Mohon tunggu...
Ruslan H
Ruslan H Mohon Tunggu...

Technology Enthusiast, sms : 0881-136-5932

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Salah Kaprah Tentang Penggunaan Gambar dari Google

11 Juni 2016   20:00 Diperbarui: 12 Juni 2016   22:23 948 15 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Salah Kaprah Tentang Penggunaan Gambar dari Google
Sketsa Proses Search (Dokpri)

Sering kita lihat dalam posting, salah satunya di Kompasiana ini memberikan keterangan salah kaprah. Posting tersebut dilengkapi dengan gambar. Sesuai ketentuan Kompasiana posting gambar harus dilengkapi dengan keterangan sumber gambar. Gambar tersebut dilengkapi dengan keterangan sebagai berikut: Pict by Google. Tentu saja ini salah, karena gambar yang dicari lewat search engine google itu sejatinya bukanlah milik google. Tapi milik orang lain yang masuk dalam daftar index google. 

Ketika dokumen yang mengandung gambar tersebut dilihat di komputer seseorang setelah melakukan pencarian melalui search engine google, maka orang menganggap bahwa gambar tersebut milik google. Google sendiri sudah memberi penjelasan. Misalnya kita mencari gambar tertentu, sudah diberi tulisan :"Images may be subject to copyright".

Dengan begitu banyaknya orang yang menulis keterangan gambar itu seolah olah milik google, maka diduga salah kaprah ini sudah meluas berbagai lapisan masyarakat. Sebetulnya tidaklah terlalu mengherankan, karena pemakai komputer untuk online ke internet ini juga terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. 

Kendala pertama mungkin banyak keterangan yang disampaikan hanya dalam bahasa Inggris. Seperti kita tahu banyak yang kurang fasih bahasa Inggris. Kendala kedua adalah "generation gap". Gen X, Gen Y dan Gen Z sebagian besar sejak kecil sudah biasa hidup dengan komputer. Sedangkan generasi Baby Boomer sebagian besar kurang mengerti komputer karena sewaktu kecil dan tahunnya mesin ketik.

Ketika memasuki zaman internet, maka generasi lama juga kurang memahami mekanisme kerja dari berbagai software. Biasanya generasi lama ini sudah pada posisi decision maker. Tapi karena pemahaman tentang seluk beluk internet masih kurang, maka keputusan keputusan yang diusulkan kadang kadang tidak nyambung, karena secara teknis akan timbul konflik. 

Salah satu blunder baru baru ini adalah usulan search engine google harus diblokir. Ini dikarenakan ada anggapan bahwa di google banyak gambar porno. Sesuai dengan yang dijelaskan di atas bahwa gambar gambar yang dicari dengan menggunakan search engine google itu bukanlah milik google. Tapi dokumen itu adalah milik orang lain yang kebetulan diindex oleh google.

Seperti kita ketahui berbagai search engine termasuk google itu mengindex halaman halaman web yang ada di internet. Pada masa awal munculnya world wide web, maka search engine dalam bentuk primitif adalah berupa halaman mirip katalog yang diisi oleh pemilik search engine secara manual. 

Pemilik website bisa memberikan pemberitahuan ke pemilik search engine untuk memasukkan link dari website nya. Cara kuno seperti ini jadi merepotkan seiring munculnya situs situs baru dalam jumlah sangat banyak. Cara manual tidak bisa diteruskan.

Mulai muncul cara melakukan index secara otomatis. Pengindexan otomatis ini dilakukan dengan modul untuk mengirimkan "bot" yang akan menjelajahi internet dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk ditaruh dalam repository file. Bot ini kadang disebut internet bot atau www robot. 

Secara tipikal, bot ini adalah script otomatis untuk menggantikan pekerjaan manual dahulu. Modul pengirim bot ini dinamakan crawler module. Bot yang dikirimkan crawler module ini mirip petugas sensus yang akan mendata parameter penting yang diperlukan. 

Jadi misalnya posting saya di Kompasiana ini suatu saat akan didatangi bot nya search engine sehingga bisa dicari dari search engine. Kalau posting lewat Kompasiana biasanya cepat dimasukkan index, karena search engine ini menganggap Kompasiana kredibilitasnya tinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x