Mohon tunggu...
Hanifa Paramitha
Hanifa Paramitha Mohon Tunggu... STORYTELLER

// MC -TV Host - VO Talent // Penikmat kopi hitam tanpa gula // Instagram: @hpsiswanti //

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kuncung Si Pemulung

21 Agustus 2020   20:44 Diperbarui: 21 Agustus 2020   20:39 34 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kuncung Si Pemulung
Ilustrasi pemulung remaja. (sumber gambar: azzadivasawungrana.blogspot.com)

Namaku Kuncung. Jangan pernah tanya  nama lengkapku karena aku sendiri pun tidak tahu. Yang kutahu, Emak dan Bapa hanya  memanggilku dengan satu kata itu sejak dahulu. Aku Kuncung, anak pemulung. Berkutat  dengan barang bekas dan buangan dengan aroma tak sedap sudah jadi kebiasaanku. Memulung adalah keseharianku, sampah adalah hidupku.

Matahari bersinar amat terik. Kupandangi sejenak rentetan bedeng sempit yang terletak sekitar sepuluh meter saja dari gerbang tempat pembuangan akhir tempatku berdiri. Kucoba mengatur nafas yang terengah ini. Peluh mulai bercucuran banyak di keningku.  Ah rupanya hari sudah semakin siang.

Kulangkahkan kaki perlahan sambil tetap  berusaha menopang beban di punggung. Tadinya akan kuseret saja karung ini, namun aku khawatir akan merusak isinya. Salahku juga sih  tadi nggak bawa gerobak.

Tadi pagi  Bapa hanya memintaku mengambil sampah plastik  untuk kemudian dipilah dan akan diserahkan kepada pengepul. Namun ada hal menarik yang kutemui di tumpukan sampah. Sebuah kardus besar berisi buku-buku tebal. Buku-buku ensiklopedia. Kuperhatikan ada sekitar lima belas buku beragam ukuran yang semuanya punya ketebalan sama.

"Sekalian saja kumasukkan dalam karung," ujarku dalam benak saat itu.

Sesampainya di bedeng, kulepaskan lelah dengan selonjorkan kaki dan mengibaskan tangan sebagai kipas ke arah muka. Aku bersandar pada tiang bambu yang tertancap di depan pintu. Tiang bambu yang mengibarkan bendera merah putih ini memang jadi pembeda sekaligus  penanda bedeng milik keluargaku di antara belasan bedeng yang berdempet di  sini.

"Emam heula, Cung. Tah Emak tos nyieun perkedel  jagong. Sanguna oge tos asak,"1 ucap Emak dari dalam bedeng.

"Muhun, Mak. Kela sakedap. Hareudang keneh yeuh.. Panas ngabalentrang kieu panon poe teh,"2 jawabku.

Memulung memang jadi aktivitasku setiap hari untuk membantu Bapa. Selepas lulus SMP, aku ingin meringankan beban Bapa dengan tidak melanjutkan sekolah. Aku masih bisa belajar dimana saja. Profesiku sebagai pemulung justru membuka jaringan relasi, salah satunya dengan para tukang loak. Banyak buku bekas berkualitas yang bisa kupinjam sebelum buku-buku itu diolah jadi bubur kertas.

Para pemulung kebanyakan bekerja pada sore atau malam hari. Jarang sekali yang mau terjun ke gundukan sampah pada siang hari karena panas. Namun itulah strategiku. Siang hari justru sangat sepi pesaing.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x