Mohon tunggu...
hesty kusumaningrum
hesty kusumaningrum Mohon Tunggu... Human Resources - swasta

seorang yang sangat menyukai film

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Perundungan dan Kemungkinan Solusinya

3 Mei 2024   16:57 Diperbarui: 3 Mei 2024   16:59 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sekolah akan selalu membawa cerita. Sedihnya, cerita itu tidak selalu cerita tentang kegembiraan. Banyak cerita sedih yang disajikan oleh sekolah dan para penghuninya (guru dan murid).

Beberapa tahun lalu ada cerita tentang Taufan, seorang murid sekolah menengah negeri di sebuah kota di Jawa Barat. Taufan adalah remaja tenang dan kegiatannya banyak diisi dengan membaca buku. Tapi sifat pendiam dan kesenangannya itu tidak bisa berlangsung dengan lancar karena dia sering diganggu, bahkan mengejeknya. Bahkan tak jarang beberapa temannya itu melakukan kekerasan fisik, dan membuatnya terluka. Hal itu berlangsung agak lama, dan membuatnya sedih.

Di balik ketenangan dan pendiamnya, dia bercerita soal perundungan yang dialaminya itu kepada orangtua dan walimuridnya. Mereka bertukar pikiran, baik dengan guru dan orangtuanya. Lalu mereka memberi Taufan dan orangtuanya, beberapa masukan. Intinya kemudian Taufan masuk ke beberapa ekstrakulikuler yang sejalan dengan minatnya, seperti sains dan drama.

Selama beberapa minggu, lalu beberapa bulan, kemudian, Taufan larut dalam kegiatan ekstrakulikuler itu. Berkumpul dengan orang-orang sesama peminat, dia mendapat dorongan positif untuk mewujudkan apa yang disukainya dan bertekun untuk itu. Teman-teman di kegiatan ekstrakulikuler selalu menghargainya. Kegiatan itu berbuah manis. Taufan kemudian terlihat lebih percaya diri akan potensi dirinya dan menemukan posisi yang baik bagi dirinya di tengah lingkungan sekolah.

Selain itu, keluarga Taufan juga mendukung anaknya dengan dukungan positif. Mereka mengenalkannya dengan guru ngaji muda yang berpandangan postif dan moderat. Dengan ilmu agama, dia dibekali ajaran-ajaran positif yang memberi pencerahan tentang makna dan tujuan kehidupan. Dengan pembekalan seperti itu, orangtuanya berharap Taufan akan semakin baik dan percaya diri dan tidak mudah tersinggung atau marah terhadap orang lain dan perbedaan (sikap dan pendapat) yang mungkin ada.

Pihak sekolah sadar bahwa perundungan (bullying) adalah ancaman dalam bentuk baru bagi sekolah. Murid-murid semakin banyak yang terlibat dalam perundungan karena pengaruh dari luar (melalui internet termasuk media sosial) . Ditambah pengawasan yang longgar dari sekolah karena mereka berkonsentrasi pada materi pembelajaran dan agak abai pada relasi-relasi sosial yang dibangun para siswa maupun guru. Dengan kondisi itu, seringkali anak mendapat banyak pengaruh dari luar, baik berupa kekerasan (pengaruh film-film keras) sampai pada faham transnasional yang mudah diperoleh di media sosial.

 Sekolah tempat Taufan berseolah bertindak dengan cepat. Mereka mengadakan seminar anti perundungan dan memberikan pelatihan kepada siswa tentang pentingnya empati dan kerjasama. Dalam seminar itu Taufan menjadi salahsatu pembicara dan semua upaya itu membuat para siswa terutama yang melakukan perundungan sadar bahwa apa yang mereka lalukan (melakukan perundungan) adalah salah. Lalu ada upaya untuk memperbaikinya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun