Mohon tunggu...
Herry FK
Herry FK Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Hanya Si BODOH... yang berharap menemukan pencerahan dari seberkas cahaya ilmu di Dunia. Kuserahkan separuh jiwa pada asinnya air laut yang melekat dikulitku ~ KENTHIR 049 ~

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Ahokboy

31 Mei 2016   01:03 Diperbarui: 1 Juni 2016   01:06 1002
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ahok, iya nama anak itu Ahok, matanya sipit, badannya kurus tapi tidak kerempeng, rambutnya lucu persis kayak sapu ijuk basah yang lama dijemur matahari. 'Ahok' nama panggilan ini didapatkannya bukan hanya karena dia dilahirkan dipesisir pantai Sumatera, tapi juga karena dia dikenal sebagai anak yang degil. Bahkan kedegilannya ini mampu membuat buaya-buaya laut menjadi takut jika bertemu dengannya, sebab ketika degilnya kumat buaya-buaya ini seringkali kena lempar batu, dan kerapkali dianggap pin bowling olehnya dengan menggunakan buah kelapa kering yang banyak ditemui ditepi pantai.

Ahok, walaupun degil bin bandel, tetapi tetaplah anak yang penurut jika berhadapan dengan emaknya. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena Ahok tahu benar bahwa posisinya sebagai anak laki-laki bungsu dalam keluarga, tentu berada di tempat spesial dihati emaknya, dan karena Ahok sadar keuntungan menjadi penurut diposisi ini, akan membuat emaknya selalu memahami serta memenuhi apa yang Ahok sukai dan inginkan.

Sebagai kompensasi untuk memuaskan hati emaknya, tentu saja Ahok selalu rajin belajar disekolah, sehingga walaupun nakal, Ahok selalu mendapatkan minimal rangking lima besar di kelasnya. Kisah Ahok menjadi istimewa bahkan menjadi legenda dikampung halamannya bukan karena kedegilannya, bukan pula karena kepandaiannya disekolah, tapi ada sebuah kisah-kisah tentang itu, kisah yang pada akhirnya membuat warga ibukota kabupaten memanggilnya dengan sebutan Ahokboy.Begini kisahnya :

Kampung Ahok yang berada dipesisir laut, selama ini dikenal oleh orang sebagai salah satu tempat singgah para Perompak alias bajak laut setelah selesai beraksi merampas dan menjarah kapal-kapal dagang yang melewati perairan disekitar kampungnya. Para perompak ini bukan hanya dari satu gerombolan saja, bahkan beberapa raja lautan ditemukan sering melabuhkan kapalnya dipesisir pantai kampung si Ahok. Walau demikian warga kampung Ahok tidak pernah merasa gelisah dengan gerombolan ini, sebab warga kampungnya sendiri mampu menjadi tuan rumah yang baik dengan menyediakan supply bahan-bahan berlayar bagi para Perompak ketika mereka kembali beraksi dilautan.

Pada suatu ketika, salah seorang Raja perompak paling kuat diwilayah itu, ketika hendak berlabuh kepantai kampung Ahok, terlunta-lunta ditepi pantai karena perahu rombongan  Raja perompak dikelilingi oleh puluhan ekor buaya muara yang besar-besar yang kelihatan lapar serta siap untuk memangsa mereka. Walaupun telah dihalau oleh dayung dan tombak serta pedang dari rombongan ini, kumpulan buaya bukanya takut tapi malah semakin marah dan semakin bergerombol mengelilingi perahu-perahu yang ingin mendarat dipantai.

Melihat ini tidak ada satupun warga kampung yang berani berbuat apa-apa menyaksikan kejadian ini, bahkan tidak sedikit warga kampung yang mencoba membantu malah dikejar beberapa ekor buaya sampai ke pantai. (Yup.... tebakan kalian yang sedang membaca kisah ini, tidak salah..!!!) mendengar dan melihat kegaduhan ini, si Ahok yang sore itu sedang mengarah untuk bermain dipantai, tiba-tiba saja menjadi kumat nakal bin degilnya, dia menuju kearah gerombolan buaya-buaya ini sembari membawa sekeranjang batu dan dan kelapa-kelapa kering, emaknya yang melihat ini tentu saja mencak-mencak tidak karuan, tapi karena sedang kumat, si Ahok tidak mempedulikan teriakan dan panggilan dari emaknya yang melarangnya untuk mendekati gerombolan buaya tersebut.

