Mohon tunggu...
Hera Veronica Sulistiyanto
Hera Veronica Sulistiyanto Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pengamen Jalanan

Pecandu Senja | Pemabuk Puisi | Penikmat Kopi | Pemahat Aksara | Pecinta Musik Cadas 😎🤘 | Penggila SASTRA

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Dendam Tersulut Berujung Maut

10 Desember 2021   07:22 Diperbarui: 10 Desember 2021   07:41 200 23 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Source : Knife@Pinterest.com

Dendam Tersulut Berujung Maut

Sebilah belati berlumur getih
masih berada di dalam genggaman
selepas menikam membabi buta
tepat mengenai jantung lelaki durjana
yang hedak merudapaksa

Lelaki itu pun kemudian
tumbang dan terkulai
dengan tubuh bersimbah darah segar
selepas meregang nyawa
sesaat menggelepar lalu diam

Tak bergerak sama sekali
posisi tubuh tertelungkup
dengan getih basahi lantai
lantaran berondong luka tikam
bersarang pada tubuh

Sang perempuan memekik
dengan wajah tegang
teramat ketakutan
deru nafas memburu serta
tubuhnya terguncang hebat

Oleh sebab tak di sangka tak di nyana
lantaran ia mendapati diri
menjelma sang pencabut nyawa
yang tak kenal belas kasihan
terus menghujam belati

Di tengah sayup-sayup rintih
lagi penuh menghiba
sisi manusiawi seakan lenyap
dibakar dendam kesumat
serta amarah tumpah ruah

Sang perempuan tertegun
seraya menangis terisak
menatap tapak lengan
terpercik getih nan anyir
dihempaskannya sebilah belati

Sejauh mungkin hingga
terpelanting dengan bunyi denting
tak ada penyesalan atas kematian
yang ada hanya pijar bara angkara
yang kadung membakar rongga jiwa

Sebilah belati berlumur getih
dan ceceran merah darah
adalah wujud benci dan amarah
yang tersulut berujung MAUT!!!

***
Hera Veronica Sulistiyanto
Jakarta 10/12/20211

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan