Mohon tunggu...
Hisnabaiti
Hisnabaiti Mohon Tunggu... Pernah jadi mahasiswa (baru saja)

Mohon Maaf, Jika Kita Berbeda.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tangan-tangan yang "Bermain" di Balik Kemenangan

24 Mei 2020   08:39 Diperbarui: 24 Mei 2020   09:39 163 55 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tangan-tangan yang "Bermain" di Balik Kemenangan
stidki ar rahmah STIDKI AR RAHMAH | Kemenangan bagi Orang yang Beriman


Adakah terlintas ingin menghitung terima kasih yang belum sempat terucap pada mereka yang telah berjasa pada kita?

Seseorang berkata, "Kau menyangka mampu mewujudkan semua dengan kekuatan, usaha, dan perbuatanmu."

"Ada jalan tak berujung yang akan kita tempuh. Aku tahu, kita tidak mampu melintasinya dengan kaki lemah. Bahkan dalam ratusan ribu tahun kita tak akan mampu melintasi satu tempat pun," kata yang lain.

Jika terus berjalan dan terus berjalan hingga kelelahan dan pingsan, tak akan ada lagi sisa tenaga dalam tubuh. Saat itulah pertolongan datang.

Seperti anak kecil yang disusui dan digendong. Setelah besar ia mampu berjalan sendiri. Dan dibiarkan.

Sekarang saat tidak tersisa sedikit pun tenaga dalam tubuh -- setelah mencurahkan kekuatan dan kesungguhan dari waktu ke waktu, saat tidur maupun terjaga -- akan ditunjukkan pada kita sebuah kasih sayang dan kelembutan. Sehingga dari-Nya kita memiliki kekuatan lagi.

Selama ini kita bisa meraih semua tujuan dengan kedua kaki dan tangan kita sendiri. Betapa banyak ternyata yang gagal, bahkan berkali-kali. Segala daya upaya telah dilakukan. Segala ilmu dan keterampilan telah dikerahkan. Hasilnya, gagal total!

Seperti ketika kita mencintai seseorang, apakah kita telah mencintai fisiknya? Atau keistimewaan perilaku yang membuat hati kita senang?

Bagaimana halnya dengan rasa hormat pada orang lain? Apakah karena pangkat dan kedudukannya? Atau karena keuntungan yang bisa kita nikmati karena jasa-jasanya.

Seorang murid sangat mencintai dan mengagumi gurunya. Akan mudah ditebak, bahwa murid mencintai dengan seluruh kehormatan. Dan ilmu yang telah diberikan. Dengan ilmu sebuah jalan keselamatan mungkin saja mampu diperoleh.

Perumpamaan lain, seperti sebuah cermin kecil yang terbuat dari kaca, hasil pencongkelan pada kotak pembungkus bedak. Di mana kita meletakkannya? Bandingkan dengan cermin ulang tahun yang berbingkai emas permata, hadiah ulang tahun. Seperti apa rasanya ketika cermin itu digunakan? Bukankah keduanya memantulkan wajah kita?

Penghargaan berbeda pada obyek yang berbeda. Berdasarkan latar belakang dan sejarahnya di masa silam.

Seorang murid setelah sekian puluh tahun masih saja mengenang gurunya. Bahkan hingga perilaku dan gaya bicaranya. Melekat begitu kuat. Pada saat bertemu atau berpapasan akan membungkuk dan memberikan salam. Mengapa?

Tak sedikit orang-orang besar yang pada saat memberikan sambutan di podium terhormat menyebut nama gurunya dengan ucapan terima kasih tak terhingga. Demikian juga kita dapati dalam sebuah buku karya-karya ternama, menyebutkan orang-orang tercinta dan berterima kasih atas dukungannya.

Dari contoh di atas, sedikit kita pahami bahwa perjalanan sebuah kehidupan tergantung dari banyak tangang orang-orang yang telah berjasa pada kita.

Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ketika seharusnya pada saat SMA berhenti karena tak kuasa membayar SPP dan uang jajan sekolah. Keputusasaan yang sungguh amat memprihatinkan.

Berkat bantuan saudara sepupu, akhirnya diperkenankan tinggal di rumahnya dengan tugas membantu pekerjaan rumah dan mengasuh anaknya. Dari sana biaya sekolah dan jajan ditanggung.

Sebuah bantuan yang besar hingga akhirnya bisa menyelesaikan SMA, tanpa terkendala. Orang lain pasti akan menyangka, sepadan karena bantun diberikan atas imbalan pekerjaan. Tetap saja sangat luar biasa bagiku sebagai penerima. 

Sekali lagi, kita ulangi tentang seseorang yang berkata, "Kau menyangka mampu mewujudkan semua dengan kekuatan, usaha, dan perbuatanmu." Tidak sama sekali! Ternyata banyak tangan yang telah terulur dari langkah kaki kita. Jalan memang benar-benar tak berujung. Beriringan dengan terlihat atau tidak. Kita benar-benar sedang berteman dengan sekian banyak dukungan.

Sebagian besar kita lupa, ada tangan yang berada di belakang kita setiap detik telah mendorong hingga perjalanan menjadi lancar. Ada tangan meraih-meraih menarik hingga membuat kita mampu berdiri. Menapaki jalan yang sungguh tak mudah untuk dilalui.

Alhasil, Kadang lebih parah ketika keberhasilan telah digenggam dengan ponggah mengatakan, "Kesuksesan yang telah aku raih karena kecerdasanku. Keuletan perjuanganku. Kedisiplinan, dan seterusnya."

Ia benar-benar lupa! Ada ibu yang setiap tengah malam bangkit dan mendoakan buat keberhasilannya. Ada bapak yang tersungkur menahan air mata menjaga keberhasilan kita.

Dalam setiap pertarungan menghadapi setiap tantangan yang menghadang laju perjalanan tak berujung. "Keberuntungan" telah menjadikan kita "pemenang" meskipun jerih payah tak terhitung lagi. Tetap saja ternyata kita tak sendiri.

Tangan-tangan tersembunyi mengiringi menjadi penyokong. Bahkan tangan orang yang paling kita benci, orang yang paling membenci kita. Hadirnya mereka mampu membangkitkan motivasi, menambah semangat juang dan bertahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN