Mohon tunggu...
Herman Wijaya
Herman Wijaya Mohon Tunggu... Administrasi - Pedagang tempe di Pasar Depok

berminat dengan tulis menulis

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Jika Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani Tahu, Mereka Akan Sedih

12 Desember 2018   20:07 Diperbarui: 13 Desember 2018   06:13 820
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Acara Penyerahan simbolis bantuan pemerintah oleh Bekraf di Annex Building, Selasa (11/12) malam. (Dok. Probadi)

Acara semacam itu mustinya bisa dilakukan secara lebih sederhana, bahkan di tempat yang tidak terlalu eksklusif seperti di Upper Room Annex Building yang mewah.

Entah berapa besar anggaran yang dibuang hanya untuk menampilkan pejabat-pejabat Bekraf, disaksikan oleh sebagian karyawan Bekraf sendiri, padahal acara utamanya hanya seupil.

Jika Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat langsung acara itu, mungkin mereka akan sedih.

Kamis, 6 Desember 2018, di salah satu studio TVRI Senayan Jakarta, berlangsung rekaman siaran pengumuman Lomba Kritik Film. Selain beberapa pemenang dan panitia pelaksana, Sekjen Kemendikbud Didi Suhadi, Kepala Pusbang Film Maman Wijaya dan Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbangfilm Sanggupri juga hadir. 

"Syutingnya kacau, salah melulu," kata seorang wartawan yang menyaksikan rekaman acara tersebut.

Soal retake dalam rekaman di studio itu sebenarnya biasa. Syuting film pun, yang diperankan oleh artis, bisa begitu. Apalagi oleh orang awam.

Merekam acara pengumuman lomba kritik film untuk kemudian disiarkan televisi, jelas ini sebuah kemewahan. Hanya di era Pusbang Film Kemendikbud sajalah peristiwa ini terjadi. Lomba Kritik Film yang diadakan Kemendikbud tahun 2018 ini merupakan yang kedua kali. Tetapi baru pertama kali disiarkan khusus oleh televisi. 

Foto: Ist.
Foto: Ist.
Lomba Kritik Film sebenarnya bukan mainan baru. Pada tahun 80an - 90an, lomba kritik film diadakan secara rutin setiap tahun dan menjadi bagian dari penyelenggaraan FFI. Setelah FFI mati suri, Lomba Kritik Film ikut tewas.

Tahun 2004 Kritik film ikut bangkit bersama penyelenggaraan FFI era baru. Sayang umurnya pendek, cuma dua tahun. Tidak seperti penyelenggaraan FFI yang rutin diadakan sejak 2004.

Setelah itu, entah mengapa Kritik Film dimatikan. Barulah dalam dua tahun terakhir, 2017 - 2018 Pusbang Film menyelenggarakan Lomba Kritik Film, tetapi terpisah dengan penyelenggaraan FFI.

Proyek Kritik ini tidak main-main. Pusbang juga mengadakan semiloka kritik film di beberapa kota besar di Indonesia, antara lain di Jakarta, Medan, Makasar dan Bandung.

Semiloka biasanya diadakan di hotel-hotel mewah. Peserta diinapkan di hotel, dikasih coaching, dikasih makan enak dan uang saku setelah acara. Opo ora enak? Panitia dan pembicara diboyong dari Jakarta, tentu saja disediakan akomodasi, konsumsi, tranportasi dan honor yang gede. Pokoknya asyiklah. Panitia bisa ngantongi  duit gede untuk proyek ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun