Mohon tunggu...
Hery The
Hery The Mohon Tunggu...

Berbagi cerita secara lisan dan dalam bentuk tulisan merupakan kegiatan produktif seorang pembelajaran sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Keunikan Negeri Tirai Bambu

6 Oktober 2014   15:08 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:12 0 0 0 Mohon Tunggu...
Keunikan Negeri Tirai Bambu
14125574521885841832

Saat ini saya masih menikmati masa-masa akhir libur dalam rangka memperingati Hari National Tiongkok (国庆) yang dalam pin-ying “guo qing jie”. Hari National Tiongkok ditetapkan untuk memperingati terbentuknya People’s Republic of China. Sekolah-sekolah terutama memiliki libur yang cukup panjang, namun tentu saja bisnis dan pariwisata tidak akan turut libur pada saat-saat ini. Saat-saat ini merupakan masa paling menguntungkan bagi bisnis dan pariwisata karena turis-turis lokal dan internasional mengunjungi berbagai tempa-tempat hiburan dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Tiket-tiket kereta api dan pesawat agak sulit untuk dapat diperoleh secara langsung pada hari keberangkatan. Libur di sekolah-sekolah berlangsung dari tanggal 1 – 7 Oktober.

Pada hari pertama libur, tidak direncanakan sebelumnya, saya akhirnya untuk pertama kali berjalan-jalan bersama bersama beberapa guru-guru yang berasal dari Amerika. Dua dari mereka menawarkan untuk bergabung makan siang di Rainbow Mall dan kemudian lanjut jalan-jalan di Wanda Mall. Tujuan mengunjungi Rainbow Mall adalah untuk makan di American-Mexican Restaurant yang tentu saja ada di Tiongkok. Dasar lidah Asia, masakan Mexico yang menurut teman-teman enak bagi saya hanya biasa-biasa saja dan harganya tentu saja relatif lebih mahal. Untuk paket Beef and Beans Burrito, dipatok harga 55 Yuan, yang kalau makan masakan ala Tiongkok sudah bisa makan 3 – 5 kali.

Selesai makan kami jalan-jalan sebentar melihat Rainbow Mall dan kemudian menuju ke Wanda untuk menunggu dua guru lain yang tinggal di kampus lama datang untuk bergabung. Perjalanan dari kampus lama, Jishan ke Jinghu bisa makan waktu 1 – 1.5 jam jika kondisi lalu lintas sedang padat ditambah dengan daerah yang dilewati bus tersebut merupakan pusat kemacetan. Teman-teman dari Amerika tersebut tentu saja memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Dua diantaranya adalah African American, satu berwajah Eropa alias kulit putih, dan yang satunya lagi Korean-American. Banyak pengalaman menarik yang saya amati ketika berjalan bersama-sama rombongan yang sangat beragam etnik dan ras ini.

1412557553753811274
1412557553753811274
Beberapa kali saya melihat pengunjung mal menatapi dengan heran teman-teman saya yang berkulit hitam dan ketika berjalan kepala mereka menoleh ke belakang untuk hanya sekedar melihat mereka. Tentu saja setelah kurang lebih sebulan untuk yang satu dan dua minggu untuk teman saya yang kedua, mereka sudah cuek bebek ketika dilihat seperti itu. Bahkan mereka mencoba melambaikan tangan dan say “Ni Hau” kepada orang-orang yang melihati mereka. Tidak jarang saya juga melihat cewek-cewek oriental di sini mencuri mengambil foto teman saya yang berkulit putih. Tentu saja teman saya tahu dan kita hanya tersenyum-senyum saja. Saya sendiri dan teman saya yang Korean-American tentu punya pengalaman sendiri yang juga tidak kalah unik. Karena dikira sama orang China, tidak jarang ketika ketemu orang-orang tertentu mereka nyerocos dalam pu dong hua (mandarin) atau bahkan ada yang ngajak ngomong Bahasa lokal (ShaoXing Hua).

Jujur boleh dikata meskipun pernah les Bahasa Mandarin secara sembunyi-sembunyi di masa pemerintahan presiden Soeharto, saya sendiri merasa mumet dan sakit kepala melihat karakter dan membandingkan bunyi bahasanya. Jadi karena kemalasan itu, Bahasa Mandarin saya kalau dikasih nilai dari 1 – 10 yah cocoknya berada di antara 3 – 5, alias bisa aja nyerocos tapi kadang berantakan dan masalah tulisan jelas minta ampun karena dulunya belajar karakter tradisional, malah jadi terkesan buta huruf ketika melihat karakter yang disederhanakan. Namun yang jelas bahasa tubuh gambar, dan kamus membantu untuk komunikasi. Meskipun beberapa kali saya sempat juga dimarah-marahi karena tidak bisa berbahasa mandarin. Terkesan lucu memang, tetapi saya sendiri justru tidak bisa marah kalau mereka tidak bisa ngomong Inggris.

Saya memang harus minta maaf kepada almarhuma lao-lao (ama) yang sudah berusaha keras agar saya punya kesempatan belajar namun tidak saya manfaatkan. Mana pernah terikirkan bakalan datang ke Tiongkok waktu saya kecil karena ayah saja kerja serabutan dan untuk bayar uang sekolah saja susah. Ditambah lagi ayah meninggal dalam kecelakaan saat saya baru akan mulai kuliah dan bersama ibu saya harus mencukupi kehidupan keluarga sambil mencoba mengobati almarhuma adik yang waktu itu terkena kanker. Tetapi begitulah hidup, berjalan terus dan tentu saja ada banyak cerita yang bisa ditulis.

14125576151368951177
14125576151368951177
Satu hal yang dapat saya pelajari dari tinggal di Tiongkok adalah mengenai keunikan negeri ini dan masyakaratnya. Meskipun Tiongkok sendiri terdiri atas banyak sub-etnik dan bahasa yang juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain, namun kesamaan ras dan unitaritas yang dihasilkan oleh ideologi People’s Republic of China dan tentu saja penggunaan pu dong hua (mandarin) membuat sulit bagi sebagian besar masyarakat di sini memahami adanya keberagaman manusia (ras, budaya, bahasa) yang hidup bersama di tempat lain, di luar negaranya, terkecuali jika mereka sendiri bisa memperoleh kesempatan mengalami kontak budaya dengan masyarakat yang pluralitas seperti di Indonesia dan di Amerika. Cara pandang mengenai masyarakat di luar Tiongkok masih pekat dipengaruhi pola pandang pemerintah yang mencoba melakukan modernisasi dibalik tirai-tirai bambu yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Keunikan inilah yang menjadikan Tiongkok sebagai sebuah negara dan masyarakat yang berbeda dengan Negara dan masyarakat lain di belahan dunia ini.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x