Mohon tunggu...
Herry Mardianto
Herry Mardianto Mohon Tunggu... Penulis - Pensiunan

Suka berpetualang di dunia penulisan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rekam Jejak Lewat Media Sosial

9 September 2023   15:39 Diperbarui: 11 September 2023   11:03 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: Kompas TV/Kompas.com.

Pada rezim digital seperti sekarang ini, hampir semua orang memiliki media sosial. Kehadiran media sosial bagai sarapan pagi. Begitu bangun tidur, hal pertama yang diraih adalah handphone (gawai) untuk melihat media sosial dan berita terbaru di media online

Kalau zaman dulu orang mencatat dengan malu-malu peristiwa penting yang dialami ke dalam buku harian, maka karena wolak-walike zaman, kini orang "mencatatkan" segala aktivitasnya tanpa malu-malu ke halaman (feed) media sosial, entah itu berupa foto, teks, maupun video.

Sudah menjadi pemandangan lazim, kemanapun kita pergi, orang-orang sibuk dengan gawai mereka:   memotret, merekam, ngonten, demi media sosial. Bahkan ada yang rela menantang maut agar apa yang terpampang di media sosial menjadi viral, banyak mendapatkan like dari followers

Kegandrungan ini menyebabkan orang memuat apa saja dalam media sosial, termasuk masalah yang sangat pribadi dengan berbagai tujuan: menarik perhatian, mengundang simpati, mendapatkan pujian, decak kagum, meningkatkan brand image, dan lainnya. 

Terkadang ada yang sampai lupa diri, ingin pamer kekayaan, kekuasaan, dan  jabatan (suami). Maka tak heran jika kemudian muncul berbagai kasus berkaitan dengan gaya   hidup mewah, penyelewengan jabatan/kekuasaan versus masalah hukum yang bersandar pada bukti-bukti di media sosial.

Pada konteks inilah masyarakat dituntut bijak memanfaatkan media sosial karena segala sesuatu yang terpampang di media sosial  menjadi jejak digital yang tak mudah dihapus dan menjadi konsumsi umum.

Menyembunyikan Diri

Kesadaran terhadap ekses negatif jejak digital, membuat  beberapa pengguna media sosial mencoba membatasi dan menyembunyikan diri agar tidak semua orang dapat melihat unggahan mereka  dengan jalan membatasi relasi hubungan lewat privatisasi.

Cara lain yang sering ditempuh adalah dengan menyamarkan/mengganti nama, tidak mencantumkan nama sebenarnya dalam akun media sosial. Biasanya yang digunakan merupakan nama aneh-aneh dan followernya pun memiliki  nama yang tak kalah aneh.

Bisa saja seseorang memiliki dua akun Instagram, misalnya,  satu untuk menjaga citra diri (dengan menggunakan nama sebenarnya) dan satunya sekadar dimanfaatkan sebagai media hura-hura (dengan mencantumkan nama palsu).

Tidak dapat dipungkiri jika media sosial dapat merepresentasikan diri bahkan sengaja digunakan untuk meningkatkan branding image seseorang. Jadi jangan galau jika media sosial dimanfaatkan sebagai background checking oleh pihak tertentu, baik perusahaan maupun perorangan, dalam menilai seseorang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun