Mohon tunggu...
hesty kusumaningrum
hesty kusumaningrum Mohon Tunggu... swasta

seorang yang sangat menyukai film

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Jurnalisme Kurasi Mendominasi

12 Februari 2019   05:48 Diperbarui: 12 Februari 2019   05:52 0 4 1 Mohon Tunggu...
Ketika Jurnalisme Kurasi Mendominasi
NU Online

Sekitar tahun 2010, ketika teknologi dan media sosial mulai marak di Indonesia  dan mendapat tempat di hati jutaan masyarakat, saat itulah sebenarnya jurnalistik mulai bergeser. Selama ini , jurnalistik yang kita kenal bersama memiliki alur hulu sampai hilir begitu ketat dalam memuat sebuah berita.

Mulai dari wartawan yang mencari berita, editor sampai proses menjadi sebuah berita yang siap dinikmati oleh pemirsa punya beberapa ketentuan yang tidak mudah. Semuanya harus diseleksi di rapat redaksi. Rapat itulah adalah forum tertinggi bagi berita di media massa.

Namun agak berubah dan bergeser ketika teknologi berkembang pesat dan media sosial amat digemari oleh masyarakat. Masyarakat yang semula sedikit punya akses untuk membuat berita (kecuali yang menarik perhatian media; magnitude, tokoh penting, kisah yang unik dll) kini berubah. Semua orang bisa membuat dan menyebarkan berita tentangnya sendiri.

Ini yang disebut dengan prosumer. Satu pola di mana seseorang yang bukan siapa-siapa bisa membuat  berita sendiri dan menyebarkannya. Tidak perlu bantuan media mainstream untuk menjadi viral. Berita yang dibuat oleh seseorang itu bisa menjadi viral di media sosial.  Sehingga seseorang bisa menjadi terkena secara mendadak, atau dibully  dengan tiba-tiba.

Nah ditengah maraknya pola prosumer itu sering terdapat berita-berita yang tidak didapatkan oleh wartawan media mainstream , sehingga mereka tak jarang mengambil berita dari media sosial itu. Inilah yang disebut jurnalisme kurasi. Kurasi  awalnya lebih dikenal di dunia seni sebagai curator -- yang menilai dan menulis karya seni di pameran untuk ditulis agar dimengerti awam.

Hanya saja kurasi di sini adalah robot (mesin) yang dipakai oleh teknologi untuk mengambil data di berbagai sumber termasuk media sosial. Data inilah yang kemudian ditulis oleh wartawan konvensional sebagai bahan tulisan.

Dalam perkembangannya kurasi ini tidak saja dilakukan oleh robot tetapi para wartawan itu mengambil (baca: mencomot) kabar yang terdapat dalam media sosial. Kabar yang terkadang dalam media sosial memang sering punya nilai berita (menarik, memberi informasi, dll) tapi, seringkali tidak bisa memenuhi kaidah jurnalistik. Kaidah jurnalistik yang harus dipenuhi oleh satu berita yaitu soal akurasi, balance ( coverbothside), sampai Clarity (kejelasan)

Fenomena inilah yang sering terjadi pada pers atau media beberapa tahun terakhir ini. Amat dominan malah cenderung mewarnai jagat pers kita. Celakanya, bentuk seperti ini sering disukai oleh masyarakat dan mengkonsumsinya. Sehingga bisa dibayangkan mutu informasi yang yang terkandung dalam informasi itu seperti apa. Padahal jurnalisme kurasi yang diakukan dengan benar (diambil oleh robot  sebagai pengumpul data) masih harus memerlukan jurnalis konvensional yang memberi sentuhan akhir termasuk mengecek kebenaran berita yang dikumpulkan oleh para robot itu.

Karena itu, menghadapi hari Pers Nasional yang jatuh pada tgl 9 Februari lalu, sudah selayaknya kita mulai mengingatkan kepada media-media untuk menjunjung tinggi kaidah jurnalistik dalam memproduksi suatu berita. Ditengah badai dan banjir hoax serta ujaran kebencian seperti sekarang ini. Jurnalisme kurasi adalah fenomena tetapi seharusnya dikawal dengan baik sehingga dapat menghasilkan  karya jurnalistik yang sehat dan berkelas. Semoga.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x