di telinga saya. Hampir setiap lima waktu saya mendengar lantunan indah nan merdu azan berkumandang sejak kecil. Saya bisa melihat dari dekat orang-orang sedang mengambil air wudhu untuk menyucikan diri sebelum sholat. Serta melihat saat mereka bangkit dari sujud setelah mencium sajadah. Ada desir mengalir melihat pemandangan tersebut. 

Rumah pertama saya tinggal persis di samping masjid. Saya tidak tahu apa alasan ayah saya mengontrak rumah persis di samping masjid. Tinggal dan berada di lingkungan mayoritas orang muslim membuat saya banyak belajar mengenai perbedaan dan toleransi.

Saya jadi bernostalgia dengan rumah masa kecil saya sewaktu menulis cerita ini. Tiga puluh tahun tinggal di kawasan muslim justru membuat saya belajar tentang perbedaan itu indah. Teman-teman bermain saya tentu saja tetangga saya yang mayoritas muslim. Saya sudah menganggap mereka adalah saudara, begitupun mereka terhadap saya.

Ramadan Itu Indah 

Banyak pertanyaan-pertanyaan menarik tentang bagaimana tinggal dan berbaur di lingkungan muslim bagi nonmuslim? Pertanyaan itu selalu ditanyakan ketika mereka tahu kawasan tempat tinggal saya di kawasan mayoritas muslim.

Apakah saya tidak terganggu dengan suara azan? Apalagi sewaktu subuh?

Jelas tidak. Justru lantunan suara azan yang merdu membuat saya tidur lebih tenang. Jujur, tidak ada terbesit dalam pikiran saya tentang hal tersebut mengganggu tidur.

Saya seperti berada di kawasan yang aman karena setiap 5 waktu kawasan rumah saya selalu ramai dikunjungi oleh orang yang ingin beribadah. Saya termasuk orang pagi, senang untuk bangun lebih awal. Bahkan kagum dengan mereka yang meluangkan waktu untuk menjalankan kewajiban.

Warna-warni Ramadan (sumber : pixabay.com)
Warna-warni Ramadan (sumber : pixabay.com)
Apakah pernah merasa terganggu dengan aktivitas ibadah orang muslim?

Lingkungan kerja saya lebih banyak mayoritas orang muslim. Saya telah terbiasa dengan masjid. Saat mereka sedang sholat, saya biasakan akan duduk di pelataran masjid untuk menunggu mereka selesai ibadah sambil menikmati indahnya ukiran di kubah. Saya senang mendengar tiap bunyi "Aaamiin" ibarat ada sepucuk doa indah yang berharap dapat terkabul.

Beberapa hari lalu, saya sedang makan bersama Mbak Tika. Saya bilang ke dia kalau saya rindu Ramadan. Rindu suasana Ramadan yang syahdu selama satu bulan penuh.

Suasana yang membuat saya rindu adalah para tetangga muslim di dekat rumah saya mereka sudah mulai berbenah rumah mereka. Lingkungan rumah saya penuh dengan alunan musik nasyid setiap sore. Itu yang menjadikan saya gemar duduk di teras untuk menikmati senja sambil mendengarkan musik nasyid.

5 Persiapan Ramadan Bagi Nonmuslim

Rindu Ramadan (sumber : pixabay.com)
Rindu Ramadan (sumber : pixabay.com)
Sebagai nonmuslim saya sadar penuh dengan bulan Ramadan. Teman-teman muslim saya harus berpuasa selama 30 hari dari waktunya matahari terbit hingga matahari terbenam. Nilai kebaikan Ramadan sejatinya ialah pengalaman spiritual, tentang segala hal yang bermanfaat. Apalagi bagi nonmuslim seperti saya yang ikut antusias menyambut bulan Ramadan.

Selama bulan Ramadan, saya ikut belajar mempersiapkan diri bahkan sesekali saya ikut belajar berpuasa untuk ikut merasakan pengalaman teman-teman saya yang berpuasa. Sebab selama satu bulan akan saya ikut belajar :

  1. Melihat situasi saat ingin makan dan minum di depan teman-teman yang sedang berpuasa. Walaupun hal ini tidak menjadi masalah bagi teman-teman muslim, bahkan teman kerja saya pun memahami ketika saya izin untuk makan. Toleransi adalah kuncinya.
  2. Mengerti apabila berpuasa itu melelahkan fisik. Saat ada tugas kerja saya akan menanyakan terlebih dahulu atau setidaknya saya tidak memberikan teman-teman saya pekerjaan yang terlalu menguras tenaga.
  3. Salah satu efek berpuasa adalah bau mulut. Tidak makan dan minum satu hari penuh bisa menyebabkan nafas kurang sedap. Saya memahami hal tersebut, sehingga tidak menjadi masalah bagi terkadang teman-teman saya agak sedikit lebih jauh ketika kita sedang berdikusi.
  4. Mendekati waktu berbuka puasa, biasanya saya akan ikut menemani teman-teman muslim mencari jajanan di Pasar Bedug. Biasanya banyak bermunculan penjual jajanan dadakan yang berjualan untuk menu buka puasa. Hal yang saya rindukan adalah menemukan ragit, makanan khas Palembang yang hanya ada saat bulan Ramadan.
  5. Hal yang paling saya nantikan saat Ramadan adalah buka bersama dengan teman-teman muslim. Tentunya akan menjadi kebahagian sederhana bisa ikut berbuka puasa bersama dengan mereka. Seperti berbagi rasa menahan lapar seharian kemudian membuka dengan yang manis. Rasa kekeluargaan jauh lebih erat.

Indonesia adalah multikultural. Kita tidak hidup hanya dengan satu agama saja. Apalagi dalam situasi saat ini yang berpotensi memecah belah umat beragama di Indonesia. Bulan Ramadan menjadi satu kerinduan saya untuk bisa balik lagi ke maknanya bulan Ramadan. Momen bersama juga untuk memperbaiki perilaku. Dari lubuk hati saya paling dalam, saya rindu Ramadan tahun ini.

Ngomong-ngomong, jadwal undangan buka bersama saya masih kosong lho. Ya kali aja ada yang mau ajakin buka bersama. Ha-ha-ha.

Selamat datang Ramadan.