Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis.

Nomine Terbaik Fiksi (Penghargaan Kompasiana 2021). Peraih Artikel Terfavorit (Kompetisi Aparatur Menulis 2020). Pernah menulis opini di KompasTV. Kontributor tulisan dalam buku Pelangi Budaya dan Insan Nusantara. Enam buku antologi cerpennya: Rahimku Masih Kosong (terbaru) (Guepedia, 2021), Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (Guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (Guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (Guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (Guepedia, 2021). Satu buku antologi puisi: Coretan Sajak Si Pengarang pada Suatu Masa (Guepedia, 2021). Dua buku tip: Praktik Mudah Menulis Cerpen (Guepedia, 2021) dan Praktik Mudah Menulis Cerpen (Bagian 2) (Guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menikmati Menulis sebagai Sarana Pelampiasan Cinta

16 November 2021   22:00 Diperbarui: 16 November 2021   22:20 111 10 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi cinta, sumber: Unsplash (Tyler Nix)

Sedari kecil, sebagian kita diajarkan hal-hal baik dan benar oleh orangtua. Kesukaan orangtua -- dan kita -- semakin jadi tidak hanya karena telah tahu hal itu, tetapi juga melakukan.

Demikianlah kondisi pada saya sekarang. Entah kenapa, rasa senang hadir sesaat setelah mengetahui kata-kata baru dan kata-kata lama yang serasa seperti baru -- keduanya tentu baku -- dalam kamus. Saya curahkan keduanya lewat tulisan.

Kata orang, bahagia bisa dirasakan dari hal kecil. Ucapan itu benar-benar tidak sekadar kata. Kebiasaan saya di Instagram membuktikan. 

Saya menemukan kesenangan seusai mengunggah ulang unggahan orang lain yang isinya seputar pembelajaran kata-kata. Sederhana, hanya kata-kata dengan artinya.  

Unggahan instansi pemerhati bahasa atau yang berwenang dalam mengatur dan menyosialisasikan bahasa pun tidak lepas jadi bahan unggahan ulang.

Secara langsung, saya belajar kata-kata. Pikiran yang terbiasa cinta dengan kebaruan terpuaskan. Saya tidak sangka, ada kata itu. Saya tidak mengira, arti kata itu ternyata demikian. Banyak hal yang membuat takjub seputar kata-kata.

Kata-kata dalam bahasa lisan

Boleh diakui memang, kita terbatas menggunakan kata-kata dalam bahasa lisan. Belum lagi perkara malas baca yang tentu berimbas pada hanya sedikit kosakata diketahui.

Ada lagi soal bahasa slang (baca: gaulyang muncul begitu saja dan dibuat-buat oleh sebagian kita dalam pergaulan. Bahasa asing pun demikian, menempati beberapa porsi dalam percakapan. Bahasa daerah juga ambil peran.

Kehadiran mereka sedikit banyak membuat kata-kata yang sudah lama ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia seolah-olah tidak tergunakan. Ketika diucapkan, dijelaskan, atau diunggah di media sosial oleh penggiat literasi jadi serasa baru. Saya kena dampaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan