Mohon tunggu...
Hesdo Naraha
Hesdo Naraha Mohon Tunggu... Freelancer - Sharing for caring by "Louve" from deep Instuisi-Ku

God Is Good All The Time πŸ’

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sejauh Logika atau Perasaan

4 November 2022   09:00 Diperbarui: 4 November 2022   09:09 163
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Perdebatan mengenai subjektivitas berpikir telah menjadi topik sepanjang masa. Salah satu hal yang sampai saat ini masih menimbulkan sejumlah pertanyaan bagi sebagian kecil orang, yaitu mengenai kebenaran yang berlandaskan logika ataukah perasaan.

Kebanyakan orang yang aku temui, memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang berpikir logis. Karena menurutnya, dia kerap kali menggunakan pertimbangan-pertimbangan berlandaskan logika dalam kehidupannya, misalnya dalam hal memilih pasangan. Seorang teman mengatakan bahwa dirinya adalah individu yang berpikir logis, sehingga pilihan pasangannya bukan terletak pada syarat fisik, melainkan kesamaan dalam hal mindset orang tersebut.

Seorang teman yang berbeda, bercerita bahwa dirinya adalah seorang perasa atau dengan pemahaman yang sederhana; dia mendeskripsikan dirinya sebagai individu yang mengedepankan kepekaan perasaan sebagai landasan berpikir. Sejumlah teman menyatakan bahwa dalam hal pengambilan keputusan, umumnya mereka menjadikan kenyamanan dan intuisi sebagai pertimbangan yang tepat. Walaupun begitu, tidak sedikit yang juga mengakui bahwa terlalu perasa, justru menjadi petaka yang membuat mereka sukar memiliki pertimbangan yang logis.

Pada akhirnya, baik seorang pemikir logis dan pemikir yang perasa, justru sama-sama menyadari keterbatasannya. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, lalu manakah yang sebenarnya kita butuhkan?

Ice creamΒ 

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki sebuah tradisi perayaan dan apresiasi terhadap diri. Biasanya hal ini dilakukan setelah pergulatan yang panjang menghadapi ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Dengan mendatangi kedai es krim, lalu membayar seharga 30 ribu rupiah, maka saya merasa sudah cukup untuk memberikan kebahagiaan kecil bagi diri sendiri.

Jika ditelaah, sebenarnya pertimbangan menikmati es krim adalah wujud dari keyakinan dan pengalaman sebelumnya bahwa aktivitas tersebut dapat meningkatkan emosi positif. Selain itu, rasanya yang enak juga memberikan kesan puas dan nikmat sehingga membentuk perasaan yang bahagia.

Kondisi yang serupa, juga dijelaskan melalui sebuah artikel penelitian yang terbit pada tahun 2013 dalam jurnal internasional Psychology of Well-Being: Theory, Research and Practice. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa sebanyak 289 partisipan diberikan aktivitas untuk meningkatkan perasaan bahagia, dengan mengkonsumsi es krim. Hasilnya menemukan bahwa aktivitas mengkonsumsi es krim berperan dalam meningkatkan emosi-emosi positif dalam diri.

Berdasarkan cerita dan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam hal pengambilan keputusan, rupanya logika saja tidak cukup untuk memberikan pertimbangan yang baik. Melalui cerita tentang tradisi menikmati ice cream di atas, tentunya dapat dipisahkan dengan jelas bahwa, pilihan untuk meningkatkan positive mood adalah pertimbangan logika, sementara pertimbangan perasaan datang sebagai bagian yang menyertainya melalui kepuasan akan aktivitas tersebut. Hal ini berarti antara pertimbangan logika dan perasaan, keduanya tidak memiliki perbedaan untuk dibandingkan, justru dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan keduanya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun