Hizriansyah Al Hijr
Hizriansyah Al Hijr

Environmental and Occupational Health Of Public Health|Ahmad Dahlan University Yogyakarta|Facebook Id : Hizriansyah Al Hijr |Dena, Bima-NTB

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Puskesmas Terkurung #KamiBelum"Kalah"

12 Januari 2018   21:52 Diperbarui: 12 Januari 2018   22:35 679 0 0
Puskesmas Terkurung #KamiBelum"Kalah"
img-20180111-133914-min-5a58c9225e1373292b57a172.jpg

"Kami sampaikan terima kasih kepada Tuhan Bapa, dengan tersedianya seteguk air ini untuk mengobati kehausan yang berkepanjangan" Sambutan Sekretaris Kecamatan

Siang ini adalah Penerimaan Tim Nusantara Sehat di Puskesmas. Tim kami (NS Periode II atau Batch 7) merupakan tim pertama yang memasuki wilayah kabupaten ini, meskipun kabupaten tetangga silih berganti keluar-masuk tim.

Apakah daerahnya bukan kriteria tempat penugasan Nusanatara Sehat?

Sesuai aturan terkait kriteriia daerah penempatan, kami bisa katakan bahwa daerah ini sangat layak, bahkan jika dibandingkan dengan penempatan beberapa batch sebelumnya di daerah tetangga.oh iya, ditakannya ini daerah baru pemekaran sekitar tahun 2009 (jika saya tidak salah ingat).

Keadaan ini, sedikit mengingatkan kembali kepada saya saat beberapa hari lalu pertama menginjakkan kaki di tanah ini. Seorang dokter di Dinas Kesehatan Provinsi mengarahkan pandangan kami yang bagi saya penuh tanda tanya dan mencubit begitu keras. Dikatakan bagian dari kutipan buku seorang dokter yang sangat dekat dengan tanah ini pada masanya.

"Papua adalah Jurang!" (Maaf, saya sebut nama generalnya)

Jujur saja, hari ini saya merasa seperti "tidak waras", duduk plonga-plongoan dengan kebingungan yang satu menuju kebingungan yang lain. Dari pandangan yang satu menuju pandangan yang lain.

Apa yang terjadi?

Saya mencoba mereflek tentang keberadaan Puskesmas yang idealnya dan membandingkannya. Adakah kaitannya dengan keberadaan Puskesmas dan Sistem Pelayanannya?

Ketika kita melirik Puskesmas, kita akan melihat Puskesmas merupakan organisasi teknis di bidang kesehatan dengan konsep wilayahnya. Bahkan sesuai namanya Pusat Kesehatan Masyarakat (pusat kesehatan ya, bukan pusat kesakitan) seharusnya menjadi tombak dan pioner paling depan terkait kesehatan di wilayah kerjanya.

Prinsip penyelenggaraan Puskesmas pun meliputi Paradigma Sehat, Pertanggung jawaban wilayah, Pemerataan, Kemandirian Masyarakat, tehnologi tepat guna serta keterpaduan dan keseimbangan.

Bagaiman prinsip ini, apakah berjalan?

Dalam pandangan pertama, saya tidak melihat sarana dan prasarana apapun (hanya bangunan kosong), lalu kami mencoba membangun komunikasi dengan Sekretaris Kecamatan terkait keadaan Puskesmas dan Sistem Rujukan Emergency nanti sebaiknnya bagaimana (tidak ada transportasi dan akses jalan yang sangat sulit). Belum ada kepastian memang, karena dikatakan akan di rapatkan dengan warga saat ibadah di gereja nanti.

Namun, ia sedikit membuka kepada kami terkait pelayanan Puskesmas yang selama ini hanya sebagai tempat pengambilan obat yang dibawa oleh kepala puskesmas 1-2 kali dalam seminggu.

screenshot-2017-09-02-22-14-15-912-com-mxtech-videoplayer-ad-5a58cab316835f15e54ff062.png
screenshot-2017-09-02-22-14-15-912-com-mxtech-videoplayer-ad-5a58cab316835f15e54ff062.png

Benarkah demikian?

Pada kesempatan lain, kami membangun komunikasi dengan kepala Puskesmas. Dan kami menemukan beberapa info,  Puskesmas belum ada Struktur Organisasi, belum pernah ada perencanaan, belum pernah ada lokmin, belum pernah ada pelibatan masyarakat, belum pernah ada dukungan linsek, belum pernah ada SOP, SDMK tidak ada di tempat, belum pernah ada data kesehatan yang falid, belum tersentuh sarana prasarana (alkes, non alkes maupun BHP) bahkan dikatakan terabaikan dan terlupakan oleh "bapak" fungsional kesehatan.

Dari psinsip penyelenggaraan puskesmas yang seharusnya dijalankan, ternyata belum ada satu poin pun yang dijalankan dengan baik. Ingat, belum ada satu poin pun di jalankan dengan baik. Lalu, untuk apa keberadaan puskesmas dengan 5 kecamatan dan 18 desa wilayah kerjanya ini? (saya belum memiliki jumlah KK). Sebab ini pula, judul saya katakan sebagai Puskesmas Terkurung.

Bagaimana instansi fungsionalnya?

Entah, saya tidak berani menjelaskan secara rinci disini ini dan itunya. Namun, tentu terkait persoalan ini sudah berkali-kali kami membangun komunikasi dan koordinasi.

Bagaimana dengan Pemda?

Dari kami sudah melakukan upaya dan memabngun komunikasi dalam beberapa kali pertemuan, bahkan pernah melibatkan orang di instansi funsionalnya, mantan kepala instansi fungsional, ketua PKK, Kabag Politik dan Hukum, Camat bahkan sampai pada Kadis PU. Secara rinci juga tidak bisa kami sampaikan disini.

Ini tantangan yang langka menurut kami. Untuk itu kami terus memanfaatkan sebagai tempat menggali potensi diri masing-masing. Kami pun menancapkan harapan sebagai "magnet" dan semangat baru, meskipun tantangan kami paham begitu "asik" membuat otak error.

Tim kami belum "kalah". Ingat, kami belum "kalah"! kami tetap bertekad membebaskan puskesmas dari kurugannya.

Bagaiamana bentuk perlawanan kami?

Tentu, dengan mandiri dan tanpa sumber daya yang memadai kami akan terus berusaha mengembalikan roh dan mengembalikan fungsi puskesmas sesuai harapan. Keadaan seperti diatas representatif dari semua keberadaan puskesmas di wilayah ini. Untuk itu, kami pun mmepunyai misi menjadikan Puskesmas ini menjadi "cerminan" bagi kabupaten, meskipun selama ini terlihat instansi fungsionalnya "melepas tangan".

Apakah kami terlalu berangan dan sok seperti seoarag akademisi yang teoretis?

Disatu sisi memang benar, karena peluang itu terlihat begitu sempit. Tapi, itulah cara kami membangun aura positif dalam diri, memabngun semangat juang dan bahkan hanya satu-satunya "power" yang kami miliki saat ini hanya semangat dan tekad yang kuat akan sebuah perubahan. Komunikasi, koordinasi dan dukungan akan terus kami galakkan kepada masyarakatnya, lintas sektor bahkan pemdanya karena kami belum "kalah". Ingat, kami belum "kalah!".