Hilda Rahmawati
Hilda Rahmawati

Buruh jalanan yang suka membaca dan menulis | hildarahmawatii.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

"Dear Tolak Angin, Aku Benci Jalan-jalan"

11 Agustus 2018   09:31 Diperbarui: 11 Agustus 2018   10:21 407 1 0
"Dear Tolak Angin, Aku Benci Jalan-jalan"
Dokpri

"Aku benci jalan-jalan! Kemana-mana selalu mabuk perjalanan! Bukankah ini sangat menyebalkan?" gerutuku dalam hati.

Aku selalu kesal kalau melihat orang lain jalan-jalan. Kayaknya asyik banget gitu, santai, tanpa beban, dan tidak ada raut wajah pusing maupun pucat!

WARISAN MABUK PERJALANAN

Dulu, sewaktu aku masih menjadi pelajar SD, aku terpaksa mengikuti wisata perjalanan kelulusan di sekolahku. Astaga, tenggorokanku rasanya mau tercekik waktu itu. Bagaimana tidak, ibuku sendiri yang mewariskan mabuk perjalanan itu dalam darahku! Sehingga, setiap bepergian jauh, aku selalu mabuk! Bahkan, ibu sendiri jarang pergi jalan-jalan. Pergi sih, kalau jaraknya dekat. Kalau terpaksanya jauh, maka siap-siap segepok tas berisi obat-obatan selalu menemani!

Biar kuberi tahu, waktu SD aku juga pernah merengek sama ibuku, tidak mau pergi study tour. Pernah tawar-menawar juga sama wali kelasku, saking bencinya sama bepergian jauh. Begini ceritanya.

Diam-diam saat jam istirahat aku nekat menemui wali kelasku di ruangannya agar tidak ketahuan teman-temanku yang lain.

"Bu, kalau Saya tidak mengikuti perjalanan wisatanya bagaimana?" tanyaku malu-malu dan ketakutan.

Tahu tidak, wali kelasku bilang apa?

"Ya gimana ya, nanti kamu nggak bakal tahu Nilai Ujian Akhir Nasionalmu dong! Soalnya pengumumannya lewat surat, yang dibuka sendiri-sendiri oleh setiap siswa," katanya dengan santai.

Tubuhku langsung lemas. Ternyata, setelah aku bertanya kesana-kemari, kegiatan ini memang sengaja diadakan bersamaan dengan pengumuman UN. Kukira hanya sekadar perayaan kelulusan!

PERJALANAN NAIK BIS

Akhirnya aku terpaksa mengikutinya. Berbagai ritual kujalani untuk mencegah terjadinya mabuk perjalanan. Mulai dari memakai koyo di badan, memakai minyak angin sebelum berangkat, minum obat anti mabuk perjalanan, duduk di paling depan, dan tidur terus selama perjalanan. Astaga! Ternyata sejak dini, aku sudah merasakan bagaimana menjadi orang tua yang memakai koyo, padahal usiaku masih menginjak belasan tahun.

Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Aku tetap muntah di perjalanan. Padahal, jalannya tidak terlalu berkelok-kelok, naik-turun, bahkan AC dalam busnya tidak terlalu dingin. 

Teman-temanku pun jadi khawatir saat bermain denganku, karena setiap aku diajak main ke wahana yang ada di sana, raut wajahku sudah berkata, "Tolong, jangan bawa aku ke sana!" Ha, menyedihkan!

Penderitaanku tidak berhenti sampai di situ saja! Memasuki awal-awal SMP, baru beberapa bulan saja sudah diadakan stoudy tour! Astaga, belum lama aku terbebas dari mabuk perjalanan, kini aku harus mengalaminya lagi? Kalau ada pilihan, aku lebih baik rela mengeluarkan uang untuk tidak mengikuti study tour, daripada harus mengikutinya. Haha! Akhirnya aku terpaksa mengikutinya.

Aku menerka-nerka. Jangan-jangan, besok kalau di akhir tahun ada wisata perpisahan juga, sama seperti sewaktu aku SD? Belum lagi SMA, pasti setiap jenjang sekolah selalu ada kegiatan wisata atau study tour! Lalu, akankah aku mabuk perjalanan terus? pikirku.

DARI TERPAKSA LALU JADI BIASA

Sejak dulu, ibuku selalu menyuruhku untuk meminum Tolak Angin Cair sebelum berangkat perjalanan jauh. Namun, aku belum mau meminumnya karena aku tidak suka jamu. 

Aku hanya meminum obat anti mabuk perjalanan, itu pun tidak mempan! Setelah itu aku kapok dan tidak mau minum obat anti mabuk perjalanan lagi! Akhirnya, mau tidak mau aku harus rela meminum Tolak Angin Cair demi kesehatan badanku! Tak terasa, sepanjang perjalanan tubuhku masih terasa hangat, meskipun berada dalam ruangan berAC.  

Aku baru tahu, ternyata ada Tolak Angin juga ada dalam bentuk permen. Akhirnya aku langsung membelinya tanpa pikir panjang. Aku memakannya di sepanjang perjalanan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3