Mohon tunggu...
Heri Purnomo
Heri Purnomo Mohon Tunggu... Administrasi - nothing

-

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki yang Tak Bisa Menulis Puisi

24 Agustus 2016   15:45 Diperbarui: 24 Agustus 2016   15:53 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi:nfosastra.com

Besuk adalah hari istimewa. Hari di mana usia perkawinan Dee bersama Susanto Widjaja menginjak angka 25 tahun. Di usia perak ini Dee memimpikan sebuah hadiah spesial dari sang suami. Bukan hadiah yang mahal, cukup sebuah puisi sebagai ungkapan perasaan suami kepada istri tercinta.

Selama menjalani perkawinan Dee tak pernah merasakan suasana romantis seperti dalam kisah-kisah roman yang sering dibacanya atau cerita-cerita pendek yang sering ditulisnya. Kadang ia bermimpi di suatu hari Susanto membisikkan kata-kata indah di telinganya. Atau di kali lain ia membayangkan suaminya menulis sebuah puisi lalu dibacakan di hari ulang tahunnya. Suasana seperti itu belum pernah terjadi. Dan kali ini Dee ingin impiannya menjadi nyata. Berharap bisa menjadi kado terindah di seperempat abad perkawinannya.

Tapi harapan tinggal harapan. Susanto tak bisa memenuhi permintaan Dee. Ia tak pernah menulis puisi. Ia memang seorang direktur yang brilian dan sukses. Juga seorang pekerja keras dan dikenal sebagai figur yang memiliki integritas. Tapi ironisnya dalam hal puisi, ia seperti orang paling bodoh di dunia ini. Ia tak menyukai puisi, juga dunia fiksi lainnya. Mungkin hanya sekali seumur hidupnya ia membuat puisi, yaitu saat guru di SMP nya memberi tugas mengarang dalam pelajaran sastra.

Ia sosok lelaki yang polos, tidak banyak bicara tapi tegas sekaligus pragmatis. Kehidupannya jauh dari dunia menulis. Berbeda 180 derajat dengan Dee. Dee seorang penulis fiksi dan sangat menyukai puisi. Ia telah menulis beberapa kumpulan puisi, cerpen dan beberapa novel. Buku-buku karyanya mudah ditemukan di rak-rak toko buku ternama. Namanya pun sudah banyak dikenal di dunia literasi. Namun perbedaan besar di antar mereka berdua bukanlah halangan untuk hidup bersama membina mahligai rumah tangga. Terbukti sampai hari ini rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Memang, mereka berdua bertemu karena dijodohkan.

"Maafkan aku, ma. Meskipun mama memaksa, papa tetap tak bisa."

"Papa, kali ini saja!. Please..lakukanlah untuk mama. Ini akan menjadi sebuah peristiwa tak terlupakan dalam sejarah perkawinan kita. Kalau papa tetap menolak mama akan sangat kecewa... hiks"

"Apa tidak ada permintaan yang lain? Bukankah di awal pernikahan mama berjanji akan saling menerima apa adanya? Satu sisi yang papa sudah pasti mengecewakan mama, papa tak paham tentang puisi. "

"Papa.. mama yakin papa bisa. Masalahnya mau apa tidak? Pengetahuan dasar menulis hanya mengenal huruf, kata dan membuat kalimat. Itu saja, pa. Mama yakin papa pasti bisa. Apakah berlebihan permintaan mama yang sederhana ini?”

"Aduh, ma. Jangan paksa papa. Sudahlah, papa pusing." Susanto melangkah keluar, tapi tangan Dee lebih dulu menahan suaminya yang bergegas mengakhiri pemcicaraan siang itu.

"Ah, papa mau ke mana?. Tunggu pa, ini belum selesai. Papa jangan kabur ninggalin mama begitu saja. Kali ini terpaksa mama meminta papa dengan paksa. Kalau papa tidak mau memenuhi permintaan mama, mama akan pergi dari rumah ini. Barangkali cinta papa sudah tidak seperti dulu lagi." Kali ini Dee mulai mengancam suaminya.

"Sekarang, mama kasih buku kosong. Ini pulpennya. Besuk buku ini harus sudah tertulis sebuah puisi. Titik.” Dee menyodorkan sebuah buku dan Susanto menerimanya dengan tanpa ekspresi. Seolah buku itu telah menyandera dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun