Mohon tunggu...
Herry Gunawan
Herry Gunawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - seorang pemuda yang peduli

Saya seorang yang gemar fotografi dan travelling

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kuatkan Literasi, Penyusupan Radikalisme di Era Digital Semakin Masif

9 Juli 2022   09:16 Diperbarui: 9 Juli 2022   09:19 88 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Indonesia Satu - kompas.com

Adaptif, merupakan salah satu cara untuk bisa bertahan dalam kondisi apapun. Seekor bunglon, akan selalu merubah warna kulitnya, menyesuaikan kondisi sekitarnya untuk bisa bertahan dari serangan binatang lainnya. Cara bunglon ini dalam kehidupan manusia, juga seringkali diadopsi oleh manusia. Dan manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan adaptif yang cukup tinggi. Misalnya, ketika hidup di hutan, manusia pasti akan menyesuaikan dengan kondisi. Bahkan bisa mencari makanan di hutan, jika perseriaan makanan habis. Ini adalah contoh kemampuan adaptif.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan adaptif juga banyak dilakukan oleh kelompok, organisasi, ormas, atau yang lainnya. Di era digital, dimana teknologi informasi menjadi pengendali, banyak orang atau kelompok yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, untuk bisa menyebarkan paham radikalisme. Kemasannya pun juga disesuaikan dengan perkembangan zaman, agar bisa diterima oleh masyarakat. Disinilah kewaspadaan terus ditingkatkan. Bagaimana caranya? Dengan literasi.

Literasi adalah kunci dalam menghadapi era digital seperti sekarang ini. Dengan literasi kita bisa memilah dan menyeleksi, mana informasi yang benar mana yang hoaks. Dengan literasi kita bisa memahami agama tidak hanya secara arti, tapi juga dari konteksnya. Dengan demikian kitab isa bisa melihat segala sesuatunya secara utuh dan tidak sepotong. Karena yang terjadi saat ini, seringkali kelompok radikal mendistorsi nilai-nilai keagamaan, yang membuat pemahaman masyarakat akan agama menjadi sepotong-sepotong.

Dengan literasi, kita juga bisa mengerti mana lembaga yang benar dan mana yang tidak. Karena saat ini banyak sekali lembaga, komunitas atau apapun itu namanya, muncul di tengah masyarakat atau dunia maya, mengantasnamakan bagian dari pengusung nilai-nilai agama. Segala aktifitas yang keluar didasarkan untuk mendapatkan ridho Allah. Padahal, tanpa disadari semuanya itu merupakan 'topeng' untuk menutupi ideologi radikal yang mereka usung.

Sebut saja seperti HTI, organisasi pengusung khilafah yang seringkali menyebar di kampus-kampus, tidak mau dikatakan radikal. Sementara mereka terus menyebarkan paham radikalisme ke mahasiswa, dosen bahkan rektor. Sekilas orang tidak percaya, ketika HTI disebuat sebagai organisasi pengusung khilafah. Pemerintah akhirnya membubarkan organisasi ini. Begitu juga dengan FPI, yang beberapa waktu lalu juga dibekukan pemerintah. Memang tidak terlibat dengan jaringan terorisme, tapi perilakunya cenderung intoleran, yang memicu menguatnya bibit radikalisme di tengah masyarakat.

Beberapa waktu lalu, PPATK menemukan adanya dugaan aliran dana dari ACT menuju ke jaringan terorisme internasional. Hal merupakan salah satu contoh lagi, bahwa jaringan radikalisme dan terorisme, terus melakukan metamorfosa dan menyusup ke berbagai lini kehidupan masyarakat. Terlebih era digital ini memudahkan provokasi dan propaganda yang mereka lakukan. Bahkan dalam proses regenerasi dan pendanaan pun, dilakukan secara terbuka melalui dunia maya.

Jika masyarakat mempunyai literasi yang kuat, tidak akan mudah terpengaruh dengan provokasi kelompok-kelompok radikal yang terus bermetamorfosa tersebut. Mari introspeksi, berpikir terbuka, jangan merasa paling benar dan eksklusif. Tujuannya agar kita bisa obyektif, lebih adaptif, lebih menghargai satu dengan lainnya. Salam toleransi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan