Mohon tunggu...
Hilmi LasmiyatiMiladiana
Hilmi LasmiyatiMiladiana Mohon Tunggu... Guru - Laksmi Purwandita

Guru bahasa Indonesia Penulis belasan antologi bersama Penulis antologi puisi solo DARI NOL HINGGA ANANTA

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Bunga untuk Ibu

4 Juni 2020   07:28 Diperbarui: 4 Juni 2020   07:25 739
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Entah aku mulai dari mana. Sebuah serangan telak telah menghantam manusia." Lebah mulai menjelaskan.

"Apakah musuhnya besar dan kuat seperti elien?" Kemboja penasaran.

Lebah menggeleng. "Justru sebaliknya ia sangat kecil tak bisa dilihat oleh mata. Ia menyerang garang lewat kerumunan."

Kemboja kaget. "Oh, ini mengapa tak ada lagi yang mengantar jenazah?"

Lebah menggangguk, " Namanya virus Corona. Ketika ia menyerang, manusia akan meninggal karena sulit bernapas. Jutaan manusia telah meninggal karenanya."

"Namanya begitu indah, namun ternyata mematikan." Kemboja bergidik.

"Nah, ia salah satu korbannya." Lebah menunjuk pada makam yang barusan dikuburkan.

***

Suasana segar pagi ini. Kemboja terbangun dari tidur panjangnya. Tersenyum pada daun dan mengucap selamat pagi pada dahan.

Suasana begitu hening. Penjual bunga dan gerombol anak peminta-minta sudah lama tak ia lihat. Mata Kemboja melihat ke arah pekuburan.

"Ini makamnya?" Sayup suara jelas menggaung di antara deretan nisan. Seorang gadis kecil berjongkok mengeja nama di makam yang dikuburkan astronot.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun