Cerpen

Perempuan Pembawa Gitar

21 Desember 2018   22:22 Diperbarui: 21 Desember 2018   22:47 107 0 0

Tengah malam saat semua orang sudah tertidur lelap, suara langkah kaki itu selalu terdengar, langkah kakinya pun sudah aku hafal siapa orang itu.

Dari kejauhan di balik remang-remang lampu rumah warga dia selalu muncul, suara langkah kakinya ikut memecah keheningan malam, suara sendal di tarik-tarik itu suara ciri khas dari langkah kakinya.

Dia selalu menenteng sebuah benda besar tergantung di balik punggungnya. Sarung berwarna hitam dengan bentuk gitar itulah selalu menemaninya, isi di dalam sarung itu sudah pasti benda yang bernama gitar.

Suatu pagi saat sang surya masih pelan-pelan naik dari timur, tak sengaja pagi itu aku melihat lampu di depan kamar tergantung dengan balon setengah pecah, tetapi masih mengeluarkan cahayanya.

Dalam benak aku bertanya "kok bisa balon lampunya pecah dalam keadaan tergantung", "siapa juga orang yang mempunyai tinggi badan mencapi balon yang ketenggiannya melebihi manusia?"

Aku langsung menduga pada sosok itu, iya si perempuan pembawa gitar, sarungnya lumayan gede kalau di jinjing di balik bahu perempuan itu bisa melewati balon lampu yang tergantung pas di depan kamar aku.

"ya sudah lah ngapain aku harus pusing memikirkan balon lampu toh dia masih mengeluarkan cahaya walaupun kondisi balonnya setengah pecah" gumam aku dalam hati. Tak mau mengusut masalah lampu terlalu dalam sampai mau menanyakan atau menceritakan pada orang lain.

Namanya wening, aku baru tau namanya di kemudian hari ketika kami lagi menggelar buka puasa bersama di mushola dalam lingkungan kos kami, dia salah satu mahasiswa di kampus terkenal di kota jogja.

"kamu di prodi apa wen" suatu ketika karena penasaran aku langsung menanyakan pada wen.

"prodi pendidikan seni mas" ujarnya seraya menyandarka badannya pada dinding di belakangnya.

Tidak heran bila wening setiap hari ke kampus kerjanya membawa gitar selain buku, teori dan praktek menjadi wajib, mungkin belajar mempraktekan langsung merupakan metode belajar paling utama, bila hanya belajar teori saja.

Bulan depan wening sudah masuk semester lima, di semester ini seperti biasa setiap anak di prodi musik akan menggelar pertunjukan musik, pertunjukan ini akan menjadi tolak ukur bagi setiap mahasiswa seni musik, bila pertunjukannya sukses mereka tidak hanya akan mendapat nilai bagus tetapi sebuah keberhasilan dari proses belajar mereka selama ini.

Tidak heran bila selama sebulan ini aku selalu mendapati wening pulang ke kosnya lebih dari pukul satu malam.

"tumben pulangnya jam segini wen" tanya aku saat ia mau lewat di depan aku.

"iya mas, lagi sibuk persiapan pertunjukan bulan depan" ujar wen sambil menghentikan langkah kakinya.

Wenig begitu berbeda dengan perempuan lain, cara berpakaiannya membuat dia berbeda, rambut terurai tanpa di kepang atau disisir rapi, kamejanya tidak di kancingi hanya memperlihatkan kaus, jalannya pun terbilang berbeda seperti seorang lelaki.

Pernah suatau waktu ketika wening mau mudik lebaran, aku berujar padanya dengan candaan, bila balik jangan lupa ole-ole kopi khas pontianak. Wening pun tanpa keberatan mengiyakan candaan aku. Tanpa di sangka-sangka ternyata candaan aku berbuah kenyataan, saat kembali ke jogja dia memberikan aku sebungkus kopi bubuk.

Waktu aku sedang asik tenggelam dalam bacaan dari novel pramoedya, tiba-tiba sebuah tiket di sodorkan di depan wajah aku seketika memecah kosentrasi. Pandangan ku angkat pada orang yang menyodorkan tiket.

"hadir ya mas" belum sempat aku menanyakan tiket apa wening langsung meminta untuk hadir di pertunjukan mereka.

"ini tiket di acara pertunjuka kami" seperti tau isi benakku wening menjelaskan perihal tiket itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3