Mohon tunggu...
Heri Kurniawansyah
Heri Kurniawansyah Mohon Tunggu... Pemimpi

Traveling

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Partai Politik di Persimpangan Jalan: Ideologi & Aras Kepercayaan yang Rendah

19 April 2019   21:36 Diperbarui: 19 April 2019   21:54 94 1 0 Mohon Tunggu...

Pembaca yang budiman, ada beberapa sisi dari fenomena politik kontemporer yang sedang berlangsung saat ini sebenarnya lebih menarik untuk dibuat semacam opini atau argumentasi. Salah satunya adalah tentang eksistensi partai politik yang terbilang mandul dalam melahirkan tokoh-tokoh berprestasi, padahal sebenarnya dari parpol itu sendiri negara itu diurus. 

Coba kita cek para kepala daerah yang dianggap berkinerja baik dan berprestasi seperti sosok sekaliber Anies Baswedan, atau mungkin Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Hasto Wardoyo (Kulon Progo), Emil Dardak, Nurdin Abdullah, dll adalah mereka yang memang berasal dari kalangan profesional (non partai/independen), bukan kader partai politik tertentu.

Coba cek lagi para menteri kabinet Jokowi yang dianggap berkinerja baik seperti Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, Basuki Hadimulyono, Ignasius Jonan, dan terkhusus Pratikno yang dianggap "suhu" dalam prinsip politik yang dianut oleh jokowi adalah mereka para menteri yang berasal dari kalangan profesional bukan kader partai. 

Selanjutnya coba cek para ketua tim pemenangan baik Jokowi (TKN) maupun Prabowo (BPN) seperti Erick Thohir dan Dahnil Anzar Simanjuntak adalah mereka yang bukan lahir dan terkader dari partai tertentu, tapi mereka lebih dipercaya menjadi ketua pemenangan ketimbang para kader atau elit politik lainnya. Mari kita coba cek lagi eksistensi mereka para juru bicara terbaik yang pernah ada di bumi Indonesia ini seperti Boy Rafli Amar, Febridiansyah, Dino Patti Djalal, dan Julian Adrian Pasha adalah mereka yang jauh lebih negarawan dan bersinar jika dibandingkan dengan jubir yan berasa dari parpol itu sendiri seperti Ngabalin, dll.

Dari peristiwa itu yang ingin saya katakan adalah bahwa partai politik itu memang gagal dalam mengkaderisasi para kadernya untuk melahirkan para pemimpin yang memiliki gagasan dan sosial agency yang lebih di level eksekutif. Padahal narasi dan deskripsi parpol itu mulai dari visi misi, retorika, dan popularitas seolah-olah mengalahkan eksistensi negara itu sendiri. 

Saya justru melihat bahwa parpol itu tidak meletakkan idelogi apapun dalam membangun partainya itu sendiri. Fenomena ini memberi kesan bahwa "yang penting ada saja dulu partainya, urusan kader itu urusan nanti". Pragmatisme dalam berpikir menjadikan parpol itu tidak lebih dari sekedar kendaraan politik yang harus ada secara normatif saja. Tidak heran terlalu banyak kader parpol yang loncat ke partai lain hanya untuk menjadikan parpol sebagai kendaraan politik untuk memenuhi jalan kekuasaannya semata. Pada posisi ini secara pribadi saya sangat salut kepada kader partai yang tetap setia dan konsisten dengan ideologi partai yang pernah membesarkan namanya.

Pada posisi ini juga secara pribadi saya tidak ingin menyalahkan mereka yang terafiliasi dalam partai tertentu yang kemudian loncat ke berbagai partai lainnya, namun focus of interest-nya adalah bahwa partai itu menjadi organisasi yang dianggap gampangan oleh publik oleh karena faktor transaksi politik itu sendiri begitu liar dan pulgar. Selama sistem kepartaian masih menganut "bad habit" seperti ini, selama itu pula negeri ini akan mengalami stagnasi dan politik yang tertib itu akan sulit dilakukan, meskipun pada sisi lain, mereka semuanya adalah yang paling lancang berteriak ingin membangun bangsa ini, padahal itu adalah omong kosong. 

Situasi ini telah menjadikan aras kepercayaan kepada partai politik begitu rendah, oleh karena itu sistem parpol itu memang harus direformasi secara radikal, termasuk salah satunya adalah mau berpikir untuk mulai mencanangkan "political financing" agar kader-kader partai itu benar-benar isi otaknya yang berkompetisi ketimbang isi dompetnya.

VIDEO PILIHAN