Mohon tunggu...
Herman Efriyanto Tanouf
Herman Efriyanto Tanouf Mohon Tunggu... Menulis puisi, esai, artikel lepas

Bergiat di Komunitas LEKO Kupang

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Hujan di Matamu

19 Juli 2019   23:19 Diperbarui: 20 Juli 2019   15:53 0 16 0 Mohon Tunggu...
Puisi | Hujan di Matamu
Ilustrasi: Pixabay/ Tsukiko Kiyomidzu

Aroma tanah telah hilang bersama jejak ziarah kita. Matamu seperti tak mau tahu, kapan hujan harus redah. Musim-musim kerontang belum mampu usir tengger di bulu-bulu mata. Bunga-bunga basah, tapi tak pernah mekar. Hijau pohon-pohon gandarusa bertekuk pada lumut di matamu. Ada bosan yang purba. Setiap kenang pergi, kau panggil, genangi jejak-jejak yang hilang. Rupanya kau masih percaya tentang kawinnya hujan dan air mata, menjadikan bunga-bunga mekar di segala musim. Kau lupa, saat keduanya menyatu, kau dan aku sulit membedakan mana hujan, mana air mata. Rintik-rintik itu telah menjadi mata air di bola matamu.

Bukannya aku tak mau berjalan bersamamu melewati jejak-jejak kenang, tapi Dia telah memanggilku, pulang. Aroma tanah telah menyatu bersama tubuh dan tulang-tulangku.

(HET, 2016)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x