Mohon tunggu...
Hesti Edityo
Hesti Edityo Mohon Tunggu...

Seorang ibu dari 4 lelaki hestidwie.wordpress.com | hesti-dwie.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mewaspadai Sindrom Baby Blues Pascakelahiran Sang Buah Hati

16 April 2013   22:14 Diperbarui: 24 Juni 2015   15:05 1611 2 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mewaspadai Sindrom Baby Blues Pascakelahiran Sang Buah Hati
13661560031257200121

[caption id="attachment_255199" align="aligncenter" width="480" caption="Ilustrasi/ Admin (shutterstock)"][/caption]

Momen kelahiran si kecil adalah momen bahagia yang  mendebarkan bagi mayoritas orang. Setelah sembilan bulan dibuai dalam kandungan, tiba saatnya si kecil menjejak dunia. Hilang sudah rasa penat yang kerap muncul seiring bertambah besarnya usia kehamilan. Terlupa sudah rasa sakit yang melilit menjelang melahirkan. Tiada bosannya menatap wajah mungil si buah hati nan menggemaskan. Dunia serasa begitu indah penuh warna, tapi mengapa kadangkala muncul rasa nelangsa usai kelahiran si kecil?

Enam tahun lalu, usai melahirkan anak ke-2, disaat sendiri atau hanya berdua dengan si kecil, seringkali air mata menetes di pipi saya. Rasa sedih muncul tiba-tiba berbaur dengan rasa cemas yang lambat laun memunculkan rasa takut, apakah semuanya akan baik-baik saja. Hingga kemudian ketakutan itu kian parah, tanpa saya tahu mengapa saya begitu. Seorang sahabatlah yang kemudian menyadari terlebih dulu bila saya mengalami Baby Blues yang bahkan sudah berlanjut menjadi Postpartum Depression.

Awalnya saya buta soal  Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression. Saya sama sekali tidak menyadari bila rasa nelangsa, cemas, dan ketakutan-ketakutan yang menghampiri saya adalah sebuah warning bahwa ada yang tak beres dalam diri saya. Terlambat saya menyadari bahwa apa yang saya alami adalah gejala Baby Blues yang berlanjut menjadi Postpartum Depression. Sungguh tidak mudah menghadapi kondisi seperti itu, namun perlahan didukung oleh orang-orang di sekeliling saya, para sahabat, suami, adik sepupu saya yang kebetulan berprofesi sebagai tenaga medis, konsultasi ke psikolog dan psikiater, gangguan emosional ini pun dapat diatasi. Kuncinya memang kita harus mau terbuka dan tidak malu untuk mengakui ada “sesuatu” yang tengah terjadi dalam diri kita. Orang-orang di sekitar penderita sindrom ini pun harus berempati dengan memberikan dukungan, bantuan, dan jangan pernah menyepelekan apa yang tengah dirasakan penderita. Meskipun sedikit terlambat menyadari apa yang terjadi, tapi saya cukup beruntung karena dikelilingi orang-orang yang berempati dan mau memahami apa yang terjadi. Dari berbagai literatur, kondisi Postpartum Depression parah bisa memicu si ibu untuk menyakiti diri sendiri ataupun sang buah hati. Naudzubillah....

Sebagai seorang ibu yang pernah mengalami sindrom ini, sempat muncul rasa trauma saat menjalani kehamilan berikutnya. Bukan hanya tersiksa dengan kondisi demikian, sindrom ini juga mempengaruhi kejiwaan anak ke-2 saya. Dia lebih sensitif dibanding kakak dan adik-adiknya. Itu sebabnya pada kehamilan berikutnya sebisa mungkin saya menyiapkan diri agar tidak mengalaminya kembali. Meskipun beberapa ahli berpendapat bahwa ada peran hormonal dalam tubuh ibu hamil dan melahirkan (hormin estrogen dan progesteron) yang dapat memicu depresi, ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau setidaknya meminimalisir gangguan emosional ini.

Jauhkan diri dari stress. Ini yang dulu terjadi pada saya, sejak kehamilan berbagai masalah bertubi-tubi datang dan celakanya, saya justru menyimpannya sendiri. Mencoba menghadapi sendiri, tanpa saya sadari justru keputusan saya untuk tidak “merepotkan” orang lain pada akhirnya merepotkan diri sendiri. Berbagai persoalan tersebut memicu stress yang berlanjut hingga saya melahirkan. Dari sini akhirnya ketika saya dipercaya untuk hamil lagi (anak ke-3 dan ke-4), sebisa mungkin saya hindari stress. Curhat dengan orang lain akan sangat membantu kita menghadapi hal-hal yang sekiranya dapat menjadi beban pikiran.

Istirahat yang cukup. Proses melahirkan adalah proses yang luar biasa menguras fisik. Tak jarang ibu melahirkan pun kian lelah karena harus merawat bayi (dan mungkin si kakak) atau berbagai hal lainnya yang menyita waktu istirahat si ibu. Kelelahan seperti ini pun bisa memicu gangguan emosi, untuk itu ada baiknya usai melahirkan seorang ibu harus meluangkan waktu yang cukup untuk beristirahat. Anggota keluarga yang lain pun semestinya harus memahami kondisi si ibu dengan memberikan bantuan.

Siapkan segala sesuatunya sejak dini. Sedia payung sebelum hujan! Siapkan diri untuk menghadapi proses kehamilan, kelahiran dan membesarkan buah hati sejak dini, baik moril maupun materil. Pahami berbagai proses yang akan kita alami saat menjalani proses kehamilan hingga melahirkan sehingga tidak muncul kecemasan-kecemasan atau “derita” yang belum tentu terjadi.

Mencari tahu dari awal berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk proses melahirkan. Ada baiknya anggaran melahirkan dibuat lebih besar dari yang dibutuhkan sebagai persiapan, dan sebisa mungkin jangan gunakan untuk hal lainnya. Salah satu pengalaman pahit saya yang turut memicu kondisi stress pasca melahirkan anak ke-2 adalah, uang yang saat itu sedianya saya gunakan untuk membayar biaya persalinan dan tetek bengeknya saya pinjamkan pada orang lain. Saat itu si peminjam berjanji akan mengembalikannya secepatnya. Tapi nyatanya janji tinggal janji, hingga tiba saatnya persalinan uang tersebut tak kunjung kembali.

Hal lain yang juga butuh untuk dipersiapkan sejak awal, menyiapkan psikis si kakak (jika bukan kehamilan pertama) agar tidak muncul rasa iri dengan hadirnya si kecil. Rasa iri si kakak dengan berusaha mencari perhatian sang ibu bisa merepotkan si ibu sendiri. Penting pula bagi sang ibu untuk selalu positive thinkingBe happy with the baby :)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x