Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis.

Nomine Terbaik Fiksi dalam Penghargaan Kompasiana 2021. Enam buku antologi cerpennya: Rahimku Masih Kosong (terbaru) (Guepedia, 2021), Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (Guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (Guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (Guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (Guepedia, 2021). Satu buku antologi puisi: Coretan Sajak Si Pengarang pada Suatu Masa (Guepedia, 2021). Dua buku tip: Praktik Mudah Menulis Cerpen (Guepedia, 2021) dan Praktik Mudah Menulis Cerpen (Bagian 2) (Guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Sesaat Sebelum Bardi Bunuh Diri

11 Oktober 2021   22:10 Diperbarui: 12 Oktober 2021   00:32 286 13 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi gedung tinggi, sumber: rucika.co.id

Seorang lelaki berdiri tegak. Matanya memandang sekitar. Sekilas ia menatap ke bawah. Ia menyaksikan benar apa yang terlihat di bawah. Dari ujung ke ujung, terasa jauh, begitu jauh, jarak jalan itu. Orang-orang seperti kurcaci. Motor-motor berlalu-lalang layaknya titik-titik hitam. Semua serba mengecil.

Malam sudah sangat sunyi. Bulan tampak malu bersinar, menghilang tidak terlihat entah ke mana, barangkali sirna termakan gumpalan awan hitam pekat, semakin pekat, terus berarak, beriringan, memenuhi langit semesta. Demikian pula bintang, terlalu lama sudah hilang.

Lelaki itu kembali menegakkan pandang. Angin berembus kencang, menyibakkan ujung kemeja putihnya yang sedikit keluar dari dalam celana panjang. Kumpulan gedung tinggi berdiri kokoh. Tidak ada yang rapuh, serapuh diri dan perasaannya.

Beberapa saat lalu, lelaki yang bernama Bardi itu selesai mematikan komputer. Ia sengaja pulang paling akhir dibanding teman-temannya yang setiap jam pulang kerja, selalu sigap berlari-lari menuju lift, berdesak-desakan di depan mesin presensi, untuk kemudian setelah meletakkan telapak tangan di atas alat deteksi, mereka mengerubungi tempat parkir, dan mobil-mobil mulai bergerak memenuhi jalanan.

Tidak ada yang pernah santai menjalani hidup. Setiap orang tergesa-gesa, entah apa gerangan yang membuat mereka seperti dikejar-kejar. Terkadang Bardi juga tidak sanggup memahami, betapa orang di dunia hanyalah sebuah mainan, yang dikendalikan waktu, untuk sebentar lagi rusak karena lelah dibuatnya.

Bosnya pun demikian. Target kinerja yang terus saja bertambah, ingin terlihat lebih dan lebih di antara para perusahaan pesaing, sampai-sampai jam lembur pun tiada pernah cukup untuk menyelesaikan, terjadi dari hari ke hari, bersama dengan amarah yang tidak kunjung usai. Bardi jenuh! Baru saja ia kena semprot. 

"Kamu bisa kerja, tidak? Kamu mau saya pecat?"

Bukan masalah kinerja Bardi yang jelek. Bukan pula perkara loyalitas terhadap kantor yang layak dipertanyakan. Bardi selalu merampungkan pekerjaan dengan baik. Namun, akhir-akhir ini bos sering cari masalah dan melemparkan marah tanpa alasan. Apa pun yang Bardi kerjakan selalu salah. 

Bardi menengok sebuah foto dalam pigura kecil yang terpasang tegak di samping monitor komputer. Ada seorang lelaki bertubuh tambun dan seorang wanita sedang duduk berdua di sebuah bangku taman. Jari-jari kanan wanita itu menggenggam erat jari-jari kiri lelaki itu. Mereka duduk begitu dekat, tanpa sekat dan sangat lekat.

Itu adalah masa silam yang diharap Bardi kembali. Betapa mustahil dan semakin mustahil terjadi, ketika wanita itu memutuskan keluar dari kantor tempatnya bekerja -- juga tempat Bardi bekerja, tanpa memberitahu sebab yang masuk akal. Ia pergi meninggalkan Bardi begitu saja. Meninggalkan cinta yang telah dibangun selama sepuluh tahun. Meninggalkan persiapan pernikahan yang sebentar lagi dilangsungkan. Meninggalkan malu yang begitu dalam untuk Bardi, belum lagi keluarganya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan