Cerpen Pilihan

Hilangnya Absen Kelas

22 November 2018   20:31 Diperbarui: 23 November 2018   00:29 188 1 0

Seperti hari-hari  pak fauzi satpam sekolah selalu membuka gerbang sekolah bila pagi hari dan akan menutupnya saat  siswa siswi meulai melaksanakan apel pagi.

aku selalu memperhatikan pak fauzi dari tempat aku berdiri, berbaris mengikuti barisan teman-teman di depan.

Aku sudah janjian dengan jumardi teman satu sekolah dulu saat masih di SMP, untuk bertemu di depan jalan sebelah utara sekolah. Jumardi selalu menjadi teman saat membolos alias tidak mengikuti pelajaran.

"sepertinya hari ini tidak bisa keluar sampai jam istirahat" dalam hati aku menggumam seraya mata sekali-kali memandangi kepala sekolah yang sedang berdiri di depan siswa-siswi menyampaikan ceramahnya yang setiap hari terus di ulang-ulangnya.

Terkadang sampai gumpalan busa berwarna putih muncul di sudut bibir, melihat hal itu sebagian anak-anak di barisan paling belakang pasti kecekikan sambil mengolok-ngolok melihat kepala sekolah.

Semenjak aku mengenal permainan game Play Station, aku menjadi kecanduan, keasikan bermain bola, takken, motor bike, sampai jacki can.

Aku keluar dari rumah memakai seragam, tetapi aku belajar di rental permainan play satation.

Begitulah aku setiap harinya, sampai-sampai jumlah bolos  di absen kelas tak terhitung lagi, aku kini menjadi buronan ibu Fatima, setiap hari kata Fitra ibu selalu mengecek aku di kelas.

"mungkin ibu penasaran pada ku" lelocon aku pada fitra siang itu di rumah makan saat jam istirahat sekolah.

"bila sampai ketemu  habis kamu" fitra memperingatkan sekaligus menukuti-nakuti .

Hari ini untung ibu fatima tidak masuk, berarti aku selamat dari pengawasannya.  dia seperti singa  sedang mengawasi mangsanya, menunggu kelengahan dari sang korban.

Sebenarnya kemalasan aku untuk masuk di ruang kelas, mengikuti pelajaran bukan tanpa sebab. semenjak duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama, Aku  berkeinginan masuk di sekolah menengah kejuruan bila lulus nanti.

tetapi keinginan itu harus kalah dengan kemauan orang tua yang lebih menginginkan aku masuk sekolah Agama.

Aku sudah merasa bosan melihat bangunan-bangunan sekolah itu, saat pertama kali masuk belajar di hari pertama masuk kelas.

 Bangunan sekolah serta isinya sudah aku hafal apalagi dengan guru-gurunya, tak lain karena sekolah ini satu lingkungan dengan sekolah aku saat  di madrasah Tsanawiyah.

Sekolah agama yang aku masuk adalah di bawah lembaga pesantren dengan berbagai jenjang pendidikan mulai dari PAUD sampai SMA.

Semuanya berada dalam satu lingkungan pesantren, tidak heran bila aku merasa jenuh dengan tempat ini. Aku membutuhkan lingkungan baru, teman baru.

Tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari depan saat aku sedang asik di dalam rumah. Dahri teman sekelas aku datang, ia menatap seraya tersenyum, nampak kedua giginya yang besar di depan.

"ada apa ri kok ke rumah" aku coba mencari tahu maksud kedatangannya ke rumah.

"kamu di cari ibu fatimah" ujar dahri dengan wajahnya terlihat serius menatap .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3