Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Propaganda Memusnahkan Tuhan

2 Agustus 2019   05:50 Diperbarui: 2 Agustus 2019   05:59 0 0 0 Mohon Tunggu...
Propaganda Memusnahkan Tuhan
Image by Hara Nirankara

Hidup tak akan lengkap bila tanpa drama. Banyak orang menyangsikan tubuh mereka demi nafsu. Birahi. Sebagian dari mereka berkemul tanpa permisim tanpa ilustrasi. Dan sebagiannya lagi diam-diam merasa suci. Kemunafikan yang selalu hinggap tatkala lumbung dan benih-benih fantasi mulai menyebar liar. Mengalahkan segala raut lugu nan lucu. Sebagiannya lagi itu masih malu-malu, menyembunyikan jiwa yang penuh ambisi.

Ada orang yang mengabdikan hidupnya atas nama cinta. Menjadi budak birokrasi yang ia pimpin sendiri. Mengabulkan segala rengekan, menuruti semua kesemuan. Hanya demi terlihat 'tulus'. Tapi ada juga dari mereka yang mementingkan ego, demi ambisi kenikmatan. Mereka terus saja bersembunyi di balik kata-kata bijak nan puitis. Tapi cabul juga pada akhirnya. Mereka memaparkan segala narasi, kata demi kata, rayu demi rayu. Mencinta tapi hanya sebatas nafsu, dan berbalik arah ketika fantasi telah terpenuhi.

Ketika dua orang berbicara masalah cinta, masa depan, dan mimpi, ada saja rentang detik yang terselipkan sebuah objek tersirat. Akan selalu ada orang yang mengumbar rindu, membual perihal setia, dan memaksakan untuk merayu, di saat mereka sedang horny. Ucapan cinta dan segala retorika yang keluar dari mulut hanyalah sebuah drama, agar ekspektasi terwujud. Sedangkan sesudah klimaks, mereka celingukan seperti baru berkenalan. Sikap-sikap hambar dan dingin itu selalu membuat sebuah prasangka, "apakah ini yang dinamakan cinta?" mencinta di kala terangsang.

Pasti ada. Kemunafikan-kemunafikan yang terus menurun dan mendarah daging. Drama-drama semu dibuat oleh segelintir manusia. Atau banyak manusia. Terangkanlah wahai Nabi, dusta apa yang sedang dilakonkan oleh umatmu? Mendadak lunak ketika ada maunya. Mendadak polos dan merengek ketika sedang butuh.

Mereka ada yang menerima. Mereka ada yang menolak. Syukur-syukur tanpa adu mulut.

Aku menolak bila melunak hanya demi sebuah nafsu. Menyajikan semilir angin hanya untuk memancing. Urusan hati tidak bisa bertekuk lutut oleh nafsu, yang mana suatu saat bisa timbul sebuah masalah. Ini bukan lagi urusan antara orang awam dan yang awam. Bukan pula urusan siapa yang lebih suci. Atau, penjahat dan pengedar narkoba. 

Semuanya berubah menjadi puitis dan menggemaskan, prilaku-prilaku non waras yang berbanding terbalik dengan kebiasaan. Dan semua itu dilakukan demi memuaskan nafsu. Pemuka agama dan residivis sama-sama kompak. Mereka meninggalkan gelar demi memenuhi yang katanya kebutuhan. Bercinta di kala subuh, bercinta dengan lampu yang remang, bercinta dengan gaya ala kadarnya. Kenapa manusia-manusia ini begitu laknat, Tuhan? Mereka seolah membelakangiMu. Padahal Engkau Maha Melihat. Mereka seolah tak mengenalMu, di saat nafsu menduduki peringkat pertama.

Dan inilah nyatanya seorang manusia. Mereka sama seperti binatang yang dibilang tak berakal, ketika sedang saling mencumbu. Perkara perasaan diplesetkan menjadi perkara nafsu, yang ketika klimaks akan melupakan segalanya. Emosi, masalah, beban, pertengkaran. Semua perkara itu akan otomatis damai ketika berurusan dengan ranjang, seks.

Dan masih perlukah manusia mengingat Tuhannya, membaca kitab sucinya, ketika perkara tadi bisa didamaikan melalui aktifitas ranjang? Tuhan sudah tak suci lagi. Ayat-ayat sudah tak lagi bersifat keramat. Sebab nafsu itu yang paling utama. Manusia akan stress, kehilangan akal ketika tak mampu becus mencari pemuas. Kelabakan bagai orang gila. Kebingungan bagai dikejar rentenir. Sedangkan Tuhan? Tak lagi ada dalam memori mereka.