Mohon tunggu...
Hoiriyah
Hoiriyah Mohon Tunggu... Guru - Pendidik/Kepala Sekolah/Guru Berprestasi dan Berdedikasi, Ibu Ibukota Awards/KB KID'S CLUB

Berkecimpung di dalam dunia Pendidikan Anak Usia Dini sejak 17 Mei 2008 sebagai Kepala Sekolah dan Guru PAUD. Memiliki pengetahuan dalam Pendidikan Anak Usia Dini dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Memiliki kemampuan mengelola Lembaga PAUD untuk berkembang, maju dan mandiri. Telah membawa PAUD Inklusi Kid’s Club memenangkan beberapa lomba di tingkat Kota dan Tingkat Nasional. Memiliki keterampilan interpersonal dan komunikasi yang baik. Selalu melakukan kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran dan pengelolaan Lembaga PAUD. Memiliki banyak prestasi dalam Pendidikan dan pengelolaan Lembaga PAUD.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Sistem Islam dalam Bidang Ekonomi: Bagaimana Islam Mengatur Sistem Ekonomi Umat?

10 Juni 2024   13:10 Diperbarui: 10 Juni 2024   15:15 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sistem Islam Dalam Bidang Ekonomi : Bagaimana Islam Mengatur Sistem Ekonomi Umat?

Oleh : Hoiriyah dan Desi Dwi Jayanti

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur semua peri kehidupan umatnya, termasuk bagaimana cara umat memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satunya dengan melakukan berbagai aktivitas di bidang ekonomi. Bersumber pada Al-Qur'an dan Hadits, yang mengatur umat Islam untuk menjalankan kegiatan ekonomi dengan menekankan moralitas, keadilan, dan kesejahteraan sosial.

Prinsip Dasar Ekonomi dalam Islam

Prinsip dasar ekonomi Islam meliputi keadilan (al-'adl), keseimbangan (at-tawazun), kebebasan ekonomi yang bertanggung jawab (al-huriyyah), dan kepemilikan bersama (al-milkiyyah). Keadilan (al-'adl) menempatkan sesuatu pada tempatnya, meliputi distribusi kekayaan yang merata dan menghindari eksploitasi dalam transaksi ekonomi. Hal ini ditegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 90: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan."

Keseimbangan (at-tawazun) dalam ekonomi Islam mencakup pemenuhan kebutuhan material dan spiritual manusia, mencegah materialisme yang berlebihan yang bisa merusak moral dan sosial. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 disebutkan: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia."

Kebebasan ekonomi yang bertanggung jawab (al-hurriyyah) memungkinkan individu untuk mengembangkan usaha dan inovasi tanpa melanggar prinsip syariah. Islam tidak melarang perdagangan dan aktivitas ekonomi selama dilakukan dengan jujur dan adil. Ini tercermin dalam Surah Al-Jumuah ayat 10: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak supaya kamu beruntung."

Kepemilikaln bersama (al-milkiyyah) menekankan bahwa segala sesualtu yang ada di dunia pada hakikatnya adalah milik Allah, dan manusialsebagai pengelola yang harus mempertanggungjawabkan penggunaan sumber daya tersebut. Dalam Surah AL-Baqarah ayat 284, Allah berfirman: "Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya. niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu."

Mekanisme Distribusi Kekayaan dalam Islam

Salah satu mekanisme distribusi kekayaan dalam Islam adalah zakat. Zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk memberikan sebagian dari hartanya kepada yang membutuhkan. Tujuannya adalah mengurangi kesenjangan sosial, membantu mereka miskin, dan mendorong re-distribusi kekayaan yang adil. Dalam Surah AL-Taubah ayat 60 disebutkan: "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, paral mu'alaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah."

Selain zakat, ada instrumen lain seperti sedekah, infaq, dan wakaf. Sedekah adalah sumbangan sukarela yang tidak dibatasi jumlahnya, sementara infaq adalah pengeluaran di jalan Allah yang bisa berupa materi atau non-materi. Allah berfirman dalam Surah AL-Baqarah ayat 261: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: serltus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun