Mohon tunggu...
Himatul Aliyah
Himatul Aliyah Mohon Tunggu... "Menulis adalah bekerja untuk keabadian," Pramoedya Ananta Toer.

Meski sastra dikata hal purba, tidak jadi trend, tak masalah buatnya. Ia tetap mencintai dunia literasi. Cita-citanya tidak muluk, tidak hendak mengubah tatanan dunia dengan pemikirannya. Namun, sekedar berbagi sudut pandang dengan para pembaca dan masyarakat luas.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Berbisnis Ideologi

11 September 2020   18:58 Diperbarui: 11 September 2020   18:51 51 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berbisnis Ideologi
(Sumber gambar: Umma.id)

Bisakah ideologi seseorang dibeli? Jangan tergesa-gesa mengatakan "tidak". Dengarkan dahulu sebuah lagu ciptaan musisi kenamaan tanah air yang namanya melegenda, Iwan Fals.

Uang adalah bahasa kalbu

Santapan rohani para birokrat

Tentu saja tidak semuanya

Tapi yang pasti banyak yang suka

Uang memang bisu, tapi kepentingan dibaliknya menolak bungkam. Uang tak memiliki paras, namun anehnya banyak yang suka bahkan tergila-gila. Uang lain dengan pelumas. Namun, daya kerjanya jauh lebih dahsyat. Pelumas tak dapat jadi pelicin kepentingan, uang jelas bisa. 

Itulah yang dimaksud oleh Iwan Fals dengan Uang adalah bahasa kalbu, tanpa a i u e o, orang sudah paham maksud kepentingan yang dibersamai uang.

Memang fungsi utama uang adalah alat pembayaran. Maka, jangan heran bila uang mampu membeli apa saja, termasuk ideologi politik. Lalu apa yang terjadi bila ideologi politik dibeli dengan uang? Persisnya Saya tak tahu. Tapi yang jelas, bisa menyebabkan seniman semacam Iwan Fals gelisah. Dengarkan saja curahat hati yang ia tuangkan dalam lagu yang diciptakannya:

Jangan heran korupsi menjadi-jadi

Habis itulah yang diajarkan

Ideologi jadi komoditi

Bisa diekspor ke luar negeri

Apakah anda ikut menjadi gelisah? Bila tidak, wajar. Kan Anda bukan seniman.

Suatu malapetaka, jika hanya seniman yang dibuat gelisah dengan praktik politik uang yang terus mewarnai negeri ini. Sebagai rakyat yang berdaulat, harusnya Saya, Anda, juga seluruh masyarakat turut merasa gelisah. Jangan dengan dalih "tidak baik menolak pemberian orang" lantas membuat sah berlakunya politik uang. Uang dibalik suatu kepentingan bukanlah pemberian, melainkan kepamrihan. Sesuatu dianggap sebagai pemberian jika diberikan tulus tanpa imbalan. Kalau dibaliknya atau suatu maksud dan tujuan? Itu yang disebut 'ada udang dibalik bakwan'.

Terasa sangat aneh bila rakyat dengan suara lantang mengutuk tindak korupsi yang dilakukan wakil-wakilnya, namun hanya cengar-cengir bila disanguni. Ya, rakyat nampaknya memiliki kepribadian ganda. Mengecam korupsi, namun menerima politik uang dengan senang hati. 

Alasannya "itu kan banca'an dari Si A supaya kepentingannya dilancarkan". Loh, pantas saja bila Iwan Fals mengatakan uang sebagai santapan rohani rakyat dan wakil rakyat. Bukan rakyat yang tak paham tentang politik uang dan suap-menyuap, namun memang karena tak tahan terhadap godaan. Orang mendadak jadi plin-plan jika uang sudah masuk kantong. Bahkan prinsip dan ideologinya turut masuk ke dalam kantong. Jika sudah begini, korupsi ibarat "balik modal" dalam sebuah bisnis.

Dalam konteks pemilu, politik uang dianggap sebagai bagian. Lebih parahnya dianggap sebagai "bagi-bagi rezeki". Ibarat orang bersedekah saat memiliki hajat. Parah bukan? Bagaiamana bisa, sedekah yang merupakan tindakan mulia disandingan dengan praktik pembelian suara. Rakyat harus dibuat sadar, bahwa 'serangan fajar' tersebut masuk dalam kategori kecurangan. Bahkan, termasuk tindak terlarang menurut regulasi yang berlaku. 

Harusnya tak ada maklum menyangkut pelanggaran hukum. Rakyat harus dibuka matanya, bahwa uang dalam praktik jual-beli suara adalah bukti jika sang kandidat tidak memiliki kemampuan kecuali terbatas. Oleh karena itu, ia menggunakan uang untuk menutup keterbatasan. Atau tidak benar demikian? Ataukah justru politik uang memang sudah menjadi tradisi yang tidak afdal jika tidak dilakukan?

Memang sesuatu yang edan bila beranggapan bahwa ideologi bisa jadi komoditi. Tapi memang kenyataannya kita hidup di jaman yang edan. Ideologi sebagai sebuah komoditi yang diperdagangkan rupanya tak hanya diresahkan oleh Iwan Fals. Sastrawan terkemuka, Goenawan Mohammad juga memiliki kegelisahan yang sama. Hal tersebut ia tuangkan dalam Catatan Pinggir 7:

" Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah privatisasi, tapi yang selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik pribadi, dan akibatnnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN