Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Bermimpi Lalu Mati

13 November 2019   13:32 Diperbarui: 13 November 2019   13:42 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Akan tiba saatnya di mana orang lain akan meremehkanmu, mengekerdilkan apa yang kamu yakini, dan membuatmu terjun bebas ke dalam jurang. Entah kenapa ada saja orang yang demikian, dan jumlahnya lumayan banyak di dunia ini. Eksistensi mereka sebenarnya untuk apa? Setahuku, motivasi datangnya dari orang-orang bijak, dan orang terdekat yang peduli dengan kita.

Saya yakin, setiap orang pasti punya mimpinya masing-masing. Dan saya yakin pula, mereka semua pernah dikerdilkan oleh orang lain, atau mungkin oleh teman dekatnya sendiri. Terkadang aku heran dan bertanya, kiranya apa kunci kesuksesan orang-orang yang sudah mewujudkan mimpi mereka, yang dengan hebatnya bertahan dari beragam bentuk cacian.

Saya juga ingin sukses, ingin berhasil. Tapi yang jadi pertanyaan selanjutnya, "tolak ukurnya apa?". Apakah dengan ketenaran? Apakah dengan banyaknya sebuah karya? Atau, apakah dengan banyaknya materi yang diterima? Jika memang demikian, kenapa ada rasa bangga kepada diri saya sendiri ketika ada beberapa orang yang memuji tulisanku? Walau hanya berbentuk pujian, rasanya aku sudah sukses atas satu buah tulisanku itu.

Mendapat penghargaan bisa juga dibilang dengan berhasil. Menjadi juara dalam sebuah kompetisi, mendapat sertfikat serta piala penghargaan tentu membuktikan bahwa kamu bukan orang 'remeh' seperti yang mereka katakan. Di saat aku mendapatkan cacian dari mantan teman baikku sendiri, terkadang inginku katakan, "Oh, well. Kamu sedang meremehkan seorang Hara Nirankara yang penuh dengan ambisi." Tapi aku pikir, pernyataan demikian malah akan membah panjang perdebatan.

Saya ingat, dulu ketika saya pertama kali bangun dari koma dan memutuskan untuk bangkit mengejar mimpi, adalah di saat Wali Kelas Dra. Siti Masyitoh berkata, "Optimis. Kamu harus optimis! Jangan samakan antara optimis dan sombong." Perkataan beliau memang benar, aku, kita, kalian, haruslah optimis dalam hal sugesti. Kita semua harus mengsugesti sesuatu yang positif terhadap apa yang kita yakini.

Kita sudah berusaha, maka selanjutnya kita harus mengsugesti alam bawah sadar kita dengan sikap optimis, bahwa kita pasti bisa. Kemudian perkataan yang berhasil membangunkan semahatku berasal dari sosok Agnez Mo, ia pernah berkata "Dream, Believe, and Make It Happen." Kalimat yang sederhana memang, tapi bagiku penuh akan makna serta spirit. Mulai saat itu aku berpikir, jika aku ingin mengejar mimpiku, maka aku harus membuatnya jadi kenyataan. Yang pertama adalah punya mimpi, kemudian berusaha, dan yang terakhir adalah optimis.

Kebetulan saya sendiri merupakan orang yang percaya bahwa, "hasil tidak akan mengkhianati usaha". 

Setiap orang yang punya mimpi pasti pernah gagal, bahkan sering gagal. Tapi kegagalan bukanlah sebuah akhir, karena masih ada seribu jalan untuk berhasil. Ya, sama, saya pernah juga gagal, beberapa kali, hingga membuat mental saya down dan berhasil membuat saya berada di titik jenuh paling tinggi.

Pernah beberapa kali berpikir untuk bunuh diri kala berada di titik jenuh, rasanya tidak ada lagi semangat dalam diri. Ada, ada memang teman yang menyemangati, tapi itu belumlah cukup. Dan kiranya apa yang membuat saya bisa untuk bangkit kembali? Diri saya sendiri! Diri saya yang lain seolah menampar saya ribuan kali hingga akhirnya membuat saya bangun dan melanjutkan hidup ini kembali.

Saat ini saya memang baru mempunyai dua buah karya berupa buku cetak, pulahan esai, pulahan puisi yang saya posting di akun media sosial saya. Karena seperti yang saya katakan di atas, bahwa satu pujian dari orang lain mampu menambah semangat saya dalam menulis, dan membuat saya merasa menjadi orang yang berhasil, serta berguna. Ya, saya ingin sekali menjadi orang yang berguna dengan membagikan tulisan saya di media sosial.

Sempat, dulu saya sempat tersihir oleh matrealisme, yang membuat fantasi saya meliar, membayangkan diri saya berada di sebuah mimbar yang dihadiri oleh ribuan orang. Sorakan, tepuk tangan, senyuman, sambutan, semua itu berhasil membuat saya berada pada posisi seolah banyak uang. Tapi lambat laun, saya pikir, saya tidak membutuhkan itu semua. Menjadi sasaran paparazzi adalah hal yang sangat melelahkan, terlebih lagi, pasti akan repot pula jika semua orang mengenal Hara Nirankara. "Wah ada Hara. Hai Hara. Foto dong. Tanda tangan dong. Bla bla bla." Pasti akan sangat melelahkan menghadapi keadaan seperti itu yang justru merenggut kebebasan pribadi, semua mata manusia bagaikan cctv, maka haruslah "jaim" karena sedikit saja kesalahan yang diperbuat, hebohnya bisa se-Indonesia, viralnya berabad-abad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun