Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Menyesal Pilih Jokowi?

19 Oktober 2019   06:04 Diperbarui: 19 Oktober 2019   09:39 445
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image via Wirangbirawa

Dua hari yang lalu saya membuat Q&A di akun instagram saya, dan, kali ini saya akan mencoba membahas satu pertanyaan yang dari salah satu akun yang intinya dia menyesal telah memilih Jokowi pada PilPres kemarin. 

Saya paham, penyesalan itu pasti datang dari keputusan-keputusan yang akhir-akhir ini menuai reaksi publik. Tapi, perlukah kita menyesal atas pilihan tersebut? Saya pribadi akan menjawab, untuk apa menyesal? Tidak ada yang perlu disesali.

Nah, kenapa saya menjawab seperti di atas? Karena memang tidak ada gunanya menyesali atas apa yang sudah kita pilih. Seharusnya kita bisa lebih bijak sebelum mengambil keputusan untuk memilih Jokowi. Sebelum pencoblosan, tentunya kita semua diberikan waktu untuk menimbang, membaca, menilai, menerka, mempelajari, sebelum akhirnya untuk memutuskan. 

Pada masa sebelum hari H itulah momen penting bagi kita semua untuk memikirkan matang-matang, apakah calon yang kita pilih adalah calon yang tepat? Apakah yang kita pilih akan memuaskan kita? Yang perlu diingat, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sempurna. 

Baik Prabowo maupun Jokowi, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka berdua tentunya bukan sosok layak untuk kita percayai. Kenapa? Karena ini merupakan POLITIK, di dalam politik ada banyak sekali kepentingan, dan juga terdapat kontrak politik.

Kita sebagai pemilih jangan terlalu polos, kita harus bisa berspekulasi, menerka, kiranya bakal seperti apakah perwujudan dari calon yang bertarung. Kita juga tidak boleh melupakan orang-orang yang berada di belakang kedua calon, karena pada sejatinya-lah, orang-orang di balik kedua calon itu yang akan mendapatkan untung dari investasi yang mereka lakukan.

Jika kita mengharapkan sosok Presiden yang sempurna, itu sangat mustahil. Presiden bukan satu-satunya orang yang berhak menentukan arah serta kebijakan untuk bangsa ini, karena masih ada 'kekuatan lain' yang berhak mengambil serta menentukan arah kebijakan masa depan Indonesia. Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif, 3 lembaga itu terkadang saling berlawanan, terkadang saling tarik menarik, itu yang tidak bisa kita lupakan begitu saja.

Kita semua tahu, Presiden adalah Panglima tertinggi di Indonesia. Tapi jangan salah, walaupun beliau Panglima tertinggi, masih ada pihak Legislatif yang bisa menyusun perundang-undangan, masih ada Yudikatif yang bisa mengadili suatu kebijakan/undang-undang. Nah, jika ketiganya terkadang tarik menarik? Tidak sepaham? Tentu kebijakan yang dihasilkan tidaklah sempurna dan juga memuaskan.

Bicara masalah "menyesal", sekali lagi, tidak ada yang perlu disesali. Kita sebagai makhluk yang berpikir seharusnya sudah siap atas konsekuensi yang nantinya akan kita tanggung. Lalu, bagaimanakah caranya agar kita tidak menyesal? Yang pertama adalah menerima. Kita harus menerima fakta bahwa ternyata Jokowi berada di bawah ekspektasi kita. 

Yang kedua adalah berdamai dengan fakta itu. Maksudnya, jika fakta yang terjadi di bawah ekspektasi, ya sudah, tidak ada gunanya mendendam, mengumpat, menghakimi seorang Jokowi. Dan yang terakhir adalah menciptakan. Menciptakan yang saya maksud ini adalah, kita harus bisa menciptakan sebuah realita di dalam pikiran kita. 

Sebelum pemilihan, kita harus bisa menilai, menimbang, berspekulasi, seperti yang sudah saya katakan di atas. Kita harus bisa menciptakan sebuah paradigma di mana, "kamulah sosok Pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia!", tentunya dengan berbagai penilaian yang kita lakukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun