Honing Alvianto Bana
Honing Alvianto Bana Pecandu Kopi

Pemburu senja, pencuri malam, pengepas terik, penyambut pagi, pencari pelangi.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mama Emi Tidak Sendirian...

13 Februari 2018   16:26 Diperbarui: 13 Februari 2018   16:38 196 0 0

Selamat sore dan salam hormat untuk seluruh kader2 PDIP, PKB dan seluruh pendukung pasangan MS-EMI dimana pun berada. Pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan salah satu kader dari kedua partai pengusung, maupun bukan relawan dari pasangan MS-Emi. Saya hanya seorang mahasiswa yang saat ini sedang menuntut ilmu disalah satu universitas di Jawa timur.

Saya secara pribadi sebelumnya memang tidak pernah mengenal pasangan MS dan mama Emi. Saya mengenal mereka justru saat PDIP menjatuhkan pilihannya untuk mengusung MS dan Mama Emi pada beberapa bulan lalu, Itupun saya tau lewat media online. Meski demikian, saya percaya bahwa mama emi adalah seorang perempuan yang takut akan akan Tuhan, dan saya pun percaya bahwa beliau mencintai dunia politik bukan karena kekuasaan, tapi beliau ingin menjalankan gagasan-gagasannya untuk ikut membangun NTT.

Sebagai salah satu mahasiswa asal NTT yang saat ini sedang berada di luar NTT sudah barang tentu melihat dan mengikuti perkembangan politik pada pilkada NTT kali ini adalah sesuatu hal yang menarik. Apalagi dalam beberapa hari terakhir ini suhu politik di NTT semakin panas setelah media-media online lokal dan nasional menyuguhkan kepada kita berita OTT yang dilakukan oleh KPK kepada MS dan beberapa orang lainnya. Sungguh, berita tersebut sudah barang tentu membuat masyrakat NTT terkejut. Dari pihak lawan kejadian ini langsung di sambut dengan bahagia dan olok-olokan secara langsung di media sosial.

Memang berita tersebut tentu sangat menyayat hati keluarga MS, mama emi (pasangan cawagubnya MS) dan juga seluruh pendukung pasangn MS-Emi. Hal tersebut semakin diperparah lagi dengan pengumuman status tersangka yang diberikan kepada MS pada siang kemarin.

Kejadian itu bagi saya terlihat biasa saja karena memang saya tidak ada sangkut paut dengan semua kandidat pada pilkada kali ini, dan juga saya memang bukan siapa-siapa. Tapi ada sesuatu hal yang tiba-tiba menggugah hati saya, yaitu saat saya melihat foto yang dibagikan oleh salah satu teman di facebook. Dimana di dalam foto tersebut mama emi mengangkat nomer urut dari paket MS-Emi dengan air mata yang menetes diwajahnya. Saat melihat foto itu, saya sempat terdiam sejenak sambil bertanya dalam hati, apakah mama emi akan berdiri sendiri menghadapi badai ini sendirian? Dengan cepat saya menarik napas, menghembuskannya dan langsung menjawab dalam hati bahwa mama emi tidak boleh berdiri sendiri. Saya pun percaya bahwa seluruh kader dari partai pengusung baik di tingkat DPD, DPC, PAC dan anak ranting dan seluruh relawan MS-EMI di seluruh NTT tentu memiliki jawaban yang sama.

Saudara-saudara, penetapan MS sebagai tersangka tidak boleh membuat semangat para pendukung surut. Justru dengan peristiwa ini harusnnya menjadi ujian dan cambuk bagi seluruh simpul-simpul kekuatan pendukung paket ini untuk lebih solid, lebih kuat dan lebih bersatu untuk memenangkan paket ini. Terlepas setelah ini apakah ada pergantian MS dalam pengusungan paket ini dari partai PDIP ataupun PKB, tapi yang pasti seluruh pendukung harus tetap solid dalam menjaga barisan.

Saudara-saudara, diluar sana banyak orang menertawakan paket ini. Mereka menertawakan mama emi yang berdiri tanpa pendamping pada siang hari tadi. tapi ada yang mereka lupa. mereka lupa bahwa mama emi tidak sendirian, mama emi mempunyai kekuatan yang sangat besar. mama emi didukung oleh kedua partai yang jelas jenis kelaminnya. Mereka juga lupa bahwa mama emi memiliki pendukung yang militan, para pendukung yang berhati petir dan berjiwa halilintar.

Sampai saat ini, saya masih percaya bahwa paket ini masih mempunyai peluang yang sangat besar untuk menaklukan pertarungan ini. Kawan-kawan pendukung MS-EMI, kalian bisa melewati ujian sejarah ini. Kalian tidak boleh membiarkan mama emi berdiri sendiri. Kalian harus membuat sejarah baru pada pilkada kali ini. Kalian tidak punya waktu lagi untuk mundur. Mundur hancur, berhenti mati. Oleh karena itu kalian harus kembali membakar semangat didalam dada kalian masing-masing. Sekali layar terkembang, pantang untuk mundur ke dermaga.

Dalam waktu dekat saya akan kembali ke NTT, saya akan ikut menggabungkan diri, dan mengajak keluarga kecil saya untuk memenangkan mama emi pada pilkada kali ini. Saya ingin ikut mencatat sejarah baru bahwa pada pilkada kali ini akan lahir seorang pemimpin perempuan di NTT dari rahim tandus tanah timor. Salam

Surabaya, 13 Februari 2018