(Yesss... kalian yang sedang membaca kisah ini kembali benar) sekonyong-konyong para buaya yang merasakan timpukan batu dan lemparan kelapa kering dari tangan si Ahok plus makian ala jin kumat dari mulut si Ahok menjadi salah tingkah saling tabrak bin tubruk diantara mereka, bahkan yang berada ditepi pantai langsung meluncur ke arah laut, sebagian lagi yang sedang bergerombol diantara perahu Raja perompak, malu-malu menyingkir menjauhi perahu rombongan tersebut, hingga akhirnya buaya-buaya ini menghilang dari pandangan.

(Yup... untuk ketiga kalinya kalian yang membaca kisah ini benar lagi) karena telah selamat dari santapan sore para buaya, sang Raja perompak ini, menggendong si degil Ahok, dan para pengikutnya meneriakkan yel.. yeeel... Ahok... Ahokk... Ahoookkk, sampai ketengah kampungnya. Bahkan sebagai rasa terima kasih, sang Raja perompak memberikan Ahok satu keranjang berisi koin emas sebagai sebentuk hadiah pada Ahok dan keluarganya.

(Nah.. disini kalian yang sedang baca salah xixixixi) Ahok menolak pemberian satu keranjang emas dari sang Raja perompak ini, dan memilih untuk meminta salah satu aksesoris yang dipakai sang Raja. Tentu saja sang Raja perompak ini menjadi takjub serta heran dengan anak kampung satu ini, dengan tulus dia berikan apa yang Ahok minta darinya, dan malam itu mereka berpesta pora mabuk gondal gandil minum arak tuak sampai pagi merayakan keberuntungan mereka hari itu. Bagi mereka Ahok adalah Anak Hoki, dan secara tulus gerombolan ini mengakui dirinya sebagai teman Ahok... xixixixixi *bukan teman Ahok Pilkada yah wakakakakakakak.

Waktu akhirnya beranjak, Ahok menjadi anak remaja yang masih kerap kumat kedegilannya, tetapi karena ingin menambah pengetahuan, Ahok akhirnya merantau ke kota kabupaten. Di kota ini selain melanjutkan sekolah menengah pertama, dia juga mengisi waktu bekerja sebagai officeboy dikantor sang Bupati. Nasib sial anak remaja dari kampung ini terjadi ketika dia mulai mengenal cinta, sayangnya dia jatuh cinta dengan anak gadis 'tunggal' Bupati yang bernama Yukazimi, berwajah ayu dan berambut panjang sebahu (hahahaha, kalian salah, jangan dipikir Yukazimi terpikat juga dengan si Ahok lho yah, bahkan dilirikpun si officeboy ini tidak xixixixi).

Singkatnya, dalam menjalani hari-harinya sesekali si Ahok kumat degilnya, yaitu degil memacari beberapa pelayan wanita dikantor Bupati, sebagai kompensasi atas cinta terpendamnya pada Yukazimi.

www.tranuka.com
www.tranuka.com
Dan hari menentukan nasib Ahok akhirnya tiba, kantor Bupati menjadi ramai dengan rombongan tamu dari Bupati kabupaten tetangga yang sangat disegani oleh Bupati kota itu, pesta besar penyambutan dan makan besar terjadi di aula Bupati. Karena perhelatan ini, Ahok ditugaskan menjadi salah satu pelayan dalam kepanitian pesta besar tersebut, inilah timming dimana nasib Ahok berubah 180 derajat, ketika dia sedang mengantarkan kaleng-kaleng bir untuk dinikmati oleh Bupati tetangga tanpa sengaja kalungnya tersembul keluar baju seragam pelayannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun