Mohon tunggu...
Heri Kurniawansyah
Heri Kurniawansyah Mohon Tunggu... Pemimpi

Menulis, Baca, Traveling, Pemimpi, Bermanfaat untuk semua

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Membaca Arah dan Motivasi Politik Mahfud MD

3 Mei 2019   14:17 Diperbarui: 3 Mei 2019   14:23 0 1 1 Mohon Tunggu...
Membaca Arah dan Motivasi Politik Mahfud MD
Sumber gambar medan.tribunnews.com 

Mengapa Mahfud MD saat ini begitu populer jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh nasional moderat lainnya, padahal dirinya bukan menjadi bagian dari salah satu kontestan politik praktis saat ini. Analisis sederhananya adalah karena Mahfud MD memiliki motivasi politik yang cukup kuat untuk menjadi bagian dari kontestasi politik yang akan datang. Bagaimana analisisnya?

Indikator Sikap Politik Mahfud MD

Indikator itu sangat jelas ketika menjelang Jokowi menentukan calon wapres pendampingnya pada pilpres ini, Mahfud MD mulai mengeluarkan statemennya yang bernada sumbang dengan ucapan "saya dari dulu sudah tidak sejalan dengan Prabowo". Makna narasi itu sangat jelas kepada sebuah pengharapan agar dirinya dilirik oleh Jokowi sebagai calon wapres. Di lain waktu, pada saat Mahfud MD duduk semeja dengan Pratikno, tepatnya di injury time pengumuman cawapres pendamping Jokowi, dengan sangat percaya dirinya Mahfud MD kembali mengeluarkan statemennya kepada para wartawan ; "oh iya dong, Jokowi pasti menang". Namun pada akhrinya sikap pro-nya kepada Jokowi tidak berterima dengan ekspektasi dirinya. Dirinya kembali dibuat kecewa oleh perlakuan politik tingkat tinggi para elit, meskipun dirinya mengaku tidak kecewa sama sekali.

Motivasi Politik Mahfud MD

Memasuki pasca Pilpres, dia menyadari dirinya bukan siapa-siapa dalam konstalasi politik nasional saat ini, maka dia sangat perlu mengambil sikap politik untuk menentukan posisi dirinya dalam dinamika politik terutama untuk orientasi pasca 2019-2024 nanti. Untuk menunjukkan itu semua, Mahfud mulai menunjukkan manuver lisannya yang sangat memojokkan kubu Prabowo. Selain itu, sikap Mahfud perihal gonjang-ganjing KPU dalam pemilu kali ini pun selalu kontras dengan kubu Prabowo, padahal posisinya secara normatif saat ini bukan sebagai TKN apalagi sebagai BPN.

Pada posisi seperti ini, publik bisa membaca dengan mudah kemana arah politik Mahfud dengan segala macam motivasinya. Meskipun dia kecewa terhadap kubu Jokowi pada saat menjelang penentuan cawapres waktu itu, namun dia sangat memahami pada posisi mana dia harus berdiri saat ini jika dirinya ingin memiliki posisi tertentu, apalagi posisi tertentu tersebut bisa menjadi batu loncatan yang paling mungkin untuk menunjukkan dirinya lebih masif di ruang publik dalam siklus politik berikutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa motivasi jangka panjangnya adalah ingin menjadi bagian dari yang terkonsestasi di pilpres berikutnya, lalu apa hubungannya dengan mendukung Jokowi?

Jika dia hanya menjadi "pengamat" seperti saat ini sampai menjelang 2024, maka dia hanya akan dianggap "angin lalu" dalam percaturan politik nasional, sebab status "pengamat" yang melekat pada dirinya hanya bisa "berbicara" tanpa memiliki ruang untuk mengeksekusi kebijakan, itu artinya pengamat tidak memiliki ruang untuk menunjukkan hasil sebuah kinerja (prestasi), maka dia harus mengambil ruang itu dengan masuk kedalam "sistem" sebagai jembatan menuju proses politik berikutnya.

Jika dirinya berada dalam sistem, penulis meyakini bahwa Mahfud MD adalah sosok yang paling akan mendominasi media masa di empat tahun akan datang, apalagi misalnya jabatan yang dia pegang lebih strategis yang berhubungan dengan keahlian yang ada pada dirinya. Gonjang-ganjing hukum di negeri ini akan sigap dihadapi oleh seorang Mahfud ketika dia memiliki wewenang untuk mengatasinya, pada saat itu Mahfud akan selalu menjadi headline, dan kondisi ini akan semakin meningkatkan popularitasnya di kalangan publik. Inilah cikal bakal seorang Mahfud MD akan diperhitungkan dibandingkan dengan fenomena konstalasi politik sebelumnya. Bayangkan, dirinya yang tidak menjadi bagian dari sistem pemerintah saat ini saja, popularitasnya begitu tinggi, apalagi jika dirinya sudah masuk ke dalam sistem dimana dirinya akan memiliki ruang untuk berpartisipasi lebih besar di lembaga yang dia pimpin nantinya.

Mengapa demikian?, menyadari pengalamannya dua kali gagal menjadi calon wapres, dan mengingat ruang kompetisi begitu tinggi kedepannya dengan mulai memunculkan nama-nama populer dan milenial, serta lebih energik seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudoyono, Sandiaga Uno, Tri Rismaharini, dan Ganjar Pranowo yang tentunya menjadi pertaruhan konstalasi politik yang sangat berat dan dinamis kedepannya. Maka dia harus menunjukkan diri lebih berprestasi melalui institusi yang dia pimpin.

Pada saat yang sama tingkat partisipasi dan kesadaran politik masyarakat saat ini semakin tinggi, sehingga penentuan capres dan cawapres melalui jalur survey dan konvensi adalah salah alternatif utama dalam menentukan capres dan cawapres kedepannya, dan Mahfud MD bisa masuk melalui pintu ini. Oleh karena itu secara politik saat ini Mahfud MD kemungkinan akan mengejar posisi strategis dalam sistem pemerintah pasca pilpres ini sebagai batu loncatan untuk kontestasi politik berikutnya, karena ketokohan dan kelasnya memang berada di level itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2