Herry Darwanto
Herry Darwanto Pembelajar ekonomi politik dan perkotaan

Mantan pegawai negeri.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Untuk Keadilan, Hubungan Kerja Pemasok dan Petani Perlu Diatur

7 Juli 2018   14:38 Diperbarui: 8 Juli 2018   12:45 2462 0 0
Untuk Keadilan, Hubungan Kerja Pemasok dan Petani Perlu Diatur
Sumber: https://foodsecurityfoodjustice.com

 Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa produk-produk pangan (pertanian dan perikanan) yang dijual di berbagai supermarket besar di negara-negara maju ternyata diproduksi oleh petani dan buruh pabrik pengolah makanan di negara-negara berkembang yang upahnya sangat rendah.

Fakta itu diperkuat oleh riset yang dilakukan oleh lembaga sosial Oxfam dalam laporan berjudul Ending Human Suffering In Supermarket Supply Chains Ripe for Change, yang diluncurkan pada 21 Juni 2018 lalu [sumber]. Beberapa temuan lain dari riset tersebut kiranya patut untuk disimak.

Pada tahap input dan layanan awal, tiga konglomerat dunia mendominasi hampir 60% omzet perdagangan benih dan bahan kimia pertanian di seluruh dunia. Pada tahap penanaman, sebagian besar lahan pertanian di muka bumi ini berskala kecil, namun 1% dari seluruh lahan pertanian itu terdiri dari petak-petak lahan seluas 50 hektar lebih, dan pemiliknya mengontrol 65% lahan pertanian di seluruh dunia.

Kemudian pada tahap perdagangan dan pemrosesan, empat perusahaan menguasai 70% keuntungan perdagangan komoditas pertanian dunia seperti gandum, jagung dan kedelai. Pada tahap pengolahan, 50 industri makanan menguasai separoh penjualan makanan di seluruh dunia.

Dan pada tahap terakhir, yaitu penjualan dan pemasaran, sepuluh supermarket menguasai separoh lebih penjualan eceran di negara-negara Uni Eropa. Di Inggris empat supermarket menguasai 67% pangsa pasar sayuran dan di Belanda lima supermarket menguasai 77%.

Kesimpulannya, perdagangan bahan pangan di negara maju dikuasai oleh beberapa gelintir supermarket besar. Mereka menyaingi toko-toko sayuran (groceries) di permukiman-permukiman, di pinggir-pinggir jalan, dan di pasar-pasar tradisional, yang ada di kota-kota besar hingga kota-kota kecil.

Yang menyedihkan adalah bahwa setelah berhasil di negara-negara maju, pola perdagangan skala besar model supermarket itu kemudian merambah ke negara-negara berkembang, mula-mula ke Amerika Latin, kemudian ke Asia dan Afrika.

Laba supermarket meningkat

Penguasaan rantai pasokan pangan dari sawah hingga ke meja makan itu membuat segelintir supermarket dunia dapat menentukan jenis, ukuran, kualitas, harga dan wilayah pemasaran produk-produk pangan sesuai strategi pemasaran mereka. 

Persaingan sesama supermarket menyebabkan harga produk-produk pangan kemasan yang sampai ke konsumen akhir cukup rendah. Hal ini menguntungkan konsumen di perkotaan namun merugikan petani dan buruh pabrik karena upah mereka dibayar rendah oleh para pedagang perantara.

Oxfam mencatat ada banyak pelanggaran dalam perdagangan skala besar ini, seperti tidak adanya kontrak tertulis, penundaan pembayaran kepada petani, pembayaran ditentukan oleh kondisi pemasokan ke supermarket, dan sebagainya.

Pola perdagangan bahan pangan seperti itu memberikan keuntungan yang sangat besar bagi supermarket. Menurut Oxfam, toko eceran raksasa Walmart menerima laba sebesar 486 miliar dolar AS pada tahun 2016. Laba sebesar ini sama dengan Pendapatan Nasional Bruto negara Norwegia atau Nigeria. 

Kemudian delapan supermarket terbesar dunia membukukan penjualan sebesar 1 triliun dolar AS dan keuntungan sebesar 22 miliar dolar AS pada tahun yang sama. Sebagian besar laba ini, sekitar 15 milar dolar AS, diserahkan kepada pemegang saham. Para direksi mendapat penghasilan yang cukup besar.

Upah tidak mencukupi

Keuntungan yang diterima pemegang saham dan direksi supermarket itu berbanding terbalik dengan penghasilan yang diterima petani dan buruh pabrik pengolahan hasil pertanian. Penghasilan yang mereka terima sangat rendah sehingga tidak mencukupi kebutuhan pokok hidupnya.

Di Afrika Selatan, misalnya, lebih dari 90% pekerja wanita di perkebunan anggur tidak memiliki makanan yang cukup pada bulan sebelum survei dilakukan. Sepertiga dari buruh wanita menyatakan ia atau anggota keluarganya pernah tidur dalam keadaan lapar setidaknya satu kali dalam bulan itu.

Di Filipina, 72% pekerja perkebunan pisang wanita menyatakan khawatir tidak dapat membri makanan pada keluarganya pada bulan sebelum survei dilakukan. Di Thailand, lebih dari 90% pekerja pabrik pemrosesan makanan laut yang disurvei melaporkan tidak mempunyai cukup makanan pada satu bulan sebelum survei. Diantara mereka, 54% dari pekerja wanita menyatakan tidak punya makanan sama sekali selama beberapa hari pada waktu yang sama.

Hubungan kerja yang lebih adil

Terhadap nasib petani dan buruh pabrik yang mengenaskan dan perlakukan tidak adil yang mereka terima Oxfam memberikan beberapa saran solusi. Diantaranya adalah harga produk pertanian di supermarket perlu dinaikkan untuk menambah penghasilan petani dan buruh pabrik tingkat bawah. Sedikit kenaikan harga produk pangan sudah dapat memberikan penghasilan yang mencukupi kebutuhan dasar mereka.

Kemudian pemerintah disarankan untuk memberikan perlindungan kepada petani dan buruh pabrik dari penyalahgunaan  kekuasaan supermarket dan para pemasoknya. Mereka perlu diperjuangkan untuk dapat bernegosiasi secara setara dengan pemasok atau majikan mereka, dan hak-hak dasar mereka harus diakui dan diakomodasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2