Hawin Fizi Balaghoni
Hawin Fizi Balaghoni Aktivis Kemanusiaan

Alumni Universitas Negeri Surabaya. Pedagang Kecil dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Menulis Menjadi Hobi - Traveler - Marketing.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Keistimewaan Kegagalan

3 Juni 2018   11:19 Diperbarui: 3 Juni 2018   11:37 582 2 0
Keistimewaan Kegagalan
dok.pribadi

Setelah sahur, saya melihat bulan masih terdiam diatas langit di desaku. Diatas sana membiru seakan sang fajar ingin segera dijemput. Tampak Semeru juga menghitam pelan-pelan dengan wajah tersipu malu. Biasanya Gunung itu akan merokok di Pagi Hari, kemudian akan cerah terlihat dekat sekali. Kalau orang-orang selepas sahur ada beragam aktivitasnya. Ada Yang jalan-jalan, Ada Yang anget-anget di samping tungku, memang hari ini dingin desaku sudah 18, kadang juga masih dibawahnya lagi.

Hari ini saya bersedih. Pekerjaan yang belum membuahkan hasil satu pun membuat isi dompet semakin menipis. Sudah beberapa Bulan ini, hanya dengan menulis perasaan bisa sedikit lega. Adakala kita ingin curhat kepada orang yang tidak dikenal bukan?, agar tidak merasa sendirian dalam menjalani hidup yang penuh misteri ini.

Sejak lulus kuliah di unesa surabaya, saya kembali pulang ke Lumajang. Sudah tidak bisa merantau lagi, apalagi sepeninggal Bapak, hanya tinggal IBU di rumah. Alhamdulillah, saya sudah menikah satu setengah tahun yang lalu. Kami dikaruniai satu putra, namun sudah meninggal dunia di 3 hari usianya. 

Soal Karir, Berulangkali melamar pekerjaan dengan hasil gagal yang berulang-ulang sepertinya gagal sudah menjadi kerabat dekat. Satu-satunya cara yang bisa meredam perasaan yang kalut adalah setiap hari mengunjungi masjid. Curhat kepada sang pencipta tentang apa saja yang saya alami sehari-hari. 

Bangun tidur, Iler sudah seember. Kamar tidur berantakan, lalu lalang hewan aneh berterbangan tanpa ada rambu lalu lintas. Otak tidak refresh, galau, cenderung memiliki masalah yang tidak jelas. Kadang juga berangan-angan dapat punya mobil dari hasil bantu nenek nyebrang di jalan raya. 

Gaya rambut awut-awutan, modal di dompet sudah kosong. Setiap hari memakai minyak wangi keringat. Handphone sudah tidak diperdulikan di Cas atau juga paketan internet habis atau sisa. Bawaannya malas ngapa-ngapain, setelah nulis ini pun rasanya pengen segera saya delete all tulisannya. Rasanya pengen muka ini diformalin biar awet hidup nggak nyusain malaikat pencabut nyawa. Kalau nonton TV terus ada motivator yang action bikin kuping panas kayak l gas LPG 3 kg warna hijau mau meledak, dipikir enak apa jadi orang yang terus-menerus gagal.

Masuk ke tempat tukang Potong Rambut dengan perasaan gelisah. Lupa tidak mengecek isi dompet khawatir kosong tidak bisa bayar. Adrenalin terpacu meninggi setiap hari.

Peristiwa lainnya pernah mengalami nyidam makan rujak, tapi hanya bisa berdoa mudah-mudahan warungnya tutup ketika lewat di depannya.

Rasanya disekeling rumah sudah banyak teroris mengepung, siap meledakkan dengan hinaan. Lapangan yang luas pun berubah menjadi Gua paling angker. 

Mau ngomong apa pun, takut salah. Malu tapi akhirnya malu-maluin. Hukum berlangsung seakan tidak ada beda setiap hari. Yang penting bisa makan saja, itu sudah alhamdulillah banget. Sesuap nasi menjadi harta paling suci untuk dicari. Kalau sakit bisa lebih gawat lagi, sangat merepotkan maka tidak boleh sakit.

Hidup terlihat rumit dan tidak tertebak. Melihat daun yang gugur itu hiburan gratis ada yang senasib seperjuangan. Lalu hujan yang turun sebelum magrib memiliki petuah tersendiri dalam pikiran yang kacau ini. Mudah-mudahan pagi esok ada harapan lagi.