Mohon tunggu...
Dr. Herie Purwanto
Dr. Herie Purwanto Mohon Tunggu... Penegak Hukum - PNYD di KPK (2016 sd. Sekarang)

Bismilah, Menulis Tentang Korupsi

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Nasihat Ayah untuk Anak Lelakinya

24 Mei 2023   14:14 Diperbarui: 24 Mei 2023   14:31 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto dokumen pribadi

Untuk sekian detik tidak ada cakap. Diam. Hanya semilir angin berkesiur yang tiba-tiba menyeruak, menjadi sebuah desir suara lembut. Sampai terdengar kemudian sebuah helaan nafas dan suara pelan yang mengiringinya.

" Saat perasaan itu datang, saat itu pula akan muncul perlahan ujian-ujian. Semakin kuat perasaan tersebut, semakin kuat ujian cinta kalian. " Begitu suara Sang Ayah dengan tenang. Sang Anak, yang tengah dalam kegalauan, karena ada sandungan dalam perjalanan cintanya hanya terdiam.

" Cinta yang melalui ujian, akan menjadi sebuah mahkota yang penuh dengan pernik kebahagiaan nantinya. Cinta butuh perjuangan, salah satunya berupa penolakan dan sikap tidak setuju dari orang tua. "

" Apakah itu seperti hukum cinta, Ayah? "

" Ya. Rasanya, hampir semua orang akan mengalami beragam masalah sebelum, selama dan sesudah dalam mengarungi bahtera cinta. Maka tidak heran, ada kisah berdarah-darah dua orang yang sudah saling jatuh cinta, harus berhadapan dengan masalah sebelum pernikahannya, atau masalah muncul setelah pernikahan dilaksanakan, ini akan menguji ketahanan cinta keduanya. Sampai akhirnya, ada juga yang semestinya tinggal menikmati bahagia di hari-hari tua, harus memilih kata berpisah sebagai ujian yang tidak bisa teratasi oleh keduanya. "

Sang Anak Lelaki diam. Memang ia sudah sering mendengar hal tersebut. Bahkan, apa yang diceritakan ayahnya, bagai sebuah kilas fakta yang hadir dalam kehidupannya saat ini. Ia tengah menjalin cinta. Ia telah berserius dengan cinta. Ia merencanakan sebuah konsep kebahagiaan. Namun, gapura utama untuk masuk itu semua, belum mampu ia lalui, karena restu orang tua belum ia dapatkan.

Tak ada nyali secuilpun, untuk menerobos kisi-kisi tersebut, kecuali sebuah pengharapan akan adanya kekuatan Sang Kholiq, yang ia yakini bisa membuat sesuatu mustahil menjadi mungkin.

" Maka, senjatanya adalah doa. Ini menjadi bagian usaha yang harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Seiring perjalanan waktu, yakinlah, sekeras apapun baja, ia akan leleh juga oleh tetesan air. Sikap orang tua, jangan dilawan dengan prasangka buruk, karena sejatinya, tiada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Sikap tersebut, yang Kamu artikan bukan sebuah restu, hanya sebuah penundaan sampai pada sebuah keyakinan pada orang tua, bahwa Kamu adalah lelaki yang memang pantas untuk mendampingi putri kesayangnnya. "

Ucapan ini, bagai menyirami kalbu. Sang Anak menatap mata pada Ayahnya. Sosok yang ia kagumi, karena selalu tenang dan memberikan untaian kata-kata bijak dan tuntunan perilaku yang bisa dijadikan cermin setiap langkahnya. Sang Ayah, selama ini tidak pernah sedikitpun menunjukan tutur kata ataupun perilaku yang bisa melukai Ibunya. Sang Ayah figur yang sangat menyangi istri dan anak-anaknya. Seolah rasa sayang tersebut, melebihi sayang pada dirinya. Maka, saat seperti sekarang, di mana galau sangat menyengat dadanya, kata-kata Sang Ayah bisa menjadi katalis-nya.

" Yakinkah dirimu bahwa apa yang ada dihatimu, yaitu perasaan cintamu pada perempuan itu ada dalam relung hatimu yang paling dalam? "

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun