Mohon tunggu...
Heri Prabowo
Heri Prabowo Mohon Tunggu... Sdh 40-an tp masih belajar

lagi belajar jadi penulis

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Insentif Pajak sebagai Penggerak Bursa

1 November 2019   05:33 Diperbarui: 1 November 2019   05:53 49 1 1 Mohon Tunggu...

Ditengah khabar akan terjadinya resesi ekonomi dunia padatahun depan yang berimbas pada ketidakpastian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) sebagai indikator bursa saham Indonesia ada khabar baik, sebab dalam RUUPajak yang disusun pemerintah, ada pemberian insentif penurunan tarif PPhmenjadi 17% bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa saham. Tentu sajadengan sejumlah syarat, diantaranya saham yang dimiliki masyarakat mencapai40%. Sebelumnya insentif pajak untuk perusahaan masuk bursa sudah ada dengan PPNo. 56 tahun 2015, namun hanya penurunan sebesar 5% yang artinya tarifnya 20%dibandingkan perusahaan lain yang dikenakan tarif 25%. 

Penurunan tarif pajak tentunya akan meningkatkan labasetelah pajak ratusan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia ( BEI )yang tentunya bisa mendongkrak harga saham dan selanjutnya mungkin bisamendongkak IHSG. Atau minimal menyelamatkan IHSG yang pada awal tahun lalusempat mencapai angka 6500 dan kini perlahan menurun hingga kisaran 6200.Penurunan bisa berlanjut jika resesi dunia benar terjadi. Ini berkaca padaresesi tahun 2008, dimana  IHSG turunhingga 50% dalam waktu satu tahun. 

Bila RUU ini nanti disetujui DPR,  penerimaan pajak akan mengalami potensipenurunan PPh yang jumlahnya cukup besar. Ini mengingat kapitalisasi pasarmodal kita juga besar. Meliputi ratusan perusahaan besar. Sebagai gambaranmisalnya PT. Telkom. Pada tahun buku 2018, laba sebelum pajak PT. Telkommencapai Rp.36,4 Trilyun.[HP1] Provisi PPh ( perkiraan kewajiban pajak ) mencapai Rp.9,4 Trilyun, dengan tarif tertinggi 20%. Dengan tarif 17% maka PPh bisa turunratusan milyar. Namun penurunan pajak ini akan berlangsung sesaat sebab akanbisa tertutupi dengan tiga hal.


Pertama,sejumlah perusahaan masuk bursa ( go public ) khususnya yang termasuk kategorisaham kapitalisasi besar dan rutin membagikan deviden setiap tahun sepertiTelkom, BCA, BRI dll, akan meningkat laba setelah pajak. Ini bisa berpengaruhkepada jumlah deviden yang dibagikan bagi pemegang saham ritel. Dengan demikianpajak atas deviden punya potensi naik. Kedua, naiknya harga saham. Peningkatanlaba setelah pajak akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.


Sejumlah rasiokeuangan seperti tingkat pengambalian aset ( return on asset ) dan tingkatpengambalian modal ( return on equity ) akan meningkat. Tak hanya itu, aruskas/cash flow perusahaan juga akan lebih baik karena jumlah kas yangdikeluarkan untuk membayar pajak berkurang. Ini tentu sangat baik sebab sebuahperusahaan yang memiliki laba tinggi dan kas yang cukup punya kesempatan untukmelakukan ekspansi.


Dan di pasar saham perusahaan yang punya rencana ekpansipasti akan diburu para investor. Sahamnya akan membumbung tinggi. Sahamnya jugaakan liquid. Ditunjang dengan syarat minimal 40% sahamnya dimiliki masyarakatmaka transaksi harian saham perusahaan tersebut akan tinggi. Akibatnyapenerimaan pajak transaksi penjualan saham di bursa juga akan meningkat.Pendapatan broker dan Bursa Efek Indonesia juga meningkat. Pajak Penghasilanmereka juga akan meningkat. Ini adalah bentuk efek domino. Efek domino lainyang bisa muncul adalah terjadinya pemecahan saham atau stock split. Sebabsetelah harga saham naik membumbung tinggi maka agar banyak investor ritelmampu membeli maka nilai saham dipecah sehingga harga per lot saham menjadilebih murah dan lebih likud.


Maka otomatis pendapat pajak dari transaksi sahamjuga kembali bertambah. Alasan terakhir, insentif pajak perusahaan masuk bursajustru akan meningkatkan peneriman pajak adalah mendorong makin banyaknyaperusahaan berkinerja bagus untuk mau masuk ke pasar saham. Ini adalah alasanutama pemberian insentif pajak untuk perusahaan masuk bursa.


Bursa saham diIndonesia telah berdiri selama 42 tahun. Pada tahun 2018, kapitalisasi pasarmodal Indonesia  hampir Rp. 7.400[HP2] trilyun. Jauh lebih besar dibandingkan kapitalisasiperbankan yang hanya Rp. 7.000 trilyun. Bursa saham Indonesai masuk dalamdaftar 10 bursa terbaik di dunia dilihat dari pertumbuhan IHSG ( Indek HargaSaham Gabungan ). Trilyunan dana asing masuk ke bursa kita.


Namun ironisnyabanyak perusahaan swasta skala besar enggan masuk ke bursa. Sebagai contohperusahaan start up seperti Go Jek, Bukalapak atau Tokopedia belum jugatertarik untuk go public.  Justru startup kecil sepersi Passpod ( penyedia persewaan modem wifi ) sudah melantai di bursa. Tak hanya itu sejumlah perusahaanbesar seperti Wings Group, Produsen Teh Botol Sosro, Waralaba Indomaret,Perusahaan Rokok Djarum dll juga belum tertarik untuk go public.  Target jumlah perusahaan baru yang masukbursa ( Initial Public Offering) setiap tahunnya pun sulit tercapai.   Sebagaicontoh tahun ini dengan target 57 perusahaan IPO tapi baru tercapai 37 perusahaan.Tak hanya dari puluhan perusahaan yang melakukan IPO yang berskala raksasa(  IPO dengan meraup dana hampir 1Trilyun ) bisa dihitung dengan jari. Tahun 2018, tercatat hanya Garuda Food yang masuk kategori ini karena meraup dana Rp. 979 trilyun.


Dan tahun 2019 initercatat Gunung Raja Paksi, sebuah pabrik baja yang meraup dana Rp. 1 trilyun.Sisanya hanya perusahaan skala menengah dan kecil. Bahkan ironisnya adaperusahaan yang justru merugi setelah melakukan IPO. Hingga sahamnya langsung jatuh.Sebagai contoh PT. Sinergi Megah Internusa ( NUSA ) yang justru terus merugisetelah menjual sahamnya di bursa pada 12 Juli 2018. Harga saham saat pencatatanRp. 150 kini hanya berharga Rp. 90,00 atau turun signifikan.


Contoh lain adalahPT. Capri Nusa Properti dan PT. Hotel Fitra Internasional yang justru baru gopublic tahun ini tapi laporan keuangannya merugi dan sahamnya langsung jatuh.Dengan adanya insentif pajak ini maka, para pemilik perusahaan yang kinerjabisnisnya bagus akan tertarik untuk menjual sahamnya di bursa. Sebab merekaselain mendapatkan dana murah tanpa bunga juga akan mendapatkan insentif pajakyang besar. Dana yang mereka peroleh di bursa dapat digunakan untuk ekspansiusaha. Sehingga membuka lapangan kerja. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dantentunya penerimaan pajak.


Tak hanya itu insentif pajak juga akan mencegahperusahaan berkinerja bagus melakukan delisting di bursa dengan membeli kembalisaham yang telah mereka jual kepada investor ritel ( go private ). Sebagaimanayang terjadi pada saham AQUA, PT. Bayer Indonesia dll. Itu sebabnya para pelakupasar modal sangat menantikan insentif  yang bagus ini.

VIDEO PILIHAN