Mohon tunggu...
hony irawan
hony irawan Mohon Tunggu... Konsultan - Penggiat Advokasi dan Komunikasi Isu Sosial, Budaya dan Kesehatan Lingkungan

pelajar, pekerja,teman, anak, suami dan ayah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengenal Buya HM. Husni Thamrin Madani dari PP Qodratullah

19 November 2017   20:00 Diperbarui: 19 November 2017   20:53 2457
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berceritalah  ustadz Thabroni tentang kebijakan Buya HM. Husni Thamrin Madani, pimpinan sekaligus pendiri Pondok Pesantren Qodratullah di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, tentang kebijakan tanpa seleksi bagi anak yang ingin mondok. "Buya berpesan, kalau beliau sudah tidak ada, kebijakan ini agar diteruskan. Sebab menurutnya, seorang anak yang sudah berkeinginan untuk menjadi santri mestinya harus didukung penuh. Meskipun belum bisa baca dan tulis Al Qur'an, disini harus disediakan pengajaran secara khusus, agar dari tidak bisa jadi bisa. Demikian juga anak-anak yang dianggap nakal. Kalau tidak ada sekolah yang mau menampungnya, bagaimana bisa berubah jadi baik!? Semoga dengan mondok di sini, kalau tidak 100%, bisa sedikitnya memberi pengaruh yang baik bagi kehidupannya kelak."

Pondok Pesantren Qodratullah yang dimulai Buya  tahun 1988, bermula dari Madrasah Ibtidaiyah "Murul Huda" yang didirikan oleh ayahnya Alm. Ki. M. Madani bin Abdul Shamad (wafat Th. 1982) pada tahun 1972.

Setelah membuka lahan baru, PP Qodratullah kini telah menempati areal seluas hampir 2,5 hektar yang mampu menampung tak kurang dari 3000 ribu santri dan santriwati.

"Buya ini dulu selain guru agama juga petani dan pedagang  karet. Lewat kegigihannya dalam berniaga, beliau mulai membangun sedikit demi sedikit pesantren ini sehingga bisa sebesar ini." demikian Kholid Daulay, salah seorang putra Buya, mengenang masa-masa sulit ayahnya membangun pondok pesantren ini.

Kini bangunan-bangunan yang ada di komplek PP Qodratullah terdiri dari asrama dan tempat belajar putra dan putri yang dilengkapi dengan masjid, lapangan olah raga, area parkir yang luas, serta hotel syariah bagi para orang tua santri yang datang berkunjung dan perlu menginap.

Kalau pondok ini dimulai dengan kalkulasi bisnis, biaya yang dikeluarkan untuk membangun pesantren akan terlihat tidak masuk akal alias  tidak menguntungkan. Namun jika dilihat dari keinginan Buya yang besar untuk memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat, maka ini jadi sangat beralasan.

Kita bisa bayangkan 30 tahun yang lalu ketika daerah di sekitar pondok ini tentu masih banyak hutan dan kebun. Anak-anak Banyuasin harus bersekolah jauh dari rumah. Kalau pulang pergi setiap hari tentu sulit dilakukan. Hasilnya angka sekolah dan kehadiran di sekolah sangat rendah, dan ini berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang rendah. Pondok Pesantren Qodratullah menjadi solusi yang diwujudkan Buya untuk permasalahan tersebut.

Dari kebijakannya masuk sekolah tanpa seleksi agar pendidikan tidak hanya bagi yang sudah siap saja, tapi justru menyiapkan bagi yang belum siap juga, hingga latar belakang dan perjuangannya membesarkan PP Qodratullah hingga seperti saat ini, nampak jelas visi Buya HM. Husni Thamrin Madani senantiasa melampaui jamannya.

#visioner
#OffBeatMarketing

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun