Mohon tunggu...
Himasa FEBUnmas
Himasa FEBUnmas Mohon Tunggu... Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi FEB Unmas Denpasar

Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi FEB Unmas Denpasar

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Stock Split, Informasi Bernilai Ekonomiskah?

6 April 2020   11:54 Diperbarui: 6 April 2020   12:03 5 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Ni Nyoman Ayu Suryandari.,SE.,MSi.,Ak.,CA ( Dosen Prodi Akuntansi FEB Unmas Denpasar)

Stock split merupakan suatu fenomena dalam pasar modal yang masih banyak diperdebatkan. Stock split kalau kita terjemahkan dengan bahasa sederhana artinya adalah pemecahan saham. Stock split ini akan secara langsung mengurangi nilai nominal per lembar saham perusahaan. Dari aspek akuntansi tidak ada perubahan yang terjadi, namun beberapa hal penting akan tercantum dalam catatan atas laporan keuangan. Dua teori yang melatarbelakangi terjadinya stock split, yaitu signaling theory dan trading range theory. Menurut signaling theory, stock split ini akan memberikan sinyal bagi para investor dalam mendapatkan return. Sedangkan menurut trading range theory, karena perusahaan merasa harga sahamnya sudah terlalu tinggi maka mereka ingin melakukan penataan kembali terhadap harga sahamnya.

Misalnya adalah PT A mempunyai harga saham awal adalah Rp. 500/ lembar saham dengan jumlah saham beredar adalah 10.000 lembar saham. PT A melakukan stock split 1: 2 maka jumlah lembar saham PT A yang beredar setelah stock split menjadi dua kali lipat yaitu 20.000 lembar saham namun terjadi penurunan harga saham dua kali lipatnya yaitu menjadi Rp. 250. Lalu? Nilai sahamnya berapa? Semakin meningkat atau semakin menurunkah dengan adanya stock split?

Nilai sahamnya akan tetap saja sama. Coba kita hitung. Nilai saham sebelum stock split adalah Rp. 5.000.000 (yaitu Rp.500 x 10.000 lembar saham) sementara nilai saham setelah stock split adalah sama yaitu Rp. 5.000.000 (yaitu Rp. 250 x 20.000 lembar saham). Jadi sebenarnya stock split tidak mengandung informasi yang ekonomis dan secara teori tidak berpengaruh terhadap harga saham. Nah, kalau stock split ini sebenarnya tidak memperkaya pemegang saham, lalu mengapa stock split ini masih tetap dilakukan? Apa tujuan dilakukannya stock split? Jika toh nilai sahamnya akan sama saja. Penjelasannya begini. (1). Jika perusahaan merasa harga sahamnya sudah tinggi, saham hanya dapat dibeli oleh kalangan atas saja atau dengan kata lain jumlah investor yang mampu membeli adalah terbatas. Banyak investor baru yang akhirnya berinvestasi setelah perusahaan melakukan stock split sehingga mengakibatkan harga sahamnya meningkat. Hal ini karena stock split akan meningkatkan daya tarik investor retail. (2). Harga saham yang lebih murah dan jumlah saham yang beredar lebih banyak akan meningkatkan volume perdagangan. Secara jangka pendek, kemungkinan terjadi kenaikan harga saham akan lebih mungkin karena terjadi peningkatan daya beli. Namun kenaikan harga saham ini akan terjadi apabila terdapat peningkatan kinerja perusahaan. Jika secara fundamental, kinerja perusahaan tidak baik maka tetap saja tidak akan berpengaruh terhadap perubahan volume perdagangan saham. Sehingga disarankan bagi investor yang ingin berinvestasi pada perusahaan yang melakukan stock split, lihatlah dulu secara fundamentalnya. Seharusnya, stock split tidak akan menimbulkan abnormal return, karena informasi terkait dengan stock split dapat diakses dengan mudah oleh investor. Namun kenyataannya, stock split dapat menimbulkan abnormal return karena investor memiliki pandangan yang berbeda-beda sehingga memiliki reaksi yang berbeda sehingga mampu menimbulkan abnormal return.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x