Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis.

Enam buku antologi cerpennya: Rahimku Masih Kosong (terbaru) (guepedia, 2021), Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (guepedia, 2021). Satu buku antologi puisi: Coretan Sajak Si Pengarang pada Suatu Masa (guepedia, 2021). Satu buku tip: Praktik Mudah Menulis Cerpen (guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Berbagi Hasil Belajar adalah Cara Sempurnaku dalam Belajar

25 September 2021   21:30 Diperbarui: 25 September 2021   21:34 97 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Berbagi Hasil Belajar adalah Cara Sempurnaku dalam Belajar
Ilustrasi belajar cerpen, sumber: Pexels.com/Gabby via Liputan6.com

Saya begitu yakin bahwa ilmu atau pemahaman menjadi lebih berguna jika tidak hanya dimanfaatkan untuk mengembangkan diri sendiri, melainkan juga membantu orang lain berkembang. 

Barangkali kalau Anda memperhatikan tulisan saya, akhir-akhir ini saya hanya mengisi dua kanal, yaitu Gaya Hidup khususnya Hobi dan Fiksiana khususnya Cerpen.

Dahulu saya begitu. Di pertengahan, saya beralih ke tulisan opini segala kanal. Sekarang, kembali lagi ke peminatan awal. Ya, saya memang tertarik dengan cerpen.

Saya bukan lulusan sastra, tetapi saya cinta kepada bahasa dan sastra Indonesia. Terlebih setelah melihat orang di sana sini gampang sekali mencampuradukkan bahasa dalam berbahasa. 

Itu rasanya pedih sekali. Bisakah kita dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia saja? Atau menggunakan bahasa asing saja? Sekiranya mencampur, jika karena sedang belajar dan tidak lancar dalam satu bahasa, saya dapat memaklumi.

Jika memang kebiasaan, itulah yang membuat saya prihatin. Akhirnya, saya memberikan diri untuk berusaha mengaplikasikan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan sebaik-baiknya, baik lewat percakapan maupun tulisan.

Jatuh cinta dengan cerpen

Dari sisi tulisan, saya lebih memilih cerpen daripada puisi. Dalam cerpen, saya lebih bebas mengutarakan hal-hal yang tidak bisa saya utarakan di dunia nyata karena norma dan nilai.

Terkadang, emosi harus dipuaskan dan dilampiaskan setepat mungkin meskipun negatif. Cerpen menolong saya. Saya akan berperan sebagai tokoh jahat.

Kebiasaan saya yang sering banyak bicara dan kerap menguasai pembicaraan juga terhalang karena Covid-19 yang membatasi kerumunan, sehingga tidak bisa bertemu banyak orang seperti dulu. Sebab itu, adalah sangat efektif bila kata-kata yang tersimpan dalam otak dan terasa dalam hati saya curahkan berbentuk cerpen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan