Mohon tunggu...
HIMIESPA FEB UGM
HIMIESPA FEB UGM Mohon Tunggu... Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA) merupakan organisasi formal mahasiswa ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada DI Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Indonesia, Teknologi, dan Pertumbuhan Ekonomi

23 September 2019   17:44 Diperbarui: 23 September 2019   17:53 1029 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia, Teknologi, dan Pertumbuhan Ekonomi
dok. FSDE 2019

Oleh: Steering Committee FSDE 2019

Di mana Anda membaca artikel ini? Lewat layar gawai? Perangkat yang mana? Apakah Anda mengakses tulisan ini lewat smartphone Anda yang rasanya makin lama makin canggih? Atau mungkin Anda tengah membaca di depan komputer Anda yang belakangan ini sangat dibutuhkan dalam mendukung performa pekerjaan sehari-hari?

Kegiatan kita kini sudah nyaris tidak bisa lagi dipisahkan dengan teknologi. Kita memulai hari dengan mematikan alarm di smartphone dan mengakhirinya dengan mengirim pesan selamat malam kepada orang tersayang yang berada jauh dengan kita. Pagi hari kita menggunakan kendaraan untuk pergi ke tempat kerja, menyalakan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas, dan menelusuri media sosial untuk mencari hiburan dan mengisi waktu. Menilai besarnya peran teknologi dalam segala aktivitas kita dan mudahnya kita beradaptasi dengan inovasi baru, tidak mengherankan jika kita sering melupakan seberapa cepat dan dahsyatnya teknologi berkembang belakangan ini.

Di abad ke-21 ini kita tidak perlu berpikir dua kali untuk menggunakan telepon genggam dan melakukan panggilan ke seseorang di belahan dunia lain, seringkali bahkan sambungan terjadi lewat jaringan internet. Beberapa dekade lalu, di tahun 1980-an, teknologi paling mutakhir adalah "brick phone" yang dipopulerkan oleh Michael Douglass di Wall Street (Parsons, 2018). Tidak hanya besar dan berantena, cikal bakal telepon genggam ini juga hanya mampu bertahan beberapa jam dengan baterai. Kini, tampilan dari telepon genggam sudah jauh lebih praktis dan memiliki fitur yang tidak bisa dibandingkan lagi dengan zaman itu.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mencengangkan. Sebagaimana diprediksikan di tahun 1965 oleh Gordon E. Moore, insinyur Amerika dan co-founder dari Intel, jumlah transistor pada silicon chip akan mengganda setiap dua tahun. Prediksi itu kemudian dikenal secara luas sebagai Moore's Law (Gregersen, 2019). Lebih dari lima puluh tahun kemudian, prediksi Moore tersebut masih dapat dilihat dalam fenomena pengembangan teknologi. Saat ini bahkan waktu yang dibutuhkan untuk penggandaan jumlah transistor pada chip komputer berkurang hingga hanya selama delapan belas bulan, dibandingkan dengan prediksi dua tahun yang dikatakan Moore (Tardi, 2019). Biarpun pertumbuhan eksponensial ini diperkirakan akan mencapai puncaknya dalam sepuluh tahun ke depan, Moore Law masih sering digunakan untuk acuan dalam melakukan perencanaan dan penargetan research and development di bidang teknologi.

Mempertimbangkan ketergantungan terhadap perkembangan teknologi dalam setiap aspek kehidupan, tentunya bukan hal sulit untuk menghubungkannya dengan sektor perekonomian. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa perkembangan teknologi merupakan inti yang mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Dalam Solow growth model, output yang dihasilkan dengan jumlah input yang sama dapat meningkat hanya jika disertai oleh peningkatan teknologi yang dihitung dalam total factor productivity atau TFP (Mankiw, 2016). Selain itu, technical progress function juga telah dikembangkan untuk melihat hubungan positif antara technical progress dari waktu ke waktu dengan peningkatan output yang dihasilkan suatu ekonomi (Hayes, 2019). Pada akhirnya, kita dapat melihat bahwa perbedaan dari TFP menjelaskan perbedaan kecepatan dalam pembangunan ekonomi antarnegara.

Lantas, bagaimana kondisi perkembangan teknologi di Indonesia relatif dengan pengadopsian teknologi di seluruh dunia? Jika kita menggunakan penggunaan internet sebagai proxy dari penggunaan teknologi, Indonesia masih cukup tertinggal jauh. Di tahun 2017, hanya 32,29% penduduk Indonesia yang menggunakan internet selama tiga bulan terakhir (Grafik 1). Biarpun angka tersebut sudah berada di atas jumlah penduduk India (29,55%) dan Myanmar (25,07%) yang menggunakan internet menurut data set yang sama, namun nilai Indonesia masih jauh tertinggal dari tetangga terdekat kita, Malaysia, yang 80,14% penduduknya telah memiliki akses internet di tahun 2017. Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan positif dari penggunaan internet yang ditunjukkan oleh Grafik 2 pun sesungguhnya masih membutuhkan dorongan lebih untuk membuat Indonesia kompetitif dalam hal pengadopsian teknologi dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

                                                                    Grafik 1. Persentase populasi yang menggunakan internet dalam 3 bulan terakhir, 2017

Sumber: ourworldindata.org
Sumber: ourworldindata.org
                                                                                                                                 

                                                              Grafik 2. Persentase penduduk yang menggunakan internet dalam 3 bulan terakhir di Indonesia

Sumber: ourworldindata.org
Sumber: ourworldindata.org
Penggunaan teknologi tersebut juga tergambar pada nilai ekspor komoditas manufaktur yang dihasilkan dengan teknologi tinggi. Melalui data yang dirilis oleh World Bank, tampak bahwa Malaysia yang sebelumnya ditunjukkan memiliki persentase adopsi internet yang jauh lebih tinggi dari Indonesia memiliki ekspor untuk komoditas berteknologi tinggi yang juga jauh melampaui nilai Indonesia. Pada tahun 2017, nilai high-technology export Malaysia adalah 52,77% dari keseluruhan ekspornya. Sementara itu, high-technology export Indonesia hanyalah sebesar 8,02% dari total ekspor, nilai yang bahkan masih di bawah India yang memiliki persentase high-technology export sebesar 9,01%.

                                                                                             Grafik 3. Persentase ekspor manufaktur dengan teknologi tinggi
Sumber: World Bank
Sumber: World Bank
Kini, di era Industrial Revolution 4.0, kebutuhan untuk mengejar ketertinggalan dalam aspek teknologi semakin menjadi relevan. Dalam era ini, semua negara berlomba-lomba untuk mengejar laju kemajuan teknologi dan mengambil posisi kompetitif dalam ekonomi global.  Indonesia tentunya juga tidak ingin tertinggal dalam perlombaan berbasis teknologi ini. Menurut Kementerian Perindustrian dalam rancangannya yang berjudul Making Indonesia 4.0, Indonesia akan berkomitmen mencapai target industri manufaktur yang kokoh yaitu; menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia berdasarkan PDB, menggandakan rasio produktivitas-terhadap-biaya, mendorong ekspor netto menjadi 10 persen dari PDB, dan menganggarkan 2 persen dari PDB untuk penelitian dan pengembangan. Untuk itu, Kemenperin telah menetapkan beberapa prioritas dalam inisiatif "Making Indonesia 4.0" tersebut. Salah satu diantaranya adalah pembangunan infrastruktur digital, pengembangan SDM, pemberian insentif untuk pengembangan teknologi, dan peningkatan minat terhadap investasi asing.

Tugas Indonesia untuk mengejar ketinggalan masih terbilang cukup berat. Di tahun 2014, produktivitas tenaga kerja Indonesia yang dihitung dari PDB per kapita dalam dolar internasional yang telah disesuaikan dengan inflasi dan purchasing power parity adalah sebesar $10,88. Produktivitas tenaga kerja Malaysia di tahun tersebut telah melebihi dua kali tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia yaitu sebesar $20,78 per jam (Grafik 4). Selisih dengan Jerman yang saat itu memiliki produktivitas tenaga kerja tertinggi terbentang lebih dari $50 per jamnya. Tanpa dorongan dari pengadopsian teknologi yang lebih masif, jalan Indonesia dalam meningkatkan produktivitasnya akan menjadi mustahil.

                                                                                                                       Grafik 4. Produktivitas Tenaga Kerja

Sumber: ourworldindata.org
Sumber: ourworldindata.org
Dikehendaki atau tidak, kemajuan teknologi akan terus berlari dengan tingkat kecepatan yang terus mengganda. Indonesia sebagai sebuah ekonomi harus ikut mengejar segala kemajuan tersebut untuk mempertahankan, atau bahkan memperbaiki, posisinya dalam kompetisi global. Dengan era digitalisasi baru yang kini terjadi, Indonesia perlu lebih banyak memberi perhatian terhadap pengadopsian teknologi terbaru untuk dapat mendukung performa ekonomi, terutama dalam hal pertumbuhan ekonomi yang sangat dibutuhkan dalam mendanai pembangunan menuju kesejahteraan yang lebih baik.

References:
Gregersen, E. (2019). Moore's law | computer science. In Encyclopdia Britannica. Retrieved from https://www.britannica.com/technology/Moores-law
Hayes, A. (2019, September 20). Technical Progress Function Definition. Retrieved September 20, 2019, from Investopedia website: https://www.investopedia.com/terms/t/technical-progress-function.asp
Kementerian Perindustrian. (2018). Making Indonesia 4.0. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI).
Mankiw, N. G. (2016). Macroeconomics. New York: Worth Publishers.
Parsons, J. (2018, April 18). How has technology changed? The biggest advancements over the last few decades. Retrieved September 20, 2019, from mirror website: https://www.mirror.co.uk/tech/how-technology-changed-biggest-advancements-12378310
Ritchie, H., & Roser, M. (2016). Technology Adoption. Retrieved September 20, 2019, from Our World in Data website: https://ourworldindata.org/technology-adoption
Roser, M. (2013). Economic Growth. Retrieved September 20, 2019, from Our World in Data website: https://ourworldindata.org/economic-growth
Tardi, C. (2019). Moore's Law. Retrieved September 20, 2019, from Investopedia website: https://www.investopedia.com/terms/m/mooreslaw.asp

VIDEO PILIHAN