Mohon tunggu...
Herman Seran
Herman Seran Mohon Tunggu... Petani

Pekerja swasta yang menulis sebagai hobi dengan ketertarikan multispektrum. Konsentrasi khusus pada valuasi projek, manajemen organisasi, pemberdayaan masyarakat, komunikasi dan negosiasi strategis dan ekonomi ekstraktif.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Covid-19 Memaksa Ritual Kembali ke Spiritual

27 Maret 2020   09:08 Diperbarui: 30 Maret 2020   14:54 293 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Covid-19 Memaksa Ritual Kembali ke Spiritual
dclog.jp

Minggu besok (29/3/20) kita akan merayakan ekaristi secara daring alias live streaming. Bahkan sudah ada tanda-tanda kalau perayaan paskah sebagai puncak pesta umat kristiani akan dirayakan di rumah masing-masing. Bagi umat kristiani, ini adalah suatu cara ekaristi baru yang terasa asing. Ini menjadi lebih aneh buat kami, orang NTT yang batu dan kayupun kalau bisa omong mengaku beriman Kristiani.

Betapa tidak, tahun 2018 jumlah umat kristiani hampir 91% (51.8% Katolik, 38,7% Protestan).

Kenyataan mendukung, dengan kebanyakan kami dipermandikan semenjak masih berumur jam atau hari. Misalnya, saya dipermandikan sebagai orang katolik semenjak umur tiga hari.

Itulah mengapa beriman dan beritual iman bagi kebanyakan kami di NTT adalah satu kebiasaan yang jika tak dilakukan terasa kurang. Merayakan ekaristi seperti sejenis siklus biologis (biological clock) yang kalau tiba masanya maka harus ditunaikan. Mirip-mirip jam makan siang kalau tidak makan lapar, belum makan nasi walaupun sudah kenyang terasa belum makan.

Tetapi apakah itu berpengaruh bagi cara hidup  kami di NTT? Sabar dulu! NTT pernah didaulat Transparency International Indonesia (TII) sebagai provinsi terkorup nomor empat. NTT juga merupakan provinsi termiskin ketiga senusantara. Jika memang kami ini beriman pada Tuhan yang benar mengapa kami rampok? Jika kami diberkati Tuhan mengapa jawara orang miskin, bodoh dan terbelakang? Rupanya, ritual iman tidak seiring sejalan dengan perilaku dan berkat yang diterima.

Hari-hari ini kita dirundung serangan virus Covid-19. Semua aktivitas mengumpulkan massa dilarang termasuk perayaan iman. Ritual iman kini dilumpuhkan di zaman negara dan dunia melindungi hak setiap kita untuk berdoa, sebagai hak asasi yang melekat. Walaupun di bagian lain di Indonesia membangun rumah ibadah lebih sulit daripada membangun rumah bordil, atau berkumpul untuk beribadah akan lebih mudah dibubarkan ketimbang membubarkan para preman pasar, tetapi secara legal setiap orang berhak untuk beriman dan mempraktekkan imannya di Nusantara ini.

Alam melalui pandemi Covid-19, justeru menghadang umat beriman untuk berhenti beritual belaka seraya menjadikan agama sebagai objek bisnis. Seperti membangun patung-patung raksasa atas nama wisata rohani, bukan membangun spiritualitas umat sebagai fondasi ekonomi yang inklusif. Bukankah itu komersialisasi agama?

Umat Kristiani diajak untuk kembali kepada cara hidup zaman gereja perdana saat spiritualitas mengatasi ritual. Saat di mana pengalaman iman melampaui pengetahuan iman. Saat di mana orang beriman dikejar, ditangkap dan dilemparkan ke kandang singa sebagai tontonan barbarian. Kita justeru disokong penuh oleh kekuasaan di negara seperti Indonesia. Bahkan negara mengalokasikan anggaran dan kementerian khusus untuk urusan iman, atas nama Ketuhanan yang mahaesa, walaupun sebagian besar dikorupsi juga. Memori korupsi fasilitasi ziarah dan pengadaan kitab suci terpental keluar dari memori kita.

Sekarang yang menghadang kita justeru semesta. Alam memaksa dan memisahkan kita untuk tidak beritual secara fisik yang kolosal. Pengalaman berjarak fisik memaksa persekutuan bathin dan spiritual. Kita diberi kesempatan untuk kembali ke dalam diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat kita. Karena kekuatan dan sel inti gereja adalah keluarga, tempat di mana iman sungguh menjadi praktek nyata dalam hidup. Jangan seperti publikasi di China, perceraian justeru meningkat karena orang dirumahkan. Bukankah kebersamaan membuat kita semakin akrab? Apakah sekarang bersatu kita runtuh, bercerai kita jaya?

Tak perlulah kita mencari pembenaran dalam berbagai macam teori dan teologi. Tuhan sesungguhnya membutuhkan hati yang remuk-redam bukan korban bakaran. Tuhan lebih membutuhkan spiritualitas yang murni ketimbang ritual iman mekanis dan komersial.

Kita tak perlu bertanya ini dosa siapa? Tak perlulah percaya hoaks, bahwa ini rancangan bangsa tertentu. Karena dalam setiap persoalan selalu ada rencana Allah. Pandemi Covid-19 menjadi alasan untuk pernyataan kemuliaan Allah. Namun, cahaya kemuliaan Allah hanya bisa dialami mereka yang memiliki pikiran terbuka bagi pencerahan, bukan mereka yang mengurung diri dalam keangkuhan spiritual.

Pertanyaannya, saat Anak Manusia kembali akankah Dia menemukan iman di bumi? Apakah tanpa ritual, spiritualitas kita lantas mati? Iman itu adalah sukacita kebebasan. Karena Tuhan tak rela membebaskan kita dari perbudakan dosa, hanya untuk menjajah kita dengan cinta-Nya. Seenak apapun, cinta yang terpaksa tetaplah terasa pahit. Kita dipanggil untuk merayakan sukacita kebebasan walau bukan secara fisik, tetapi secara spiritual. Happy weekend!

Rujukan:
https://regional.kompas.com/read/2019/03/22/09042071/wagub-ntt-sangat-ironis-kita-termiskin-ketiga-tapi-terkorup-keempat
http://nttprov.go.id/2018/index.php/kondisi-umum/keagamaan

VIDEO PILIHAN