Mohon tunggu...
Nodi Herhana
Nodi Herhana Mohon Tunggu... Pembelajar

Teacher of Civic Education

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Adaptasi Pembelajaran Daring

15 Juli 2020   02:16 Diperbarui: 15 Juli 2020   02:05 320 3 0 Mohon Tunggu...

Munculnya pandemi Corona di dunia ini telah mengubah pola interaksi manusia diberbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dibidang pendidikan. Baiklah, karena basic  saya seorang guru maka yang ingin saya bahas adalah dunia pendidikan khususnya pembelajaran.

Diberlakukannya kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) cukup membuat shock therapy bagi segenap guru di seluruh penjuru tanah air. Bagaimana tidak, kegiatan belajar mengajar yang seyogyanya dilaksanakan tatap muka secara langsung tiba-tiba harus berpindah ke ranah dalam jaringan (daring). 

Tidak sedikit bagi para guru yang masih canggung menerapkan pola pembelajaran daring. Tak heran bila banyak siswa yang mengeluh karena bukan lagi pembelajaran daring namun penugasan daring tanpa pengantar atau penjelasan terlebih dahulu. Bukan saatnya lagi salah menyalahkan karena kondisi darurat dan serba mendadak.

Setidaknya sudah sekitar empat bulan pembelajaran daring kita rasakan. Serindu apapun kita ingin belajar mengajar di sekolah tatap muka belum boleh dilaksanakan. 

Apalagi sampai saat ini jumlah kasus positif Corona belum ada tanda-tanda grafik melandai, bahkan semakin naik. Empat bulan ini saya kira cukup bagi insan pendidik untuk belajar memahami kondisi yang ada. Apalagi dibukanya tahun ajaran baru yang masih menerapkan sistem “sekolah daring” memaksa guru untuk masuk kedalam dunia daring. Sudah terlanjur basah, sekalian masuk air dan berenang, kalau tidak bisa berenang ya latihan, tidak boleh takut air.. hehe

Peningkatan Kompetensi

Saya mengamati sejak diterapkannya sosial distancing oleh pemerintah, ada banyak sekali kesempatan bagi guru untuk meningkatkan kapasitas dirinya secara gratis. Webinar dan workshop online yang free tidak pernah sepi jika kita mau mencari. Seandainya secara streaming tidak memiliki banyak waktu biasanya rekaman dari webinar itu diunggah ke youtube penyelenggara. 

Rata-rata lebih senang dan lebih greget ikut webinar langsung dari pada yang hasil unggahan, selain bisa mengikuti sesi tanya jawab dengan narasumber biasanya diberikan sertifikat sekian jam yang di claim bisa untuk penilaian angka kredit. Menggiurkan bukan?

Tak dipungkiri jika antara bekerja di kantor itu sangat berbeda rasa dan hawanya ketika bekerja di rumah. Bekerja di rumah itu ada saja ada rasa malas yang hinggap dan sulit menghempasnya, malah kadang penyebutan WFH berubah menjadi libur. Hayo siapa yang pernah bilang libur? Hehe.. 

Sulit sekali membuat mindset rumah rasa kantor, agar dirumah tetap bisa bekerja layaknya di kantor. Saya sendiri dalam dua bulan terakhir tidak bisa terlalu fokus mengikuti webinar-webinar itu karena harus menjadi suami siaga dan sekarang punya bayi mungil yang sukanya mengajak begadang tiap malam. 

Okelah setiap diri kita punya alasannya masing-masing. Hanya saja yang selalu diingat adalah kita punya tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa. Pembelajaran daring adalah momentum bagi guru untuk mampu memenangkan pertarungan melawan rasa malas, rasa gaptek, rasa bodo amat, dan rasa-rasa lainnya yang membuat diri kita stagnan  atau bahkan mundur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x