Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Arteria Dahlan dalam Pusaran Kontrol Emosi

10 Oktober 2019   14:03 Diperbarui: 11 Oktober 2019   10:02 0 7 3 Mohon Tunggu...
Arteria Dahlan dalam Pusaran Kontrol Emosi
Foto via Tribunnews.com

Ada hal menarik yang perlu saya bahas masalah Arteria Dahlan dalam debat semalam di Mata Najwa.

Dalam tulisan kali ini saya tidak akan menghujat atau pun menyalahkan argumen dia sebagai seorang lulusan Ilmu Ketatanegaraan. Saya juga tidak akan menyudutkan posisi dia sebagai anggota dewan. Saya akan berbicara berdasarkan fakta di lapangan. 

Saya pribadi tidak akan menyalahkan yang bersangkutan merasa marah karena DPR mendapatkan kepercayaan terendah di bawah KPK dan Presiden. Jika Arteria Dahlan ingin mengembalikan kohormatan DPR, tentu itu hal yang patut diapresiasi.

Tapi menurut saya emosi dia keliru dengan melontarkan nada tinggi, seolah semua masyarakat harus tunduk dan hormat kepada anggota dewan. Tentunya ini berkaitan juga dengan prinsip saya yang anti terhadap superioritas.

Pada kenyataannya, DPR memang mempunyai kinerja yang buruk. Hal itu ditunjukan dengan sering bolosnya anggota dewan, mengesahkan UU secara tergesa-gesa sehingga menimbulkan pasal karet, UU ITE misalnya.

Melalui fakta tersebut seharusnya yang bersangkutan dapat berkaca bahwa memang pada kenyataannya DPR jauh di bawah ekspektasi rakyat. 

Kalau menurut hemat saya pribadi, jika DPR terbukti kinerjanya rendah, kenapa yang bersangkutan tidak meminta maaf mewakili seluruh anggota dewan karena kinerja yang rendah itu? Saya rasa meminta maaf yang saya maksud merupakan sikap bijak yang harus dibuktikan oleh semua orang yang berada di dalam wadah institusi atau yang berafiliasi. 

Mengakui kinerja buruk dengan meminta maaf tidak akan membuat harga diri DPR terjun bebas, justru saya yakin sekali, akan ada banyak orang yang memuji atas sikap itu. Jika hal demikian dilakukan, tentunya bisa menjadi nilai lebih untuk mendorong etos kerja yang benar-benar profesional dan mewakili suara rakyat.

Kekeliruan berikutnya yang dilakukan oleh Arteria Dahlan adalah ketika yang bersangkutan berkata bahwa tidak semua anggota dewan itu "jelek" seperti penilaian masyarakat pada umumnya, sehingga semua anggota dewan mendapatkan stigma yang sama jeleknya.

Analogi yang diutarakan oleh wakil fraksi NasDem juga menurut saya keliru jika ada seorang profesor yang melakukan zina, maka otomatis semua profesor akan dianggap cabul. 

Analogi demikian sama halnya dengan agama Islam. Ada sebagian umat Islam yang menjadi teroris tidak serta merta semua umat Islam adalah teroris. Tentu semua orang sudah paham jika akan sangat keliru jika menyalahkan Islamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3