Helmi Prayoga
Helmi Prayoga

Seseorang yang mencintai Keindahan dan Kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Mau Abadi? Menulislah

4 Agustus 2018   01:34 Diperbarui: 5 Agustus 2018   15:50 453 5 1
Mau Abadi? Menulislah
buku Kisah Lainnya yang saya beli

Hai kompasianer, ini adalah tulisan pertama saya. Sebenarnya saya sudah beniat awal tahun kemarin untuk menuangkan tulisan saya, tapi saya bingung mau nulis apa dan bagaimana agar konten yang ditulis bisa bermanfaat bagi pembacanya. Ingin mengisinya dengan puisi atau bidang yang saya tekuni atau apalah saya masih bingung. atau mau konten yang fokus itu-itu saja atau mau dicampur. Masalahnya, bagaimana agar bisa produktif menulis disaat kesibukan yang lain sedang dijalani ? so, comment what i must write in here !

Untuk kali  ini, alasan menulis ini, saya tempo hari diingatkan akan sebuah quote dari Pramoedya Ananta Toer yang bunyinya begini :

"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Disini adakah yang masih ingat asal-usul dari buyutnya ? Mungkin para Kompasianer dan saya-pun sudah lupa, padahal mereka meninggal beberapa taun yang lalu, lain halnya dengan tulisan Plato, Socrates, atau Imam Ghozali atau mungkin puisinya Kahlil Gibran mereka menjamur dimana-mana padahal sudah puluhan hingga ratusan tahun yang lalu.

Maka benar istilah menulis itu bekerja untuk keabadian.

Quote tersebut menampar saya agar setidaknya ada yang bisa saya tinggalkan setidaknya berupa tulisan agar berguna untuk orang lain atau setidaknya dibaca atau dikenang orang lain. hehe

Kata Tere liye menulis itu diibaratkan buah kelapa yang matang, lantas jatuh sendiri di pasir pantai. Air pasang datang menggulung si buah-buah kelapa yang terjatuh. Lantas membawanya pergi ke lautan luas. 

Kalian tahu, buah kelapa itu tahan banting, mengapung, terombang-ambing oleh ombak, ikut saja kemana dibawa, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ke seberang benua jauh tak terbilang, hingga akhirnya kandas sendiri di pantai berbeda, akarnya keluar, tunasnya tumbuh, menjadi pohon kelapa yang tinggi. Itulah petualangan si pohon kelapa. Tidak terbilang ratusan buah-buahnya yang mengambang, melayari samudera luas.

Kata bang Tere seperti itulah ibarat tulisan yang kita tulis, mereka akan beranak pinak kemudian tumbuh dipikiran orang-orang yang membacanya.
Dan hei, hari ini, dunia toh sudah tersambung begitu rupa oleh teknologi, maka sungguh lebih canggih lagi kesempatan petualangan "buah-buah kebaikan" milik kita.
Maka menulis sesuatu yang bermanfaat menjadi dasar yang ingin saya sebarkan.

Menulis itu katanya simple, katanya mudah, setiap kalian pasti punya pengalaman, pasti punya cerita yang ingin dibagi. Saya ini suka musik, diantara band di Indonesia salah satu yang saya suka adalah Peterpan (sekarang namanya Noah), dulu saat pergantian nama tersebut saya berkesempatan membeli buku "Kisah Lainnya" buku tersebut adalah autobiografi-nya Peterpan. Isinya adalah kisah perjalanan Ariel dkk saat Peterpan terbentuk hingga terkenal saat ini.

Buku tersebut tersaji dari buah pengalaman Ariel dkk dari berupa pengalaman menjadi cerita dan kemudian menjadi buku. Se-simple itu menulis lalu menjadi buku. 

Saya masih ingat kata-kata dari Ariel saat itu, bunyinya kurang lebih seperti ini :

"Tulislah apa yang ada di pikiranmu sekarang juga, mungkin tidak selalu cepat berguna, tetapi suatu saat akan berarti".

jadi, apa kau ingin abadi  dengan tulisan ?