Mohon tunggu...
Herfan Brilianto
Herfan Brilianto Mohon Tunggu... Lainnya - "Vision without realism is just a delusion."

"Vision without realism is just a delusion."

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jalan Berliku Indonesia Menjadi Anggota G20

15 November 2022   17:42 Diperbarui: 16 November 2022   11:36 1525
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Perdebatan sengit kemudian terjadi di G7 antara negara yang menginginkan agar G7 diperluas dengan melibatkan negara-negara emerging yang semakin penting dalam konstelasi global, dengan negara-negara yang mengkhawatirkan efektivitas pembahasan akan berkurang apabila semakin banyak pihak yang diundang. Terdapat juga negara yang mengkhawatirkan berkurangnya pengaruh internasional mereka apabila forum yang lebih luas terbentuk.

Salah satu pihak yang paling mendukung forum yang lebih inklusif adalah Menteri Keuangan Kanada saat itu, Paul Martin (yang kemudian menjadi Perdana Menteri Kanada 2003–2006). Paul Martin mencoba meyakinkan para menteri keuangan G7 bahwa berbagai krisis keuangan memperlihatkan perlunya penerapan standar internasional dalam sistem keuangan yang tidak hanya terbatas pada G7 namun harus diperluas kepada negara-negara lain yang semakin terkoneksi sistem keuangannya dengan G7.

Masalah utamanya, menurut Paul Martin, adalah bahwa negara-negara lain tidak akan mendengarkan apabila G7 mencoba mendikte mereka untuk mengikuti standar internasional tersebut. Negara-negara emerging itu harus diajak bicara dan ikut berperan menentukan prinsip-prinsip dan standar internasional agar mereka mau bergabung dalam standar tersebut. Lebih baik lagi bila negara emerging yang diajak bergabung adalah mereka yang memiliki peran sebagai pemimpin regional di kawasannya sehingga penerapan standar internasional akan terjadi secara lebih luas

Paul Martin menjadi pihak yang paling bertanggung jawab bagi pembentukan G20. Dia bergerilya menghubungi satu demi satu anggota G7 dan mencoba meyakinkan mereka.

Bahkan setelah negara-negara G7 akhirnya setuju akan perlunya forum yang lebih luas. Masalah selanjutnya adalah - siapa yang harus diundang? Isu ini sangat sensitif secara politis sehingga negara-negara G7 menyerahkan kepada Paul Martin untuk menyusun daftar negara-negara yang diusulkan untuk diundang sebagai anggota forum yang baru tersebut.

Hanya sehari setelah pertemuan kedua forum G33 di Washington DC, pada 27 April 1999 Paul Martin berkunjung ke kantor Lawrence Summers, Menteri Keuangan Amerika Serikat yang baru. Mereka berdiskusi mengenai kegagalan G33 dan perlunya forum baru yang lebih efektif namun juga inklusif. Mereka sama-sama mendukung forum yang lebih luas dari G7 namun tidak boleh sebanyak G33. Walaupun Paul Martin awalnya mengusulkan agar G-X, forum baru ini beroperasi sebagai forum kepala negara seperti G7, dia akhirnya menerima bahwa kondisinya belum memungkinkan sehingga forum ini harus dicoba terlebih dahulu di tingkat menteri keuangan dan gubernur bank sentral.

Perdebatan panjang terjadi ketika menentukan negara mana yang harus diundang. Lawrence Summers mengambil sebuah amplop cokelat besar berisi surat di mejanya, lalu meletakkannya di hadapannya di antara dirinya dan Paul Martin. Mereka lalu menuliskan di halaman belakang amplop satu demi satu nama negara yang muncul dalam pikiran mereka, dan mendiskusikan pro dan kontra negara itu sebagai calon anggota G-X.

Mereka saling berargumen, mencoret nama sebuah negara dan menambahkan yang lain. Demikianlah, kedua menteri keuangan itu tanpa mereka sadari telah menyusun blueprint tata pemerintahan dunia selama beberapa dekade ke depan di sehelai amplop cokelat.

Beberapa hal mengemuka dalam diskusi mereka. Prinsip utama yang menjadi baseline adalah perlunya memastikan keterwakilan setiap kawasan dalam forum baru tersebut, dan bahwa setiap kawasan harus diwakili oleh negara yang menjadi kekuatan ekonomi regional.

Setelah memasukkan semua negara anggota G7, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, Perancis, Jepang, dan Itali, kedua orang itu lalu memasukkan beberapa negara yang secara kasat mata memang telah menjadi kekuatan regional saat itu: Russia, China, India, Brazil, Meksiko. Afrika Selatan sebagai ekonomi terbesar di benua Afrika juga menjadi pilihan yang jelas.

Namun diskusi setelahnya menjadi lebih alot dan prinsip geopolitik lebih mengemuka. Khususnya mengenai kapasitas sebuah negara untuk berperan di kawasannya. Sama sekali tidak dibahas mengenai ukuran GDP calon anggota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun