Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis Buku

Kadang seperti anak kecil.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Communist Phobia

30 Juli 2019   16:28 Diperbarui: 30 Juli 2019   16:37 0 0 0 Mohon Tunggu...
Communist Phobia
Image by Hara Nirankara

Ada beberapa esai yang saya buat mengenai PKI dan Komunisme. Saya banyak membaca literasi dari yang pro hingga kontra dengan PKI dan Komunisme hanya demi meningkatkan minat baca netizen di negara ini. Tetapi, banyak netizen yang menghujat dan menuduh saya sebagai antek PKI. 

Para buzzer dari Jokowi dan Prabowo sama-sama menghujani saya dengan berbagai umpatan. Bahkan akun saya sempat beberapa kali masuk ke dalam daftar/target operasi dari intel [TNI maupun Polri]. Ada banyak akun yang melaporkan saya atas postingan mengenai PKI. Bahkan di antara buzzer dari kedua tokoh di atas, ada beberapa yang bekerja di instansi kepolisian dan TNI. 

Oh iya. Saya ingat betul ada salah satu pendukung Jokowi yang kebetulan seorang polisi yang terus mengancam saya. Katanya saya menyebarkan paham Communistme dan Atheistme, hingga tuduhan memprovokasi. Tapi nyatanya hingga hari ini saya baik-baik saja. 

Saya bahkan tidak mempunyai 'bekingan'. Tapi jika ada yang bertanya "apakah Hara mempunyai saudara yang bekerja sebagai TNI dan Polisi?". Seingat saya, om saya merupakan seorang intel. Orang tua saya mempunyai banyak relasi TNI dan Polisi. Tapi saya tidak serta merta menjadi leluasa dan bertingkah seenaknya. Saya sama sekali tidak mengharap bantuan dari kolega di atas.

Kalian tidak bisa mempenjarakan orang yang membuka diskusi mengenai PKI/Komunis. Negara ini sama sekali tidak melarang diskusi yang bertemakan PKI/Komunis. Tap MPRS yang menjadi senjata mereka [anti kiri] hanya melarang penyebaran ajaran yang berbau kiri. Jika pun saya diciduk atas dasar postingan saya yang berbau kiri. 

Seharusnya para Dosen dan Profesor yang mengampu mata kuliah Filsafat juga kena ciduk. Tapi inilah realitanya. Saya masih aman jaya karena saya sama sekali tidak menyebarkan paham yang dianggap terlarang itu. Saya hanya membuka sesi diskusi, membuat esai mengenai G30S, Madiun Affairs, dan tema yang membahas Ideologi kiri. 

Dan yang perlu kalian tahu, Pancasila juga berhaluan kiri. Adakah yang masih berkata bahwa Pancasila adalah dasar yang netral? Yang berada di tengah-tengah? Jika pengurus bangsa ini berniat membedah Pancasila, akan ditemukan lebih banyak sila yang condong ke kiri daripada ke kanan. 

Contoh kecilnya, silahkan baca asas Ekonomi Demokrasi sebelum kena amandemen. Tapi sayangnya ada segelintir poli-tikus yang menghamba kepada materialis. Kalian bisa lihat, jabatan ketua MPR menjadi jabatan yang paling diincar selain ketua DPR. Because of what? Perkara amandemen berada di tangan MPR yang kemudian akan dilempar ke DPR. Saat ini Pancasila sudah tidak lagi condong ke kiri dan ke tengah. Tetapi ke kanan. Apakah yang menyebabkan perpindahan haluan tersebut? Amandemen! Ya. Banyak pasal yang diamandemen sehingga menguntungan kaum penghisap.

Sebenarnya tulisan saya ini tidak sedang membahas Pancasila ataupun Ideologi kiri. Tujuan saya membuat tulisan ini guna menyikapi kasus perampasan buku kemarin. Laman Tirto menyebutkan bahwa per tahun 2010, MK mengeluarkan putusan tentang dilarangnya razia buku. Walaupun ada peraturan dari MK, nyatanya razia dan perampasan buku masih masif terjadi. TNI dan ormas sering menjadi inisiator dalamp razia buku yang berhaluan kiri. Sungguh sangat disayangkan jika mulai berkembangnya literasi berbasis kolektif untuk meningkatkan minat baca masyarakat, harus ternodai oleh aksi razia buku. 

Sedangkan negara kita berada di peringkat buncit dalam hal minat membaca. Seolah-olah masyarakat terus disetir untuk menjadi bodoh. Dan betapa idiotnya ormas yang merazia buku tapi berlatar belakang dari sebuah ormas keagamaan. Coba kalian selidiki, banyak tokoh maupun intelektualis dari kalangan NU dan Muhammadiyah yang justru menulis dan membedah Ideologi kiri. 

Penulis dari dua ormas besar itu justru menyandingkan Komunis dan Sosialis dengan Islam. Layaknya saudara siam yang selama ini dipaksa pisah dan saling membenci. Saya berani berkata demikian karena saya sudah membaca buku serta jurnal mereka. Bahkan bukan hanya intelektual dari Indonesia. Banyak juga intelektual serta akademisi dari seluruh dunia yang membahas keselarasan antara Islam dan Komunis serta Sosialis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2