Mohon tunggu...
Heri Nurdiansyah
Heri Nurdiansyah Mohon Tunggu... sbk.sch.id

jika enggan menahan lelahnya belajar maka bersiaplah merasakan perihnya kebodohan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Regenerasi Petani "Diujung Zaman"

22 Mei 2019   19:55 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:04 0 0 0 Mohon Tunggu...

Petani di Ujung jaman

Indonesia merupakan salah satu negara yang besar di dunia. Negara ini diwarisi kekayaan yang melimpah dengan tanah yang sangat subur. Hutan, gunung, sawah dan lautan adalah kekayaan Indonesia yang tak terelakan sehingga negara lain pun mengapresiasi dan tentu sangat tertarik dengan Indonesia yang hasil buminya sangat dirasakan manfaatnya hampir diseluruh dunia mulai dari hasil hutan, perkebunan, sawah dan ladang. Tentunya dibalik hasil melimpah ini ada keringat dan tenaga yang dikeluarkan. Ialah orang yang mengayunkan cangkul setiap pagi sampai sore, bertopi caping dan yang menjaga dan merawat tanah subur kita yakni adalah Petani.

Petani merupakan ujung tombak pangan dunia. Ditangannya, banyak sekali hasil yang bisa kita nikmati dengan kerajinan dan ketekunannya. Tanpa petani mungkin beras akan langka, mungkin daging akan sulit, dan mungkin sang Ibu akan sulit mencari bumbu penyedap. Berkat peran petani pula kita bisa bertahan hidup dan memunyai energi besar berkat karyanya untuk membangun bangsa.

Namun kini profesi petani mulai jarang bahkan atau bahkan banyak ditinggalkan. Jumlah petani setiap tahun semakin berkurang dikarenakan yang menggeluti profesi tani adalah orang tua dan lanjut usia sedangkan kaum mudanya memilih untuk bekerja di perusahaan, dipabrik atau dikantor. Adapun kaum muda yang menjadi petani kebanyakan adalah karena keterpaksaan bukan karena keinginan atau cita-cita. Mereka menjadi petani karena tidak mendapat pekerjaan yang mereka inginkan, gaji yang tidak sesuai harapan ataupun kalah bersaing dalam dunia kerja sehingga jalan terakhir adalah menjadi seorang petani.

Mari kita lihat profesi petani dari ciri-cirinya. Yang pertama, ciri-ciri petani itu memakai baju yang compang-camping dan kotor. Berbeda dengan orang yang bekerja di kantoran yang memakai kemeja dan dasi. Ciri lainnya adalah petani bergelut dengan lumpur, kulit kusam dan hitam karena paparan sinar matahari. Tangan menjadi kasar dan kaki menjadi pecah-pecah. Apakah hal ini bisa menarik bagi kaum muda milenial ? tentu saja perlu pemahaman lebih lanjut.

Disisi lain, para petani sering sekali mengalami krisis kepercayaan diri. Mereka selalu menganggap dan merasa dirinya paling lemah dan tidak punya kemampuan apa-apa sehingga untuk menyampaikan sesuatu atau berpendapat merasa pendapatnya tidak akan didengar atau ditanggapi atau pun imej petani berkaitan dengan kemiskinan sehingga semakin minerlah mereka.

Dari segi finansial petani sering sekali banyak merasakan rugi. Jumlah pengeluaran tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. Petani harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memproduksi pangan. Mulai dari sebelum panen yakni bagi yang punya traktor harus membeli bahan bakar dan lainnya. Setelah musim tanam ada biaya pemeliharan meliputi pembelian pestisida, fungisida dan pupuk penunjang pertumbuhan.

Ketika panen, otomatis mereka memiliki barang untuk dijual kepasar. Selain stok untuk pangan konsumsi pribadi petani juga menjual barangnya ke pasar. Anehnya, petani yang memiliki barang tetapi malah pembeli yang menentukan harga. berbeda sekali dengan perusahaan ritel atau yang lainnya yang bisa mementukan harga barangnya sendiri. Selain itu juga produk hasil pertanian harus bersaing dengan makanan instan seperti kopi, mie, snack dan lainnya. Ini juga menjadi salah satu faktor kenapa makanan lokal kalah bersaing dengan makanan instan sehingga kurang diminati oleh kaum muda karena terkesan rumit dan tidak praktis padahal dari segi kesehatan, makanan lokal sangatlah baik untuk tubuh.

Melihat ciri-ciri diatas, apakah menjadi petani itu mengerikan atau menyenangkan ? mari kita gali lagi sisi lainnya.  

Apa yang dihasilkan petani ? Petani identik dengan penghasil padi. Bisa kita lihat di Nusantara ini banyak sawah membentang luas dan kita tau bahwa Indonesia salah satu negara penghasil beras terbesar. Hamparan sawahnya yang hijau membentang luas menjadi daya tarik teresendiri bagi kita dan bagi para pengunjung wisata. Sawah yang kita lihat indah, dibalik itu ada keringat dan tenaga dikeluarkan oleh Petani dan dari sawah pula makanan pokok dihasilkan yaitu nasi. Bagaimana prosesnya mulai dari menanam, merawat, memanen, mengolah hingga sampai di meja makan kita. Tidak hanya itu, selain menanam padi disawah petani juga memiliki sektor produktif lainnya sebagai sumber hidupnya yakni beternak dan berkebun. Mulai dari ayam, kambing hingga sapi mereka pelihara untuk menambah dan menunjang kebutuhan pangan. Selain itu juga petani juga menanam kayu dikebunnya atau bahkan menanam tanaman perkebunan seperti lada, vanili, kapulaga dan lainnya. Jadi sektor produktif petani tidak hanya sebatas pengasil padi, tetapi juga pengasil dari sektor perkebunan dan sumber protein hewani.

Jadi, begitu banyak kalangan yang bisa merasakan manfaat dari hasil dari pertanian seperti Pejabat, anak sekolah, buruh, supir, tukang ojeg dan lainnya. Nasi yang menjadi pokok makanan, sayur dan buah menjadi pendamping makanan,  bahkan bumbu pelezat masakan pun yang sering dipakai untuk  memasak adalah hasil dari pertanian. Maka dari itu betapa sangat mulianya menjadi seorang petani. Betapa sangat besar manfaat yang dirasakan dari  hasil petani yang mencakup hampir seluruh kebutuhan  hidup kita.

Maka dari itu kita perlu bekerjasama untuk mengembalikan marwah petani dikacamata para pemuda bahwa profesi bertani itu sangat mulia dan tentunya menghasilkan jika dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah dan seluruh unsur masyarakat harus bisa menggencarkan dan mensosialisasikan tentang bertani itu mulia. Langkah-langkah untuk memajukan pertanian di Indonesia diantaranya ialah harus bisa mengkampanyekan bahwa makanan lokal yang alami itu lebih sehat sehingga makanan hasil pertanian bisa mempunyai daya saing yang tinggi dan generasi selanjutnya tidak terjebak dengan makanan yang serba instan. Pemerintah juga harus bisa memfasilitasi dan menampung pangan organik yang sehat dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Kita tidak perlu ekspor selagi kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi karena hasil pangan yang organik dan ramah lingkungan harus bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan demikian maka petani bisa sejahtera jika semua unsur mendukung dengan gerakan sadar akan kedaulatan pangan dan juga kita patut berbangga petani bisa teregenerasi demi kemakmuran bangsa dan akan jadi identitas kita selaku bangsa Indonesia yang sumur makmur dibuktikan dengan petaninya yang tetap eksis dan berkembang dan hasil pertanian yang sehat dan ramah lingkungan.

#kategoriumum #PertanianIndonesiaMaju