Mohon tunggu...
Hisnabaiti
Hisnabaiti Mohon Tunggu... Pernah jadi mahasiswa (baru saja)

Mohon Maaf, Jika Kita Berbeda.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Stigma, Berpikirlah Berkali-kali Sebelum Melekatkan

21 Mei 2020   11:32 Diperbarui: 22 Mei 2020   00:38 202 68 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stigma, Berpikirlah Berkali-kali Sebelum Melekatkan
kbr.id Meruntuhkan Stigma - kbr.id


Bagaimana stigma orang terhadapmu? Atau Stigmamu terhadap mereka yang kau kenal?

Ketika kita membeli kain, apa yang terpikir? Ada yang membelinya untuk baju, maka motif kain disesuaikan dengan motif baju. Jika membeli kain untuk celana, maka warna dan kainya adalah untuk celana. Demikian juga untuk lain-lainnya.

Kita membeli kain sesuai kebutuhan kita. Terpikirkah ketika kain tersebut belum dijahit dan dikenakan berubah namanya? Kain tetaplah akan disebut kain sebelum menjadi baju atau celana.

Seperti halnya huruf abjad. Ketika anak TK diperkenalkan dengan huruf abjad ia akan mengeja dan mengingatnya. Satu persatu huruf tersebut dihafalkannya.

Begitu sudah hafal, barulah diajarkan caranya merangkai. Jadilah sebuah kata. Padahal ia sebelumnya telah mampu menyebutkan dengan fasih kata-kata. Yang diperlukan hanyalah lambang dari kata yang diucapkannya.

Proses pendewasaan pun berjalan, hingga jenjang pendidikan selanjutnya ia belajar bagaimana menyusun kalimat. Sampai pada sebuah paragraf. 

Dengan analogi yang sama, dalam proses itu ia telah mampu bercerita. Jadi meskipun pembelajaran berlanjut ke tingkat yang lebih rumit tetap saja, hanya pengenalan simbol yang berlanjut.

Seperti halnya kain, dibuat apa pun, masih berbentuk kain. Demikian juga dengan huruf, menjadi sebuah certia, tetap merupakan rangkaian huruf. Apa maknanya?

Berbedah halnya dengan tepung yang diadon kemudian menjadi mie, atau roti. Orang tak akan menyebut tepung lagi. Melainkan roti terbuat dari tepung.

Aku jadi teringat pada sebuah kejadian di desa. Tentangga kami adalah seorang perawat, bidan desa. Suaminya juga bekerja di Puskesmas tersebut menjadi tenaga administrasi. Sekarang istrinya telah menjadi Kepala Puskesmas, semwntara suaminya sudah bekerja di kecamatan.

Ketika itu pada suatu sore kendaraan roda duanya mau dinaikan ke dalam rumah. Nahas membuat tangga untuk menaikkan kendaraan ke dalam rumah patah. Kendaraan terjatuh tepat mengenai kakinya. Tertindih kendaraanlah sebelah kanan kakinya.

Logika masyarakat awam pasti mengatakan bahwa yang bersangkutan harusnya dibawa ke puskesmas kemudian dirawat dan dirujuk ke rumah sakit untuk operasi.

Ternyata tidak! Yang bersangkutan meminta agar dibawa ke tukang urut. Dan kebetulan di daerah kami ada tukang urut yang entah dengan kemampuan apa mampu mengurut kaki patah menjadi tersambung kembali. Sebuah alternatif pengobatan.

Pertanyaannya mengapa orang itu lebih yakin dengan tukang urut tadi dari pada operasi rumah sakit? Dan memang benar, ternyata beberapa minggu kemudian sudah terlihat lagi jalan pagi tanpa bantuan apa pun.

Dari cerita di atas dan hubungannya dengan kain yang tetap menjadi kain serta tepung yang berubah jadi kue atau mei tadi apa? Pasti kita akan bertanya. Sepertinya tak nyambung sama sekali.

Aku hanya ingin mengetengahkan sebuah pemikiran tentang berubahnya sifat asli (nama) berdasarkan keyakinan atau percayanya seseorang terhadap sebuah obyek yang sama dengan sebutan berbeda.

Orang akan disebut cerdas jika mampu menganalisa data dengan akurat memalui pengamatan cermat. Kemudian mampu mengambil kesimpulan yang akurat. Tentang pendapat ini mungkin masih panjang perdebatannya.

Lalu apa yang menjadi titik bahasan kita?

Dengan sebuah contoh sederhana mungkin akan sedikit nampak apa makna uraian panjang di atas.

Misalnya ketika malam, hujan gerimis, listrik saat itu sedang padam. Jelas suasana gelap gulita. Kemudian kita mendengar suara jeritan. Apa yang pertama kali terpikirkan? Atau kalau mendengar ada suara tangisan dari luar rumah.

Begitu jeritan atau tangisan itu adalah suara yang tidak kita kenali mungkin akan terpikir segala macam pikiran yang mengerikan dan menakutkan. Namun, pada saat suara yang kita dengar adalah suara orang yang kita kenali pasti pikiran kita berubah.

Mungkin saja sedang terjadi sesuatu, mungkin adanyang keras butuh pertolongan, ada yang meninggal, atau terjadi pertengkaran suami istri dan sebagainya.

Sungguh sangat berbeda pikiran kita terhadap siara yang sama. Padahal sama-sama suara jeritan atau tangisan.

Stigma yang melekat pada kita mungkinkah sebelumnya teripikirkan, seperti kain sebelum menjadi baju dan celana, tepung menjadi roti, atau karangan cerita tertulis yang lebih baik dari bercerita biasa hingga harus ada proses pembelajaran sedekian lama dan berjenjang?

Kita dengan mudah memberikan stigma pada orang lain. Padahal semua yang melekat hanyalah prasangka dan kira-kira. Harus menjadi cerdas dahulu sebelum melekatkan stigma pada institusi, lembaga, profesi, atau orang.

Jika tidak maka stigma yang kita lekatkan akan menjadi bumerang nantinya. Mungkin juga stigma seperti orang yang memilih ke tukang urut untuk pengobatan kakinya yang patah tadi.

Dengan pertimbangan bahwa dengan diurut akan sembuh lebih cepat dan efisien dibanding dioperasi. Tentu saja berdasarkan keyakinan terhadapan pengalaman mereka yang sembuh lebih cepat melalui pengurutan.

Jadi, jangan sembarang memberikan stigma pada orang lain sekehendak hati. Ada tanggung jawab yang harus dipikul. Stigma yang kita ucapkan akan didengar oleh banyak telinga. Yang kita tuliskan akan dibaca oleh banyak mata.

Begitu stigma negatif meluncur dan melekat pada seseorang, instansi, institusi, lembaga, dan sebagainya, bila dilakukan oleh orang yang sangat berpengaruh mungkin saja akan sangat mempengaruhi orang lain. Akibat buruk juga akan besar pengaruhnya pada jalannya kehidupan di masa yang akan datang.

VIDEO PILIHAN