Mohon tunggu...
Herry Mardianto
Herry Mardianto Mohon Tunggu... Penulis - Pensiunan

Suka berpetualang di dunia penulisan

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Menyiasati Media Cetak demi Pemuatan Artikel

24 November 2022   08:28 Diperbarui: 24 November 2022   08:34 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel


Menyiasati Media Cetak demi Pemuatan Artikel
Herry Mardianto

Ada dua kemungkinan penyebab sebuah tulisan tidak kunjung dimuat dalam media massa  cetak (koran/majalah)  yang dijadikan sasaran pemuatan tulisan. Pertama, berkenaan dengan kualitas tulisan (artikel) yang "biasa-biasa saja".  Kedua, kurangnya pemahaman penulis terhadap media  sasaran.
Umumnya tulisan yang  dipertimbangkan redaksi  merupakan artikel dengan kualitas memadai sesuai  visi  misi media, memiliki kejelasan gagasan,  ketepatan momentum/timing, didukung  akurasi data dan fakta, penyajiannya menarik, serta mudah dipahami (tidak berbelit-belit).

Secara sederhana, artikel merupakan tulisan  berisi pemikiran penulis mengenai  fenomena dalam masyarakat, dikemas secara khas dengan gaya jurnalistik dan diterbitkan melalui media massa (koran/majalah). Artikel pada hakikatnya bersifat subjektif, mengingat  seluruh isi artikel merupakan hasil pandangan penulis secara personal-setiap  penulis walaupun memiliki topik bahasan yang sama, tetapi disajikan dengan cara berbeda, sesuai  pengalaman, latar belakang pendidikan, latar belakang sosial budaya,  sudut pandang, dsb. Ciri-ciri artikel:  mengungkapkan masalah aktual,  ditulis berdasarkan pandangan penulis,  isi tulisan berdasarkan fakta, bukan rekaan, bersifat lugas (langsung menuju pokok bahasan/persoalan),  tuntas, artinya gagasan yang dikemukakan dalam artikel  dibahas secara menyeluruh agar informasi yang disampaikan dapat dipahami pembaca secara utuh, dan  jelas serta mudah dipahami.

Jadi, artikel adalah tulisan lengkap yang disajikan lewat media massa.  Isi artikel berupa informasi mengenai fakta apa saja yang menarik perhatian  penulis. Kelengkapan tulisan ditandai dengan adanya judul, bagian pembuka, pembahasan, dan penutup.

Judul merupakan magnet dengan daya pukau  yang  "seksi" guna merebut perhatian pembaca. Penentuan judul dipertimbangkan  secara cermat: berkaitan dengan isi karangan,  ringkas, dan unik. Tidak berbeda dengan judul, penyusunan bagian pembuka (paragraf awal) sebaiknya  ngedab-edabi dalam "meracuni" pembaca.  Redaktur surat kabar akan mempertimbangkan  (menilai)  setiap artikel dari judul, paragraf awal, dan paragraf akhir (penutup). Redaktur tidak sempat membaca artikel secara merenik dari A sampai Z karena setiap hari menerima puluhan bahkan ratusan tulisan. Dari sini dapat dipahami jika judul  dan paragraf awal  merupakan  "pintu ajaib" bagi sebuah artikel untuk  dapat diterima redaktur, kemudian  dimuat di koran/majalah dan pada gilirannya dibaca masyarakat luas.

Bagian pembuka (pengantar) memuat gambaran singkat mengenai topik tulisan dan ruang lingkup pembahasan. Agar menarik perhatian pembaca, maka bagian pengantar  disajikan dengan daya gugah dan daya rangsang yang kuat agar pembaca  penasaran, memunculkan keinginan melanjutkan membaca artikel hingga tuntas.

Bagian pembahasan merupakan bagian pokok, berisi pemaparan  topik tulisan. Pada bagian ini, penulis menjelaskan butir-butir informasi kepada pembaca. Pemaparan dalam bagian pembahasan harus mudah dipahami pembaca dengan  menggunakan rangkaian kata dan kalimat sederhana, tidak bertele-tele dalam menyampaikan gagasan.  

Bagian terakhir dari artikel berupa  penutup, baik  simpulan maupun penegasan pokok-pokok bahasan. Bagian penutup seyogianya disusun setara dengan bagian pembuka .  Artinya, baik bagian pembuka maupun penutup mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Dalam konteks media pemuatan, maka seorang penulis mau tidak mau harus memahami media sasaran berkaitan dengan visi dan misi, badan penerbit,  rubrikasi, syarat pemuatan tulisan, dan selera redaktur. Koran Kedaulatan Rakyat,  Kompas, Jawa Pos, misalnya, memiliki style dan taste yang berbeda, sehingga sebagai penulis, kita dituntut menyiapkan "bumbu-bumbu"  penyedap terbaik sesuai selera masing-masing media agar  tulisan  mampu memikat redaktur.
Akhirnya, tulislah apa pun sesuai dengan minat, profesi, dan hal-hal yang disukai. Jangan ngayawara atau memaksakan diri. Teruslah meningkatkan personal branding dengan mengutamakan orisinalitas, bukan tulisan hasil tambal sulam yang memalukan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun