Cerpen

Bagai Anak Burung dalam Sangkar

3 April 2019   01:31 Diperbarui: 3 April 2019   01:35 6 0 0

Tiga hari lagi hasil ujian nasional akan diumumkan, seperti anak-anak lain yang ingin melanjutkan bersekolah di perguruan tinggi saat itu selalu dinanti kedatangannya.

Harapan bagi setiap orang tua di kampung untuk anak-anaknya beroleh pendidikan ialah keistimewaan tak berujung, harus disyukuri setiap orang di desa.

"sandi kelak kuliahmu dimana" ujar Rino dengan nafas masih tersengal-sengal saat duduk.

"daan tau juga kuliahnya dimana kelak" sahut sandi seraya pandangan dilempar jauh menyusuri anak sungai yang melintas di depan rumah.

Rino menjadi salah satu anak di kampung yang cukup beruntung, orang tuanya memiliki tanah cukup luas dengan sawah berhektar-hetar. Selain itu orang tuanya  ingin anaknya beroleh pendidikan di tanah jawa membuat Rino ketiban nasib untung padanya.

"rencananya ayah ingin aku be kuliah di jawa!" tanpa di tanya sandi yang masih memandang ke arah sungai Rino menceritakan nasib baiknya itu.

"pilih masuk fakultas apa kelak engkau kuliah?" balas sandi dengan suara pelan.

"masuk fakultas pertanian! biar aku bisa mengembangkan pertanian di kampung" sahut Rino.

''engkau bagaimana! Mau masuk di fakultas apa kelak?" Rino terus bertanya tanpa belum sadar dengan tingkah laku Sandi yang sudah dari tadi duduk termenung di sampingnya.

Berbeda dengan Rino yang beroleh untung dari orang tunya. Nasib untung sandi bagai anak burung dalam sangkar induk, terkurung dalam ego seorang perempuan yang sudah melahirkannya.

Seperti anak burung kelak nanti tentu akan terbang bebas, melatih kedua sayapnya agar kelak menjadi burung yang kuat terbang jauh melalang buana ke tempat baru.

Bagi Sandi walaupun harapannya untuk melanjutkan sekolah di jawa tidak dapat, setidaknya ia bisa melanjutkan sekolahnya di pontianak seperti anak-anak lain.

Di kampung Sui Hilir ini, baru sekedar harapan agar bisa sekolah lanjut ialah hal langkah ditemui bahkan tergolong istimewa bagi anak laki-laki di kampung Sui Hilir. tidak hanya di sui hilir! di kampung-kampung tetangga pun sama nasibnya.

Biasanya anak lelaki di kampung ini bila lulus dari sekolah tingkat atas akan mengikuti ayahnya untuk bekerja sebagai buruh bangunan, kemudian akan berakhir di atas panggung pelaminan.

Di kampung, setiap laki-laki bekerja sebagai buruh bangunan, kalau tidak maka mereka akan melirik hijaunya rumput di negara tetangga. Harapan untuk bersekolah lanjut di tingkat paling tinggi bagi sandi kini terbentur tembok keegoisan perempuan yang sudah melahirkannya.

Bukan karena alasan tidak mampu menyekolahkan, tetapi pada alasan yang namanya "ketakutan". Iya, ketakutan akan pendidikan anak lebih tinggi dari orang tua, lebih pintar, dan bahkan sampai pada pasangan hidup sang anak yang kelak nanti akan membawa anak-anaknya pergi.

"esok aku mau ke Jakarta San" sapa Rino saat mereka berdua berjalan keluar dari surau. Rino sendiri mendaftar masuk di IPB untuk mewujudkan keinginannya mengambil pertanian.

"semoga engkau dapat diterima masuk di IPB ya Rino" sambil tersenyum Sandi mendoakan sahabatnya itu.Mendengar kabar dari sahabatnya Sandi ikut termenung dalam perjalannanya pulang ke rumah.

"Bagaimana caranya aku bisa melanjutkan sekolah" ujar sandi dalam benaknya. Berharap kepada orang tuanya sepertinya itu akan sia-sia karena akan tetap tidak di setujui.

Sandi tak ingin nasibnya seperti  abangnya yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Nasib baik akhirnya datang pada sandi, ia lupa bahwa ia masih mempunyai seorang nenek yang berbeda pandangan dengan orang tuanya. Neneknya lebih peduli pada pendidikan cucu-cucunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2